Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 62.CEMBURU


__ADS_3

Willi begitu emosi, sampai wajahnya terasa panas.


Dia begitu membenci saudara seayah nya itu.


Yang tadi nya antara Vivian dan Willi seperti baik-baik saja. Berubah dingin ketika Vivian menghubungi nomor Jeremy.


Tanpa bicara lagi, Willi langsung membuka nomor yang di gunakan untuk menghubungi Jeremy tadi.


Dia buka pintu kaca mobil dan membuangnya.


Vivian terperangah atas apa yang di lakukan Willi.


"Kenapa harus di buang? Dia kan bisa memblokir nomor Jeremy! " batin Vivian.


Tak ingin bertanya lebih jauh, diam adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan diri.


"Robby nanti jangan lupa, belikan aku kartu yang baru! " minta Willi.


"Baik tuan! " jawab Willi tak mengerti.


Ketika mereka berada di kota.


"Tuan, aku turun di sini saja. Aku bisa naik taksi! " pinta Vivian.


Robby melirik dari kaca depan, berharap Willi memberi jawaban.


Karena tidak ada respon dari Willi. Maka Robby tidak berani menuruti apa yang di minta oleh Vivian.


Karena saat itu baju yang di kenakan oleh Willi adalah baju rumahan. Tidak mungkin dia ke perusahaan dengan pakaian biasa.


"Robby, kita singgah sebentar ke butik! " minta Willi.


"Baik tuan! " jawab nya.


Tak jauh dari, sudah terlihat butik besar.Dan sepertinya hanya kalangan orang atas saja yang mampu belanja disana.


"Kamu turun, dan pilih pakaian yang pas buat ku! " Willi menyodorkan kartu berwarna hitam kepada Vivian.


Awal Vivian ragu untuk menerima nya, tapi itu bukan lah sesuatu yang susah. Dia buka pintu mobil dan beranjak menuju butik.


Seorang wanita menyambut kehadiran Vivian dengan senyum ramah.


"Selamat datang nona! " sapa nya.


Vivian membalas senyuman itu dengan senyuman juga.


Vivian berjalan melihat-lihat pakaian yang pas untuk Willi.


Dia melihat sebuah kemeja biru muda polos.


Seorang pekerja butik tersebut mendekat.


"Ini keluaran terbaru nona! Apakah suami anda yang ingin memakainya? " tanya pekerja butik.


Vivian menoleh ke wanita disebelahnya.


"Suami?" tanya Vivian balik.


"Ya, suami anda! " wanita itu mengulangi kata-katanya.


Vivian hanya tersenyum.


"Apakah aku layak dikatakan bersuami?Padahal dulu kamu hanya nikah kontrak! "batik Vivian.


" Tidak, ini untuk teman saya. Dia lagi ulang tahun! " jelas Vivian.

__ADS_1


"Wah, anda pandai sekali memilih kado nya. Dia pasti suka dengan pilihan anda nona! " ucap wanita pekerja itu.


Vivian hanya tersenyum kecut, karena baju akan dipakai oleh lelaki yang pernah menjadi suami nya.


Setelah mendapat baju, dia kembali berjalan mencari celana dan dasi.


Tidak ingin berlama-lama, Vivian mengambil warna apa saja yang ukuran nya pas untuk Willi.


Di kasir, Vivian menyerahkan kartu sakti berwarna hitam.


Pakaian itu di masukkan dalam sebuah paperback. Ketika Vivian ingin melangkah pergi.


"Maaf nona!" panggil petugas kasir.


Langkah Vivian terhenti dan pandangan nya lurus ke wanita kasir.


"Apakah tidak sekalian dengan jas nya? " tanya petugas kasir.


Vivian terdiam, dia hampir lupa dengan satu itu.


Dia pun buru-buru mencari bagian jas di gantung.


Setelah melihat, pilihan nya jatuh pada warna abu muda dan terlihat slim.


Vivian kembali mengeluarkan kartu hitam sakti. Merasa tidak ada lagi yang kurang. Vivian segera pergi menuju mobil.


Ketika di dalam mobil.


"Kenapa kamu lama sekali? " tanya Willi.


"Aku masih melihat dan memilih-milih. Kalau saja aku sembarang pilih mungkin tuan tidak akan suka! "


Vivian menyerahkan paperback itu pada Willi.


Vivian mengenyampingkan pandangan nya agar tidak melihat tubuh Willi yang hanya mengenakan dalaman saja.


