
Hari telah sore, tapi pekerjaan Rihana masih belum selesai.Karena ini hari pertama, Rihana ingin membuktikan bahwa dia pantas bekerja diperusahaan besar itu.
Saat jam pulang, orang-orang sudah pada pulang. Rihana melirik jam di ponsel nya.
"Sudah jam 5,tapi pekerjaan ku belum siap." Rihana terlihat kesal karena harus lembur di hari pertama nya.
Sedari tadi dia duduk di kursinya. Tapi bos nya sama sekali tidak keluar.
Sementara di ruang CEO, Alfa terlihat santai, ditemani Sami yang hanya duduk tanpa pekerjaan.
"Tuan belum pulang, sekarang sudah jam 5 sore tuan? " Sami mengingatkan Alfa.
Wajah Alfa berubah dingin.
"Apa kamu mau pulang? " tanya Alfa.
Melihat ekspresi tuan nya, Sami hanya bisa menggeleng.
"Untuk apa kau bicara?" tanya Alfa kesal.
"Itu tuan, saya berpikir mungkin tuan tidak melihat jam saat ini! " kelah Sami.
"Salah lagi! " batin Sami.
Alfa terlalu mudah emosi dan tidak terlalu peduli dengan perasaan orang sekitarnya.
"Bagaiamana dengan sekretaris baru, apa dia sudah pulang? " tanya Alfa.
Sami bangkit dari duduk nya dan membuka sedikit pintu.
Setelah melihat keluar, Sami kembali menutup pintu.
"Dia masih ada di meja nya tuan, dan sepertinya berkas-berkas itu belum selesai! " jelas Sami.
"Baiklah, biarkan saja dia. Kita pulang saja! " ajak Alfa.
Sami memandang ragu.
"Tapi tuan, bagaimana dengan nya? " Sami merasa bersalah jika meninggalkan wanita itu sendiri saat dia baru hari pertama bekerja .
"Biarkan saja! " Alfa pun melangkah menuju keluar gedung.
Di perjalanan, Sami masih diliputi rasa bersalah.
"Setelah mengantarkan tuan Alfa, aku akan menyuruh nya pulang saja! " batin Sami.
Seperti tahu akan isi pikiran asisten nya itu. Alfa menarik sebelah sudut kanan bibirnya.
"Jangan coba-coba kamu membantu nya! " ujar Alfa dari belakang.
Sami melirik dari kaca depan.
"Baik tuan! " jawab Sami.
Mereka pun tiba di mansion keluarga Hudson.
Alfa pun masuk, sementara Sami pergi begitu saja.
__ADS_1
"Alfa, sudah pulang? " tanya sang mama Vivian.
"Iya ma! " jawab Alfa.
"Alfa ke kamar dulu ya, mau mandi! " Alfa pun pergi.
Di ruang keluarga Vanesa sibuk dengan ponselnya.
"Oke, sampai bertemu lagi! " Vanesa mengakhiri teleponnya.
Vivian menghampiri putri nya.
"Kapan Jhon datang? " tanya nya.
"Dalam beberapa hari lagi ma! " jawab Vanesa.
Vivian duduk di samping putri kesayangannya.
"Apa kamu sudah serius dengan pilihan mu. Kenapa hati ibu berkata bahwa dia seperti nya kurang cocok untuk mu? " Vivian kurang suka dengan pacara anaknya tersebut.
"Ma, dia orang nya baik. Dan selama ini aku tidak pernah lihat dia bersama wanita lain!" Vanesa membela tidak terima dengan apa yang mama nya katakan.
Karena kesal, dia bangkit dan langsung pergi menuju kamarnya.
"Ma, kita lihat saja sebaik apa pacarnya itu. Saat ini kita tidak bisa berkata buruk tentangnya! " Willi merengkuh bahu istri nya.
"Tidak terasa pa, anak-anak sudah dewasa. Dan mereka sudah bisa membuat keputusan mereka sendiri. Sehingga apa yang menurut kita kurang baik, terlihat baik didepan mereka! " Vivian terlihat sedih.
"Tugas kita sebagai orang tua hanya mengarahkan mereka kejalan yang benar. Dan kalau mereka memilih jalan yang salah, perlahan saja menasehati mereka! " bujuk Willi.
Saat makan malam.
"Untuk saat ini belum ada masalah, dan mungkin saja saat ini masih di kantor. " Alfa tetap menyantap makanannya.
