
7 bulan berlalu dari waktu perjanjian.
Kehadiran Vivian dirumah keluarga Hudson sikit banyaknya membuat Willi memiliki alasan untuk kembali.
Hari ini,sebelum pulang kerumah. Willi singgah kesebuah toko yang terlihat mewah. Sudah pasti yang masuk kesana adalah orang-orang yang berduit.
Dia memilih-milih beberapa gaun, setelah melihat-lihat dia tertarik pada sebuah gaun indah yang tapi tidak terlihat mencolok mata.
"Saya ambil ini! " ucap Willi.
Ketika sampai dirumah,mendengar suara mobil. Vivian keluar dari kamar dan turun ke bawah.
Disana dia melihat Willi membawa paperback.
Seperti biasa, Willi terlihat biasa saja ketika di hadapan Vivian.
"Ambillah, pakai nanti malam! " ucap Willi tiba-tiba.
"Ini untuk apa? " tanya Vivian.
"Nanti malam ada undangan dari perusahaan . Kamu siap-siap! " Willi melangkah meninggalkan Vivian menuju kamar atas.
Saat malam , Vivian memakai gaun itu. Tidak lupa memoles pipinya dengan makeup sehingga memancarkan kecantikannya yang sesungguhnya.
Willi yang sudan siap lebih dulu, memilih menunggu di bawah.
Vivian sudah menuruni tangga,Willi yang berdiri, terpana dengan pemandangan di depan nya.
Jantung nya seakan ingin melompat keluar. Semenjak Vivian tinggal bersamanya. Willi selalu merasakan lonjakan didalam dada nya ketika melihat Vivian.
Tapi selama 7 bulan ini, tidak sedikit pun Vivian menunjukkan sikap suka kepada Willi.
Willi beranggapan bahwa Vivian mau tidur bersamanya karena kebutuhan batin saja.
"Ayo kita berangkat! " ajak Vivian.
Mereka pun berangkat, tidak lupa Robby yamg pasti akan jadi supirnya.
Tidak dipungkiri, Robby juga merasa bahwa Vivian itu wanita yang cukup cantik. Kulit putih bersih, tinggi semampai dan langsing.
Laki-laki mana yang tidak tertarik.
Mereka pun tiba disebuah perusahaan yang masih berjoin dengan perusahaan Hudson.
"Wah, selamat datang tuan Willi! "sambut seorang lelaki paruh baya bernama Jones.
Willi terlihat biasa saja, mata lelaki paruh baya itu menangkap ada sesuatu yang berbeda pada Willi malam ini.
" Ini..? "tanya laki-laki paruh baya itu.
"Ini... " Willi terlihat bingung ingin menjawab apa.
Karena semua orang mengetahui bahwa dia belum pernah menikah.
"Ini, teman wanita saya! " jawabnya singkat.
Vivian menoleh pada Willi "Vivian! " mengenalkan diri.
"Silahkan dinikmati acara nya! "ucap Jones pandangannya genit pada Vivian.
Willi memperhatikan itu, dia menarik tangan Vivian dengan kasar.
" Tuan, sakit! " ucap Vivian pelan.
"Apa kamu suka dilihatin orang seperti tadi? " tanya Willi seperti cemburu.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud mencari perhatian.! " Vivian memelas.
Karena ini perusahaan besar, maka yang datang sudah barang tentu bukan hanya dari satu negara saja. Tapi juga berasal dari beberapa negara tetangga lainnya.
Willi melihat seorang teman bisnisnya,tanpa fikir panjang dia meninggalkan Vivian yang sedang berdiri di samping meja yang menyediakan makanan .
Vivian bingung apa yang harus dia buat. Sendirian tanpa mengenal siapapun kecuali Willi. Tapi dia sudah sibuk dengan teman-teman seprofesi dengan nya.
Melihat makanan dan kue yang beraneka ragam. Vivian mengambil satu persatu makanan yang menurutnya enak.
Ketika ingin mengambil sebuah cake kecil, seseorang dari kanan mengambil cake yang sama juga.
Vivian menghentikan tangannya "Silahkan! " ucap Vivian pada wanita disebelahnya.
"Terima kasih! " balas wanita itu.
Mereka sama-sama melemparkan senyum.
"Natasya! " panggil seseorang.
"Sebentar! Saya permisi dulu! " wanita itu permisi dan pergi meninggalkan Vivian.
Vivian berjalan ke balkon sambil membawa piring kecil yang berisi cake tadi. Tak lupa segelas anggur.
Di kejauhan, terlihat seorang lelaki sedang menatapi Vivian.
"Seperti Vivian, aku samperin saja! " ucap Romie.
"Hai! " sapa Romie yang hampir mengejutkan wanita itu.
