Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 17.PINDAH DADAKAN


__ADS_3

Hari sudah sore, Vivian bersiap-siap untuk pulang. Belum sempat melangkah keluar pintu, dia dikejutkan oleh sosok Robby yang sudah berdiri didepan pintu.


"Astaga..! " reflek Vivian terkejut.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau aku mati jantungan? " bentak Vivian tanpa fikir panjang.


Robby tersenyum puas mendengar Vivian marah karena kaget. "Maaf Nona, Tuan Willi sudah menunggu di bawah.! " ucap Robby.


"Kenapa dia menunggu ku, aku bisa naik bus saja..! " jawab Vivian culas.


"Ya Tuhan, apa wanita ini memang tercipta sedari benih sudah seperti ini..! " rutuk Robby dalam hati.


"Saya tidak tahu nona, tuan memerintahkan saya memanggil nona saja." jawab Robby menahan gemeretak gigi nya.


"Baiklah, ayo kita pergi..! " ajak Vivian.


Mereka berjalan berdua , dan beberapa orang yang belum sepenuhnya pulang melihat kedekatan Robby dan Vivian. Itu bukan hal yang biasa. Karena mereka tahu, Robby bukan lah sosok yang mudah untuk di taklukkan.


Di luar mobil "Kenapa kalian lama sekali, apa kalian sengaja membuat ku menunggu..! " gerutu Willi.


"Maaf tuan, tadi ada sedikit masalah! " jawab Robby agar Willi tidak semakin cerewet.


Vivian merasa bingung "Masalah apa maksud mu, rasanya dari tadi tidak ada apa-apa.! " ucap Vivian dengan polosnya.


Robby hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan amarah karena kelemotan Vivian.


"Masalah apa sebenarnya Robby..? " tanya Willi jadi serius.


"Tidak ada apa-apa tuan, sebelum ketemu nona Vivian tak sengaja saya menabrak orang! " jelas Robby mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, ayo kita jalan! " ajak Willi.


Robby membuka pintu untuk Vivian, dia pun masuk.


"Mulai malam ini, kamu tidur dirumah ku! " ucap Willi.


Vivian tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kenapa harus tinggal serumah. Kalau memang tuan butuh bantuan, kan bisa panggil saya kapan saja! " ucap Vivian.


"Apa kamu lupa isi perjanjian sebelumnya. Apa perlu kepala mu dibedah agar tidak lupa! " suara Willi mengeras.


Robby menelan ketawa nya, karena bukan hanya dia yang menghadapi keleletan Vivian. Willi juga sama emosi nya.


"Ooo, saya ingat sekarang. Isi perjanjian itu ya..!" pungkas Vivian.


Willi mengurut keningnya yang kesal karena Vivian. Matanya memejam, karena menaham emosi yang hampir meledak.


"Vivian, apa kamu selalu seperti ini? " tanya Willi.


"Maksudnya apa tuan? " Vivian memandang dengan lugu.


"Ah sudah lah, pembicaraan ini seperti tidak ada akhir nya! " Willi mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


"Tapi..... " sambung Vivian.


Willi menoleh "Tapi kenapa? " tanya Willi.


"Pakaian ku , masih berada di kosan tuan..! " ucap Vivian.


"Nanti Robby yang mengambilnya..! " Ujar Willi.


Mereka pun saling diam satu sama lain.


Mobil telah tiba dirumah megah dan mewah. Willi segera turun, tanpa memperdulikan yang lainnya.


"Robby tunjukkan dimana kamarnya..! " perintah Willi.


"Baik tuan..! "


Vivian turun dengan hati berat, dia masih belum ingin tinggal di rumah Willi. Walau rumah itu besar dan fasilitas lengkap, tapi Vivian lebih suka tinggal di kosan yang sempit dah bahkan berbagi dengan teman terbaik nya.


"Hhuuffff..! " Vivian menghempas nafasnya kasar.


"Ada apa nona..? " tanya Robby.


"Tidak ada apa-apa..! " Vivian pergi meninggal kan Robby begitu saja.


"Maaf Nona, apa nona sudah tahu kamarnya sebelah mana? " tanya Robby getir.


"Mana saya tahu kalau kamu tidak tunjukkan. .! 'Vivian kesal.