Mata Willi membulat.
"Hari pertama kerja, kamu sudah membuat nya lembur? " Willi terkejut.
"Sebenarnya bukan saya yang membuatnya. Hanya saja dia yang kurang mampu menyelesaikannya dengan cepat! " bantah Alfa tanpa melihat wajah papa nya.
"Apa kamu tidak kasihan padanya. Karena hari pertama , jangan beri dia pekerjaan yang terlalu berat! " ujar sang mama.
"Tidak apa-apa ma, lagian nama nya pekerjaan. Dia harus memiliki rasa tanggung jawab." Alfa tetap kekeh pada prinsip nya.
Di tempat lain, Rihana terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Langit sudah gelap dan orang sudah tidak ada lagi perusahaan, kecuali penjaga.
Sami yang tidak sampai hati kembali keperusahaan. Dia menunggu di bawah sekitar perkiran.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Semua pekerjaan Rihana sudah siap.
"Akhirnya siap juga!" Rihana bangkit membuat pergerakan peregangan untuk merilekskan pinggangnya yang terlalu lama duduk.
Saat berjalan menuju lift,terlihat beberapa lampu telah di matikan. Hanya pantulan cahaya dari luar yang menembus kaca bangunana itu.
Saat Rihana tiba dibawah, dia merasa takut. Karena semua sisi bangunan telah sepi.Hanya tinggal dia sendiri, perlahan dia berjalan menuju pintu keluar.
Saat membuka pintu, Rihana mulai panik. Karena pintu itu terkunci, Rihana menatap keliling seisi ruangan yang cukip besar tersebut.
__ADS_1
Hanya lampu bagian pentri saja yang hidup.
"Klak! " terdengar suara dari arah pentri.
Rihana semakin ketakutan,dia bersandar pada pintu kaca dan mengarahkan pandangannya ke pentry.
Dia membayangkan, ada sesuatu yang bisa saja keluar dari sana.
Dan benar saja, sebuah bayangan tergambar jelas dari pantulan cahaya lampu.
Bayangan itu semakin mendekat, Rihana semakin menyudutkan dirinya ke samping pintu. Berjongkok di antara sela-sela pot besar yang ada di depan pintu.
Rihana menekuk kedua lututnya , berharap agar dia tidak terlihat atau bertemu dengan makhluk yang ada didepan nya.
"Tak tak tak! " suara sepatu yang begitu jelas terdengar.
Rihana menggigil ketakutan bukan main. Hanya beberapa langkah, suara sepatu itu menghilang.
Rihana memberanikan diri untuk melihatnya.
"Kemana suara sepatu tadi? " batin Rihana mencari kesekeliling sudut.
Dan ketika Rihana menoleh ke pintu kaca.
"Aaaaaaaa! " teriak Rihana dengan kencang.
Rihana lari menjauh dari pintu kaca. Setelah merasa jaraknya cukup jauh, Rihana kembali melihat ke arah kaca tadi.
"Tuan! " ucap Rihana.
Ternyata yang membuat nya takut adalah sosok Sami yang menempel di kaca.
"Tak tak tak tak! " suara langkah sepatu seperti terburu-buru.
Rihana menoleh ke arah suara.
"Bapak penjaga? " lirih Rihana.
"Kemana saja pak, aku dari tadi menunggu bapak disini untuk membukakan pintu! " ujar Rihana.
"Maafkan saya nona, saya tidak tahu bahwasanya masih ada orang di atas! " penjaga merasa berasalah.
Dia pun segera membukakan pintu. Rihana keluar dengen segera. Sami pun menghampiri.
"Kamu pulang sekarang? " tanya Sami.
"Bapak, ada apa malam-malam kesini? " tanya Rihana.
"Aku menunggu untuk mengantarkan mu pulang! " jawab Sami sembari membukakan pintu mobil.
Rihana hanya bisa melihat saja, tidak ada perintah dari Sami yang mengharuskan dia masuk kedalam mobil.
Untuk sesaat Sami terdiam.
"Masuk lah, berapa lama lagi aku harus menunggu? " Sami mulai kesal.
Tanpa perlu perintah yang kedua kalinya, Rihana menghambur masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Sekarang dia merasa lega, pekerjaan nya sudah siap. Dan saat pulang dia di antarkan langsung oleh asisten sang CEO.