Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 45.ANASTASYA LAHIRAN


__ADS_3

Tujuh bulan berlalu, perut Vivian semakin terlihat bulat dan tidak bisa lagi di sembunyikan.


Jeremy satu-satu nya laki-laki yang dekat dengan nya. Selalu siap membantu ketika wanita itu butuh pertolongan


"Vivian, kalau kamu merasa lelah. Serahkan saja pada yang lain! " Jeremy melihat Vivian menyeka keringatnya.


"Ah tidak apa-apa, setiap hari harus meminta bantuan orang. Lama-lama orang lain juga bosan. Dan lagi disini kami sama-sama berkerja! " Vivian tidak enak hati bila harus menyerahkan pekerjaan nya dengan karyawan yang lain.


Vivian tidak selincah sebelumnya dalam beraktifitas. Perutnya membuat gerakannya kian melambat.


Dia merasa bersyukur, karena masih ada orang yang mau mempekerjakannya dan dengan tulus membantu.


Jeremy terlihat sibuk di ruang kerja nya.


"Tok tok tok! "


"Masuk! "


"Ceklek" pintu pun terbuka.


"Vivian, ada apa? " tanya Jeremy.


"Jer, bolehkan aku mengambil cuti setelah kandungan ku 8 bulan nanti. Aku masih harus mempersiapkan beberapa kepentingan untuk menyambut kelahirannya! " minta Vivian.


"Boleh,andai pun kamu meminta sekarang. Aku akan berikan! " jawab Jeremy terlihat iklas.


"Tidak, aku akan menunggu sampai kandungan ku 8 bulan. Dan ku harap setelah kelahirannya , kamu masih berbaik hati memperkerjakan ku! " minta Vivian.


"Hahah! " Jeremy tertawa lepas.


Wajah Vivian berubah, bibir nya manyun.


"Lihatlah wajah mu, seperti anak-anak yang menggemaskan! " ujar Jeremy menggoda Vivian.


Vivian tidak menyadari perubahan wajah nya itu.


"Kamu tetap akan kerja disini, sampai kapan pun kamu mau! " jelas Jeremy.


Vivian tersenyum, tidak menyangka Jeremy adalah laki-laki yang baik.


Sifat Willi dan jeremy memang berbeda. Mereka satu ayah dan berbeda ibu.


Umur Willi masih kecil, ayah nya menikah lagi dengan sekertaris nya karena telah mengandung.


Jarak umur Willi dan Jeremy hanya 3 tahun. Dan ketika ibu kandungnya meninggal. Ibu tiri nya seakan-akan mengatur semua kehidupannya.


Setelah kepergian kedua orang tua Willi untuk selamanya.


ibu dari Jeremy sudah mendapatkan hak nya sebagai istri. Sang ayah sudah memberikan warisan untuk istri keduanya dan Jeremy. Selebihnya nya diserahkan kepada Willi sebagai anak pertama dan anak sah dari pernikahan yang terdaftar.


Willi tidak menyukai ibu tiri nya, karena harta yang diberikan oleh sang ayah menurut nya masih kurang.


Sampai sekarang Willi tidak pernah sekali pun berkomunikasi dengan ibu tiri nya dan bahkan adik seayah nya. Di tambah semenjak Jeremy merebur Anastasya dari nya.


Willi sudah mati hati kalau berurusan dengan keluarga ibu tirinya serta saudaranya.


Di tempat lain.


Ditengah malam, Anastasya terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Tiba-tina perutnya merasa sakit seperti ingin buang air besar.


Anastasya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Tapi tidak ada tanda-tanda ingin buang air besar.


Setelah rasa mulasnya mereda, Anastasya kembali ketempat tidur dan berusaha kembali untuk tidur.


Baru ingin merapatkan mata, kembali rasa sakit itu menerpa.


Anastasya dengan malas dan susah payah bangkit lagi.


Dikamar mandi, sama seperti tadi. Hanya memulas tapi tak ada tanda untuk buang air besar.


Ketika hendak keluar, dia merasakan sakit yang luar biasa.


Sudah tidak tahan, dia berjongkok dan mendapati air keluar dari daerah sensitif nya.


Rasa mulasnya semakin menjadi-jadi. Tidak ada cara lain, dia hanya ingat pada Rega si tulang lunak yang setia menemaninya selama ini.


"Rega!!! " teriak Anastasya.


"Rega tolong!!! " kembali dia berteriak.


Rega yang tinggal 1 apartemen dengan nya,mendengar teriakan teman kental nya segera menghambur kedalam kamar Anastasya.


"Ada apa baby? " panggilan manja di Rega.