"Eh, hai! Kamu kenapa ada disini? " tanya Vivian.
"Seperti biasa, mama tidak dapat hadir jadi saya yang menggantikannya! " jawab Romie.
"Kamu mau! " Vivian menyodorkan piring cake nya.
"Aku tidak sendiri, tuh! " Vivian menunjuk Willi dengan bibir manyun nya.
"Tadi aku hampir tidak mengenalmu., karena kamu begitu cantik dan bahkan paling cantik diantara semua yang hadir.! " Romie merayu istri orang.
Vivian tersipu malu menyelipkan rambut ditelinganya.
Perbincangan itu tidak luput dari mata seseorang yang terlihat tidak senang.
Willi yang tengah berbicara pada teman nya memperhatikan kedekatan Romie dan Vivian.
"Romie! " batin Willi.
Setelah selesai berbicara dengan teman nya, Willi berjalan mendekati Vivian dan Romie.
Willi melingkarkan tangan nya dipinggang Vivian. Kehadiran nya yang tiba-tiba sontak saja membuat pembicara Vivian dan Romie terhenti.
Senyum Vivian seketika hilang.
"Romie! " sapa Willi.
Romie hanya tersenyum "Willi! "
"Sama siapa? " tanya Willi.
"Sendiri! "
"Tante mana? " tanya nya lagi semakin mengeratkan pegangan nya.
"Mama tidak bisa datang, aku yang gantiakan! "
__ADS_1
"Aku permisi dulu, mau menemui teman! " Romie beralasan dan melangkah meninggalkan mereka berdua.
Setelah dia pergi, Willi melepaskan tangan nya dari pinggang Vivian.
"Sejak kapan kamu akrab? " pandangan Willi seakan menusuk.
"Kami tidak seakrab itu, tidak sengaja saja! " jawab Vivian takut.
"Atau kalian memang sudah mengenal lebih jauh dibelakang ku? " ada nada tak sedap dalam ucapan Willi.
Vivian memandangi Willi "Ingin ku cakar saja wajah mu itu! " batin Vivian.
Tidak ingin berlama-lama, Willi menarik tangan Vivian. Sehingga jalannya tak seimbang dan membuat nya terjatuh.
"Auu! " Vivian kesakitan.
Willi melepaskan cengkraman nya, iya tak menyangka bahwa perbuatannya membuat Vivian menderita.
Vivian berusaha bangkit, dan ketika Willi mengulurkan tangan nya. Ada sebuah tangan lain yang langsung membantu Vivian berdiri.
"Kamu tidak apa-apa? " tanya Romie.
Willi menurunkan tangan nya, gerahamnya hampir saja membuat rahangnya patah.
"Apa maksud orang ini? " batin Willi.
"Terima kasih sudah membantu istri ku! " Willi memperjelas posisi Vivian.
"Ayo kita pergi! " ajak Vivian menarik tangan Willi.
Mata nya memandang tajam seperti elang yang siap menerkam. Tapi Vivian cepat berlalu , dia sudah menangkap angin yang tak sedap.
Jalan pulang.
"Apa hubungan mu dengan Romie? " Willi masih sedikit lembut.
"Seperti tuan lihat! " jawab Vivian ringkas.
Vivian merasa ingin marah, dan memberikan tinju terbaiknya setelah melihat perlakuan Willi tadi.
"Yang ku lihat, kalian seperti ada hubungan lain! " ujar Willi.
Vivian menyeringai "Kalau tuan berpendapat seperti itu. Mungkin juga! " Vivian semakin membuat Willi emosi.
Vivian berusaha untuk tidak memandang wajah Willi. Dan tenyata itu membuat nya semakin marah.
Dengan paksa Willi meraih dagu Vivian dan mengarahkan nya ke hadapan.
"Aku tidak suka berbicara di belakangi! " ucap Willi.
"Apa yang ingin anda cerita kan? " Vivian semakin berani nenantang.
Karena Vivian yang keras kepala, tiba-tiba Willi mencium bibir Vivian dengan paksa dan kasar.
"Tuan, tolong lepas kan! " Vivian berusaha melepas cengkraman tangan Willi dari wajahnya.
Tapi tak berhasil.
Willi terus saja memaksa Vivian dan menggigit bibir wanita itu.
Vivian mendorong dada nya sekuat tenaga. Setelah puas Willi pun melepaskannya.
"Kamu harus ingat bahwa kamu adalah milik ku! " ucap Willi mengingatkan.
Vivian menangis tersedu "Aku hanya istri kontrak mu, dan sebentar lagi juga kita akan berpisah! " Vivian membalas ucapan Willi.
__ADS_1
Willi memandang wajah Vivian yang berurai air mata. Melihat bibir Vivian berdarah, Willi tersadar dia sudah berlaku kasar pada wanita itu.