
Willi yang melihat perlawanan dari wanita itu, tidak sampai hati juga.Mau tidak mau pada akhirnya dia harus keluar juga dari mobil.
Willi menghampiri mobil yang berada didepan nya. Segera membuka pintu.
"Tolooonggggg...! " teriak Vivian berusaha lepas dari cengkraman lelaki itu.
Seketika pintu mobil terbuka. Vivian terkejut, karena seseorang menarik bahunya dari belakang. Berusaha membantu nya terlepas dari laki-laki buaya yang berada di bawah tubuhnya.
Setelah Vivian terlepas, dia menangis tersedu-sedu.
Willi yang merasa emosi melihat lelaki buaya tersebut, memberikan beberapa pukulan bertubi-tubi.
Merasa puas, Willi menarik paksa tangan Vivian menuju kedalam mobilnya.
Didalam mobil, Vivian hanya bisa tersedu-sedu. Setelah sedikit tenang, dia baru menyadari bahwa lelaki yang menyelamatkan nya adalah bos dari perusahaannya.
"Tuan Willi...! " ekpresi Vivian seakan tidak percaya.
"Apa yang kamu lakukan bersama lekaki buaya seperti itu.?" tanya Willi dengan wajah dinginnya.
"Apa kamu memiliki kerja sampingan lainnya.? " tanya Willi lagi.
Vivian hanya bisa terdiam, sambil mengusap air matanya.
Tanpa mendapat jawaban , Willi menghidupkan mesin mobilnya dan segera melesat pergi. Disepanjang perjalanan, tiada percakapan. Hanya dua manusia yang saling diam tanpa kata.
"Kamu di antar kemana? " tanya Willi.
"Saya kerumah sakit HARAPAN saja tuan..! " jawab Vivian.
Willi kembali teringat, setelah sebelumnya melihat Vivian dirumah sakit itu.
Mereka tiba di depan rumah sakit. Vivian segera membuka pintu, sebelum keluar "Terima kasih tuan atas bantuan nya. " ucap Vivian.
Tanpa membalas ucapan wanita itu, Willi terus jalan meninggalkan Vivian yang masih berdiri melihatnya dari kejauhan.
Vivian menghapus sisa air matanya, dan berjalan menuju kedalam rumah sakit.
Ketika tiba di kamar rawat mama nya. Vivian mencium lembut kening mamanya. Serta memeluk tangan lemah yang terbaring di atas ranjang.
"Ma, kenapa cobaan ini terlalu berat. Apa aku sanggup untuk menjalaninya? " keluh Vivian sambi menyandarkan kepalanya ke atas ranjang.
Tanpa iya tahu, ternyata mama nya mendengar apa yang iya ucapkan. Air mata mengalir membahasi ekor matanya.
"Anak ku harus kuat, Tuhan tidak akan memberi cobaan di atas kemampuan manusia..! " batin mamanya.
Vivian terlelap di tangan mama nya.
Setelah mengantarkan Vivian, Willi langsung kembali kerumah.
Ketika digerbang depan, security sudah mengenali mobil tuan nya langsung membuka pintu.
__ADS_1
"Malam tuan..! " sapa Security.
Willi hanya mengangkat kedua alisnya tanpa bicara.
Setelah memarkirkan mobilnya, Willi masuk sembari menenteng jas nya. Dia berjalan menuju tangga.
"Tuan Willi..! " panggil asisten nya Pak Im.
"Ada apa pak? " tanya Willi.
"E.. Tadi tante Rose datang dan mencari tuan! " ucap Pak Im.
"Baiklah..! " Willi menjawab singkat dan melanjutkan langkahnya.
Pak Im yang sudah mendapatkan jawaban tak jelas langsung melangkah menuju kamar nya. Karena jam sudah tengah malam.
Didalam kamarnya, Willi berendam di dalam bathtub. Mandi air hangat untuk menenangkan fikirannya setelah seharian bekerja.
Setelah selesai, dia mengenakan handuk sepinggang. Dan mengambil baju untuk dia kenakan.
Setelah mengeringkan rambutnya, Willi merebahkan tubuh lelahnya. Hanya hitungan detik, dia pun tertidur.
Matahari pagi menyapa umat di bumi. Cahaya nya menembus dari sela-sela jendela. Vivian terbangun dari tidur nya.
"Mama sudah bangun? " tanya Vivian pada Mama nya yang sudah bangun lebih dulu.