" Tolong, bantu aku panggilkan dokter atau ambulan. Perutku sudah sakit!!! " Anastasya tidak bisa mengontrol nada bicara nya karena rasa sakit.


"Baik, baik! " Rega panik.


Dia menghubungi ambulan.


Para petugas mendorong Anastasya menggunakan kursi roda.


Anastasya dimasukkan dalam ambulans. Rega pun ikut serta menemani nya.


"Bagaimana ini baby, apa aku panggil saja orang tua mu kesini? " tanya Rega.


Anastasya menangis, karena orang tuanya tidak mengetahui kehamilan putri mereka. Dan bahkan selama kehamilan, Anastasya selalu menghindar ketika papa nya ingin bertemu.


Anastasya hanya menggeleng, tanda dia belum siap jika harus berhadapan dengan papanya.


"Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku akan menemani mu! Bagaimana kalau kita kabari Willi sekarang? " Rega teringat akan Willi.


"Willi! Kamu hubungi dia! " pinta Anastasya.


Belum sempat Rega menekan nomornya, Anastasya menahan tangan lelaki itu.


"Jangan, jika dia tahu aku sudah melahirkan mungkin dia akan melakukan tes DNA ketika bayi ini jauh dari pantauan ku! " lirihnya.


Rega pun memasukkan kembali ponsel nya kedalam saku.


"Sakit!! Huhuhu! " Anastasya semakin merasakan sakit diperutnya.


Mereka pun tiba dirumah sakit, Anastasya di dorong menuju ruang bersalin.


Seorang dokter pria datang dengan sarung tangan dan juga masker mulut memakai baju serba biru.

__ADS_1


"Tarik nafas yang dalam tahan keluarkan. Atur pernafasannya ya agar memudahkan dalam mengejan! " perintah dokter.


Anastasya menuruti perintah dokter. Dan setelah rasa mulasnya timbul, dokter meminta Anastasya untuk meneran kembali.


Hanya 3 kali mengejan, akhirnya lahir lah seorang bayi perempuan.


"Oe oe oe! " suara tengisan bayi.


Mata Rega membulat, rasa takutnya seketika hilang mendengar suara bayi mungil tersebut.


Seorang perawat membawa bayi itu keluar. Rega mendekat ingin melihat bayi itu. Tapi sang perawat tidak memberikan kesempatan dan berlalu pergi.


Seketika Rega ingat akan sahabatnya itu, dia membuka pintu ruangan Anastasya dan melihat wanita itu masih terbaring lemah di tempat tidurnya.


Rega mendekat dan memeluk kepala Anastasya.


"Kamu berhasil. Selamat ya baby! " Rega memberinya selamat.


"Bayi nya perempuan! " lirih Anastasya.


"Pasti cantik kayak kamu! " mereka berdua terlihat bahagia.


Tapi tanpa Anastasya ketahui, sebelum nya Willi sudah meminta beberapa orang bayaran untuk memantau keadaan Anastasya menjelang hari kelahiran anak itu.


"Anastasya sudah melahirkan bos! " laporan anak buah Willi.


"Baiklah, kerjamu bagus. " Willi menutup teleponnya.


Tanpa menunggu lagi, Willi menghubungi Robby.


"Deerrtt, deerrtt! " getaran ponsel.


Robby yang sudah terlelap merasa terganggu dengan suara getar ponselnya.


Ingin mengabaikan nya saja, tapi suara itu terus saja mengganggu.


Dengan rasa kantuk, Robby meraba-raba ponsel di nakas.


Mengusap tombol hijau sembarang dan meletakkan ditelinganya.


"Apa kau ingin ku pecat! " suara Willi begitu berat.


Seketika rasa kantuk nya hilang.


"Ya tuan, tadi saya di toilet! " alasan.


"Kamu segera ke rumah sakit, Anastasya sudah melahirkan!" ucap Willi.


"Baik tuan, saya akan kesana segera! ' jawab Robby.


Telepon pun berakhir.


Buru-buru Robby berganti pakaian Ditengah malam Robby membelah malam yang sunyi menuju rumah sakit.


Setelah sampai, dia berjalan menuju ruangan anak.


Dari dinding kaca, Robby melihat satu persatu nama orang tua bayi yang tertulis di stroller. Dan akhirnya ketemu, Robby mengintai para perawat yang berjaga. Agar tidan ketahuan.


Merasa cukup aman, Robby masuk dengan menggunting beberapa helai rambut dari si bayi.

__ADS_1


Setelah dapat, dia berjalan keluar dengan santai.


"Kenapa kamu harus melahirkan malam ini. Membuat mimpi indah ku terganggu! " bermonolog.


__ADS_2