
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Willi sudah tiba di bawah apartemen.
Dia ambil telepon dari saku jasnya dan menghubungi Vivian.
"Deerrtt deertttt! " getar ponsel Vivian di atas meja.
Vivian menyambar ponsel nya. "Sebentar, aku sedang turun nih! " jawab Vivian.
Dia pun tergesa-gesa.
"Cepat nak , nanti harimau nya ngamuk! " ucap Vivian.
"Harimau! Harimau apa ma! " Alfa bingung.
"Sudah jangan tanya lagi, cepat! ' Vivian menarik tangan Alfa menuju keluar pintu.
Setelah memastikan pintu terkunci rapat. Vivian terus saja menarik tangan anaknya menuju lantai bawah.
Saat berada di depan apartemen , Willi melihat kesamping. Dan hal yang tak dia bayangkan terjadi.
Vivian membuka pintu mobil dan memasukkan Alfa lebih dulu dan disusul dia nya.
Willi tidak tahu berkata apa.
"Ini, apa-apaain ini? " Willi terlihat tidak nyaman.
Robby yang duduk di bangku depan menoleh ke belakang.
"Maaf tuan, aku tidak bisa meninggalkannya. Liana belum pulang karena ada acara katanya! " jelas Vivian.
Willi menghentak-hentakkan kepalanya ke kaca mobil.
"Dan tidak mungkin aku meminta bantuan Jeremy setelah kejadian kemarin."Vivian hanya bisa pasrah.
" Harusnya kamu meminta dia untuk menjaga anak ini, bukan kah anak ini... " omongan Willi harus terhenti ketika mata Vivian menatap tajam seperti harimau.
"Jangan anda bilang, Alfa adalah... " Vivian melihat anaknya dan menghentikan ucapannya agar tidak membuat bingung anak itu.
Karena tidak ada jalan keluar, Willi pun pasrah jika anak itu harus ikut.
Robby merasa kali ini Willi betul-betul tidak ada pilihan selain mengalah.
Saat tiba di rumah Brian,Robby membuka pintu untuk Willi. Dan setelah Willi keluar, di susul Vivian.
Tidak ingin terlihat canggung, Willi mengulurkan tangan pada Vivian .
Sontak saja perlakuan Willi membuat Vivian menoleh kesekitar.
Tapi demi menjaga perasaan Willi. Vivian menyambut uluran tangan itu.
"Mama! " panggil Alfa.
Vivian menoleh kedalam mobil. Dan pandangan nya di tujukan pada Willi.
Willi menatap Robby yang berdiri didepan mobil.
"Kamu jaga anak itu sementara! " ucap Willi dan mereka pergi meninggalkan Robby dan Alfa.
Bibir Alfa membeyos ingin menangis, tapi Robby dengan cepat mengangkat anak itu.
"Alfa sama Om saja ya! " Robby berusaha menenangkan anak tersebut.
Alfa terlihat tenang, Robby membawa nya berkeliling di area taman perumahan Brian.
Mereka terlihat berlari-lari dan sesekali tertawa.
Saat Sebastian datang bersama pasangannya. Matanya tertuju pada bocah tersebut.
Dia menyipitkan kedua matanya, untuk memastikan siapa anak-anak yang bermain bersama Robby tersebut.
"Anak siapa itu?" bicara sendiri.
Saat pacar Sebastian menghampiri.
__ADS_1
"Ada apa sayang? " tanya Bella.
"Tidak apa-apa hanya melihat anak kecil itu! " tunjuk Sebastian dengan matanya.
"Mungkin salah satu anak dari tamu yang hadir. Tapi melihat dari pakaian nya mungkin itu anak dari supir itu! " jelas Bella.
Sebastian memandang wajah Bella.
"Supir, itu kan Robby asisten Willi! " batin Sebastian.
"Sayang sudah, ayo masuk! " rengek Bella.
Sebastian tersenyum "Ayo! " Sebastian mengulurkan tangan kanannya.
Dan dengan manjanya Bella bergelayut di lengan pacarnya tersebut dan tangan satu nya membawa kado.
Saat mereka masuk kedalam, Sebastian melihat Willi bersama Vivian yang saling bersebelahan.
Sebastian menghampiri.
"Hai, kamu datang juga! " sapa Sebastian.
"Kamu fikir, kamu saja yang bisa hadir? " jawab Willi ketus.
Mata Sebastian tertuju pada Vivian. Tangannya menunjuk wanita itu dan seolah-olah mengingat sesuatu.
"ini ini! Emm aku seperti pernah kenal. Tapi dimana ya? " Sebastian berusaha mencari kembali ingatannya yang hilang. Tapi tak juga menemukan nya.
Merasa cemburu, Bella menggoyangkan tangan Sebastian.
Mata Sebastian menoleh pada Bella.
Mengerti kalau pasangannya sedang cemburu. Sebastian pun melupakan percakapan mereka tadi.
Vivian hanya tertawa malu-malu.