"Kamu tidak kerja hari ini? " tanya mama nya dengan suara parau.
"Tidak tahu ma..!" jawab Vivian malas.
Vivian bangkit dari duduk nya "Baiklah ma, Vian pergi dulu..! " ucap Vivian..
"Begitu dong anak mama..! " ujarnya.
Vivian pergi keluar dari kamar mamanya. "Moga-moga hari ini semua berjalan baik-baik saja.! " minta Vivian.
Sebelum berangkat ke kantor, Vivian sempatkan untuk pulang kekosan. Setelah sampai,dia membuka pintu dan masih ada Liana disana.
"Kamu belum berangkat kerja..! " kedua mereka saling melontarkan pertanyaan yang sama.
"Hahahah..! " mereka tertawa bersama.
"Aku mau mandi dulu..! " jawab Vivian.
"Eh Vi, ngomong-ngomong siapa laki-laki yang ada di sini kemarin? " tanya Liana.
"Kamu mau tau saja..! " ucap Vivian sembari menuju kamar mandi.
"Aku serius, siapa dia? Wajahnya terlihat tampan dan sepertinya bukan orang biasa.! " ucap Liana.
Vivian yang sudah berada di dalam kamar mandi tidak menjawab pertanyaan teman nya itu.
__ADS_1
Setelah Vivian selesai, Liana kembali mendekatinya. "Hei, jawab dong. Dia pacar mu ya..? " Liana semakin penasaran.
"Dia bukan pacarku Na, dia bos tempat aku bekerja! " jelas Vivian.
Mata Liana terbelalak tidak percaya "Masak iya seorang bos besar ..." Liana tidak melanjutkan ucapannya.
"Ah sudah lah, gara-gara melayanimu bisa telat aku..! " celetuk Vivian.
"Aku juga takut ketinggalan..!" Liana buru-buru merapikan makeup nya.
Setelah kedua nya selesai, Vivian dan Liana bersama-sama menuju halte bus. Karena jarak yang tidak terlalu jauh, mereka tidak perlu terburu-buru saat berjalan.
Di halte sudah terlihat ramai orang menunggu. Ada yang duduk dan banyak juga yang berdiri.
"Wah, kita terlambat. Orang-orang sudah pada ramai..! " ucap Liana.
"Kalau bus sudah sampai terobos saja..! " ujar Vivian.
"Nanti kamu bantu ya! " ucap Liana dengan wajah serius.
"Sipppp..! ' Vivian mengacungkan jempolnya.
Dan benar saja, saat bus datang. Orang-orang terlihat sibuk, saling mendorong satu sama lain. Liana dan Vivian bekerja sama agar bisa menerobos kerumunan orang yang berdesakan.
Dan pada akhirnya mereka bisa masuk lebih dulu dan mendapatkan bangku untuk berdua.
"Kalian berdua, anak-anak tidak ada sopan nya sama orang tua. Harusnya tempat duduk untuk yang lebih tua..! " ucap seorang wanita paruh baya dengan marah-marah.
Liana dan Vivian saling berpandangan "Maaf tante, tante tidak terlalu tua kok. Masih tua ibu saya yang dirumah! " jawan Liana.
Mendengar ucapan Liana, beberapa orang tertawa. Si ibu tadi terlihat marah, dan wajah nya merah seperti kepiting rebus.
Karena malu, dia pun berhenti bersuara. Dan berdiri jauh dari bangku Liana dan Vivian.
Bus berhenti disetiap halte dan orang-orang silih berganti naik dan turun.
Setelah tiga puluh menit, Vivian tiba dihalte depan perusahaan nya.
"Aku duluan ya..! " ucap Vivian pada Liana.
"Bye..! " ucap Liana.
Setelah turun, Vivian menoleh kekiri dan kekanan. Setelah memastikan sesuatu dia buru-buru berlari kecil menuju perusahaan.
"Selamat pagi. " security menyapa.
"Selamat pagi pak..! " balas Vivian.
Vivian sudah berada didepan lift, di dalam lift orang sudah terlihat ramai. Vivian menerobos masuk.
"Ting... ting.... ting...! " siara lift berbunyi karena kapasitas berlebih.
__ADS_1
"Siapa yang baru masuk, keluar dulu dong..! " ucap beberapa orang yang sudah lebih dulu masuk.
Vivian merasa malu, melangkah keluar dari lift. Dan akhrinya lift sudah tidak berbunyi lagi.