"Kenapa kamu harus buang muka, bukankah kamu sudah puas melihatnya tadi malam? " pertanyaan Willi membuat Vivian merasa kan wajahnya panas.


Robby yang duduk di kursi depan,menahan senyuman nya.


"Cepat lah tuan pakai baju nya! " ucap Vivian mengalihkan perhatian.


"Sudah siap! " ucap Willi.


Dan Vivian pun meluruskan duduknya. Tapi ternyata Willi berbohong, memang baju sudah dia pakai tapi tidak dengan celananya.


Vivian kembali mengalihkan pandangannya.


Willi tersenyum puas mengerjai Vivian.


Dia berusaha memakai celana itu didalam mobil. Karena badannya yang tinggi, memakai celana didalam mobil membuatnya sedikit kesusahan.


Mobil terasa bergoncang, orang-orang yang melihat dari luar hanya terperangah dan tersenyum.Ada juga beberapa yang mengabadikan penampakan itu dengan ponsel.


"Tuan, bisa lebih cepat tidak? Lihat lah, orang-orang memperhatikan! " ucap Vivian.


"Biarkan saja mereka, apa pedulinya! " celetuk Willi.


Merasa tidak ada lagi goncangan, Vivian perlahan mengalihkan pandangan pada Willi.


Dan benar saja, Vivian sudah terlihat semakin tampan dengan balutan pakaian yang di pilihkan oleh Vivian tadi.


"Ayo kita jalan! " ucap Willi.


Robby kembali menghidupkan mesin. Mereka pun menuju apartemen Liana untuk mengantarkan Vivian.

__ADS_1


Setelah sampai disana, Vivian melihat mobil Jeremy terparkir.


"Apa Jeremy didalam? " batin Vivian sambil keluar dari mobil.


Willi pun menyusul keluar dari dalam mobil.


"Emm, tuan! Mungkin tuan masih banyak pekerjaan lainnya. Saya cukup di antar sampai sini saja! " ujar Vivian.


Willi menaikkan sebelah alisnya. "Tidak apa-apa, aku masih memiliki banyak waktu untuk bersama mu!" jawab Willi.


"Aduh , bagaimana ini. Andai mereka berjumpa nanti bisa ribut! " Vivian menggigit bibir bawahnya.


Melihat gelagat Vivian, Willi tahu apa yang ada di fikiran wanita nya itu.


"Sudah, ayo jalan. Aku mau melihat anakmu! " ucap Willi.


Mata Vivian melihat wajah Willi.


"Anak ku! Apakah dia tidak tahu itu anaknya? " batin Vivian.


Melihat Vivian terdiam, Willi menarik tangan wanita itu menuju apartemen Liana.


Vivian gelisah, jika mereka berdua berjumpa pasti akan terjadi keributan. Awal bertemu saja, sikap Willi sudah menunjukkan ketidak sukaan pada Jeremy.


"Maaf tuan, sampai sini saja.Aku yakin jam segini Alfa masih tidur. " alasan Vivian.


Willi melihat jam tangannya.


"Siang begini dia belum bangun? " tanya Willi tak percaya.


"Ya, dia biasanya tidur jauh malam. Dan bangun siangan! "


Willi tak percaya.


"Ting tong. "


Willi menekan bel pintu.


"Ceklek! " pintu dibuka dari dalam.


Dan yang pertama sekali terlihat adalah wajah Jeremy.


Willi pun terpaku ditempat. Dia tak percaya bahwa Jeremy ada disana.


"Kenapa kamu ada disini? " tanya Willi sembari melangkah masuk.


Jeremy melangkah mundur.


Vivian berusaha menahan tubuh Willi, tapi dia tidak memiliki kekuatan untuk menghadang lelaki itu.


"Aku bisa jelaskan!" sentak Vivian.


Pandangan Willi tertuju pada Vivian. Dia sudah menunggu apa yang ingin Vivian jelaskan.


"Jelaskan sekarang juga! " minta Willi.


Jeremy hanya memandang tidak mengerti dengan dua insan yang baru datang tersebut.


"Bisa tidak kalian jangan ribut disini, kasian Alfa dia baru saja tertidur setelah semaleman mencari mamanya! " jelas Jeremy.


Vivian menarik tangan Willi untuk duduk dikursi.


"Duduk lah, agar aku bisa menjelaskan! "


Willi terlihat tenang, tapi pandangan nya tak putus dari adik tiri nya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2