Bella menyeret Sebastian menuju Brian.
Bella menyerahkan kado nya pada Brian.
Istri Brian menerima kado itu .
"Silahkan di cicipi hidangannya! " Brian mempersilahkan.
Bella dan Sebastian tanpa malu-malu karena sudah saling mengenal langsung menuju meja makanan.
Sementara Vivian masih terlihat seperti khawatir. Sesekali dia memandang ke luar memastikan Alfa baik-baik saja.
Melihat Vivian yang gusar, Willi memegang tangan nya.
"Kamu tenang lah, Robby pasti akan menjaganya! " ucap Willi pelan.
"Apakah ucapan mu bisa ku jamin? " tanya Vivian.
Willi menatap Vivian tanpa berkedip. Dan hanya tatapan seperti itu saja sudah membuat Vivian mati kutu.
Dia jadi sedikit tenang. Willi mengajak Vivian untuk duduk di sebuah meja. Mereka berjalan dengan sangat serasi layaknya pasangan bahagia.
Saat mereka menikmati makanan bersama beberapa rekan.
Anastasya datang menghampiri Willi dan rekan nya.
"Hai Will! " sapa Anastasya.
Willi menoleh kesamping.
Tanpa basa basi, Anastasya mendaratkan sentuhan pipi kiri kanan di hadapan Vivian.
Melihat Willi yang diam saja tanpa memperdulikan nya. Hati Vivian terasa panas.
"Praangg! "suara sendok dia letakkan kasar.
Willi menoleh pada Vivian.
__ADS_1
Tapi Vivian tidak menanggapi itu, dia bersifat seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Dia teguk minuman yang ada didepan nya berdiri dan pergi meninggalkan Willi, Anastasya dan beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka.
Vivian pergi menuju sebuah pintu yang ada di bagian samping rumah tersebut.
Dia duduk melepaskan runsingnya. Willi yang tidak berusaha menahannya,membiarkan saja Vivian pergi sendiri.
Anastasya menggantikan tempat duduk Vivian disamping Willi.
Rekan-rekan lain berbicara panjang lebar. Sementara Willi mulai merasa khawatir dengan Vivian yang tak kunjung datang.
Saat semua orang sedang menikmati pesta, tiba-tiba.
"Byaarrrrrrr."
"Pranggg."
Kain meja di tarik, membuat isi meja jatuh bersamaan.
Anastasya yang berada disamping terkena minuman yang ada didalam gelas.
"Aauh." reflek membuat Anastasya kaget.
Orang-orang yang ada disana juga kaget bersamaan tidak terkecuali Willi.
Seorang anak kecil laki-laki menarik alas meja dan berlari-lari.
Anastasya bangkit dari duduknya da menangkap anak itu.
"Alfa! Bagaimana bisa Robby lalai? " batin Willi.
Dia juga seolah-olah tidak mengenal anak itu. Merasa malu jika orang-orang tahu.
"Kamu, dasar anak nakal. Lihat apa yang kamu lakukan? " Anastasya menarik telinga anak itu.
"Mama aaaaaa mama! " tangis Alfa pecah.
Sayup-sayup mendengar tangisan, Vivian bangkit dari duduk nya dan mencari arah suara.
"Anak siapa ini, apa mama nya tidak mengajarinya sopan santun! " tangan Anastasya di angkat tinggi ingin menampar Alfa.
Tapi ketika dia ingin melayangkan tamparannya. Tangannya tertahan olah seseorang.
"Jangan sekali-kali kau berani menyentuh anak ku dengan tangan kotor mu itu! " Vivian menghempaskan tangan Anastasya.
"Heem, dia anak mu. Pantas saja liar. Ternyata ibunya juga liar. " hinaan Anastasya.
"Plaakk! " sebuah tamparan mendarat di pipi Anastasya.
Merasa tamparan itu begitu keras, wajah Anastasya terasa panas. Cap jari 5 terbentuk jelas di pipi nya.
"Kau! " Anastasya ingin membalas.
Willi lebih dulu menahan tangan nya.
"Sudah hentikan, hanya masalah kecil. Kenapa kalian ribut! " ucap Willi.
Alfa masih menangis sambil berpelukan pada kaki mamanya.
"Anaknya yang memulai lebih dulu! " rengek Anastasya.
"Anak ku tidak sengaja, tapi kamu sudah ingin menganiaya anakku. " ujar Vivian.
Mendengar perdebatan itu membuat Alfa merasa bersalah. Dia berlari meninggal kan kumpulan orang-orang.
"Alfa! " panggil Vivian.
Tidak berfikir panjang, Vivian terus mengejar Alfa yang lari mengarah ke pagar rumah yang terbuka.
Diluar Robby melihat Alfa berlari dengan cepat. Dia berusaha mengejar Alfa.
"Braaakkkkk! " sebuah tabrakan terjadi.
__ADS_1
Langkah Vivian terhenti tatkala tabrakan itu tepat didepan matanya.