Mereka berjalan bersama "Ini kamar anda nona, semua sudah disiapkan untuk anda.! " ucap Robby sembari membuka pintu kamar.


Vivian masuk dan melihat sekeliling. "Baiklah, kamu pergi lah..! Tapi tunggu, kamu jangan sampai lupa untuk mengambil baju-baju ku dikosan.! "


Robby menunduk tanda mengerti. Dia pergi meninggalkan kediaman Hudson.


Malam tiba, meja makan sudah terisi dengan berbagai jenis makanan. Willi sudah turun dari lantai atas. Vivian sedang siap-siap untuk makan.


Ketika makan, Willi menanti Vivian melayaninya seperti orang suami istri pada umumnya. Tapi ternyata dia keliru, Vivian asik dengan makan nya. Tanpa melihat sekeliling.


"Ekheemmmm..! " Pak Im yang setia menunggu disamping Willi berdehem.


Tapi suara itu tidak diperdulikan oleh Vivian.


Tangan Vivian berhenti memegang sendok dan mulutnya tidak lagi mengunyah. "Kenapa tuan tidak makan, sayang makanan nya keburu dingin..! " ucap Vivian tanpa dosa.


Willi memijit pangkal hidungnya "Pak Im..! " panggil Willi.


Pak Im faham, dia mendekat dan mengambil satu sendok nasi dan mendekatkan beberapa lauk yang bisa di pilih oleh Willi sendiri.


Melihat Willi dilayani oleh Pak Im, Vivian kembali melanjutkan makanannya.


Merasa kenyang,Vivian bangkit dan pergi meninggalkan Willi yang masih belum selesai dengan makannya.

__ADS_1


"Ahhh.. Hari -hari begini, bisa mati muda aku.! " celoteh Willi.


Pak Im mengulum senyumnya, kali ini Willi benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.


"Pak, setelah ini tolong beritahu padanya , bahwa mulai besok dia yang melakukan pekerjaan ini. Aku mau dia yang menata meja dan melayani ku.! " ucap Willi sembari menghempaskan serbet pengilap.


"Baik tuan..! " jawab Pak Im.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sebuah mobil berhenti dihalaman depan.


"Tak.. tak.. tak..! " suara sepatu pentofel milik Robby.


Willi yang masih duduk di ruang keluarga melihat kedatangan Robby.


"Bagaimana..? ' tanya Willi.


" Saya sudah bawa tuan semua tanpa terkecuali.! "jawab Robby


" Kamu panggil saja dia di kamarnya..! "ucap Willi.


Robby pergi menuju kamar Vivian " Nona, ini saya. Pakaian anda sudah saya bawa..! "


Pintu pun terbuka "Mana..? "


"Ini nona! " Robby menyodorkan dua koper berisi pakaian.


Vivian tersenyum dan menarik koper-koper itu kedalam kamar.


"Kenapa kamu terlalu lama, aku sudah tidak tahan dengan baju yang belum berganti sama sekali.! " cucut Vivian.


Robby menahan perasaan, karena sudah tiba tapi masih saja di bawelin.


Dia pergi meninggalkan Vivian yang asik bicara sendiri tanpa ada yang mendengarkan.


Setelah selesai berganti pakaian, Vivian kembali membuka pintu "Dari mana...." dia berhenti bicara.


"Kemana orang itu..? " Vivian mencari sosok Robby tapi tidak ada.


Vivian kembali menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di kasur besar, bahkan lebih besar dari kasur yang ada di kosannya. Dibawah terpaan udara dingin yang berasal dari AC, Vivian seakan-akan seperti menikmati sebuah kamar hotel.


Dia menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang, meraih ponsel yang ada di nakas.


Melihat notif yang mengambang, ternyata ada sebuah panggilan tak terjawab dan juga sebuah pesan.


"Liana, aku lupa bagi tahu dia. Berarti Robby lama karena berurusan dengan Liana.! " batin Vivian.


Dia membaca pesan yang masuk "Vian kamu dimana, kenapa baju-baju mu dibawa semua. Dan orang ini siapa? "


Vivian membalas isi pesan itu "Maaf tidak memberitahumu, sekarang ini aku tidak lagi tinggal disana. Nanti aku beritahu lebih lanjut. " dan kirim.


Pesan terkirim dan Vivian merebahkan kembali tubuhnya yang terasa lelah.

__ADS_1


__ADS_2