
Saat tengah malam, ketika semua orang sedang tertidur.
Vivian merasakan mulas , dia segera bangkit dan menuju kamar mandi.
Saat di kamar mandi, rasa mulas itu menghilang.
"Mulasnya hilang!" bermonolog.
Dia membuka pintu kamar mandi, saat berjalan keluar. Tiba-tiba rasa mulas kembali menyerang.
Dia kembali masuk dan duduk di closet. Tapi mulas itu kembali hilang.
"Apa aku masuk angin? " bermonolog.
Vivian kembali keluar, berniat mengambil minyak angin. Belum sampai di tempat tidur, mulas itu kembali menyerang.
Dengan langkah sedikit lari dia masuk ke kamar mandi. Tanpa mengunci pintu dan bahkan pintu itu renggang sedikit.
"Kenapa mulasnya semakin sakit? Apa jangan-jangan aku sudah mau melahirkan? " batin nya.
Baru saja Vivian berdiri, tiba-tiba dari bagian pahanya keluar air .
"Ya Tuhan, ketuban ku sudah pecah."
Vivian semakin merasakan mulas sehingga dia meringis kesakitan.
"Will, Willi! " memanggil suami nya.
Willi yang tertidur, seperti bermimpi mendengar istrinya memanggil namanya.
Perlahan matanya terbuka dan melihat ke samping.
"Sayang , kamu dimana? " panggil Willi.
Segera di bangkit dan mencari ke kamar mandi.
Saat pintu dibuka.
"Sayang, apa yang terjadi? " tanya Willi cemas melihat Vivian terduduk di lantai kamar mandi.
"Sepertinya aku akan melahirkan, sakit sekali! " rengek Vivian menahan rasa sakit.
Dengan sigap,Willi mengangkat tubuh Vivian dan keluar dari kamar mandi menuju tangga.
"Pak Im, Pak Im! " teriak Willi memanggil asisten rumah tangga.
Pak Im dengannya mata yang masih merah datang menghambur.
"Ada apa tuan? " tanya Pak Im.
"Istri ku sepertinya akan melahirkan, tolong bawakan tas yang ada di dalam kamar kami. Aku tunggu di bawah, cepat pak! " minta Willi dan segera menuju mobil.
Pak Im yang sudah tidak muda lagi dengan segenap tenaga menaiki anak tangga. Setelah sampai di atas, dia menghambur kedalam kamar dan mengambil tas yang ada di dalam lemari bagian bawah.
Sementara di bawah, Willi gelisah menunggu.
"Apa pak Im tahu dimana letak tas itu? " bermonolog.
Tak lama, terlihat pak Im tergesa-gesa membawa tas berisi semua keperluan bayi dan Vivian.
"Ini tuan, " Pak Im menyerahkan tas itu.
Setelah menerima nya, Willi segera pergi tanpa basa basi lagi.
Pak Im yang melihat kepergian mereka hanya bisa mengelus dada.
Setelah buru- buru dengan sedikit berlari, dia merasa nafasnya tidak teratur.
"Semoga semua baik-baik saja! " ujarnya.
__ADS_1
Di jalan.
"Bisa percepat lagi mobilnya , aku sudah tidak tahan! " pinta Vivian.
"Ini sudah lumayan cepat sayang, aku juga tidak mau terjadi apa-apa dengan kita! " balas Willi.
"Aduhh! " Vivian terus saja meringis menahan rasa sakit yang semakin menjadi -jadi.
Setelah 20 menit ,mereka tiba di depan rumah sakit.
Willi keluar .
"Tolong bantu! " teriak Willi pada perawat yang bertugas.
Perawatan tersebut pun dengan sigap mengambil sebuah kursi roda dan mendorong mendekati mobil Willi.
Setelah pintu dibuka Willi mengangkat tubuh Vivian yang sudah basah bagian bawah baju nya!
Perawat itu langsung membawa Vivian menuju ruang bersalin. Seorang dokter pun datang memeriksa.
"Saya periksa dulu ya! " ucap Dokter itu sembari memeriksa Vivian.
"Wah, ini sudah lengkap. Kita mulai ya! " ucap sang Dokter pada Vivian .
Willi yang setia menunggu menemani Vivian di dalam kamar persalinan.
Tangan nya menggenggam erat tangan istrinya yang sedang berjuang.
Air mata nya lepas begitu saja,melihat perjuangan sang istri demi melahirkan anak mereka.
"Kamu kuat sayang, demi anak kita! "
"Cup! " Willi mengecup puncak kepala istrinya.
15 menit berjuang.
"Oek oek oek! " suara tangisan bayi mungil nan masih merah.
Dokter dan para perawat tersenyum bahagia melihat keberhasilan pasien nya.
"Selamat ya tuan, anaknya perempuan dan sehat! " ucap sang Dokter.
"Terima kasih dokter! " ucap Willi sembari menyalami dokter tersebut.
Setelah semua sudah selesai, Vivian di pindah keruang inap.
"Bagaimana dengan anak kita? " tanya Vivian.
"Tunggu sebentar, mungkin perawat masih membersihkan nya! " jawab Willi.
Dan benar saja, pintu terbuka dan dua orang perawat masuk dengan mendorong tempat tidur bayi.
"Ini anak nya nya sudah dibersihkan! " ucap perawat dan berlalu pergi.
"Sayang, aku mau melihatnya! " ucap Vivian.
Untuk sesaat Willi terdiam.
"Tapi sayang, aku tidak pandai mengangkatnya! " ucap Willi.
Vivian tersenyum.
"Sayang , kamu pasti bisa! " ucap Vivian merayu suaminya agar mau memberikan anak itu pada Vivian.
Tidak bisa menolak permintaan istirnya, mau tidak mau Willi harus berusaha untuk mengangkat tubuh mungil yang masih rapuh tersebut.
"Posisi tangan kanan di antara kepala dan leher , tangan kiri di bagian punggung nya! " Vivian menjelaskan bagaimana cara mengangkat tubuh bayi tersebut.
"Begini? " Willi menuruti apa yang diucapkan istrinya.
__ADS_1
"Ya! "
Willi mengangkat bayi itu perlahan dan sedikit gemetar. Takut jika bayi itu terlepas dari tangannya.
Bayi itu diletakkan oleh Willi di samping Vivian. Vivian berusaha memiringkan tubuhnya .
Terlihat mulut bayi terbuka seperti mencari susu.
"Seperti nya dia lapar sayang!" ucap Willi.
Vivian menyusukan bayi mungil itu, dia terlihat lahap mengenyot air susu Vivian.
"Lihat lah, dia begitu pintar.! " ucap Willi.
Setelah anak itu kenyang, Vivian kembali meminta Willi untuk meletakkan bayi itu ke tempat tidurnya.
"Hati-hati sayang jangan sampai dia terbangun! " ucap Vivian dengan perlahan.
Willi dengan hati-hati meletakkan bayinya , agar tidak terbangun.
Setelah selesai, Willi kembali diserang kantuk.
"Tidur lah, masih banyak waktu untuk istirahat." ucap Vivian.
Di kamar itu hanya memiliki satu tempat tidur.
Hanya ada sebuah sofa.
"Tapi sayang, hanya ada satu tempat tidur! " ucap Vivian.
Willi tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang, aku bisa tidur di sofa." jawab Willi.
"Tidak apa-apa? " tanya Vivian.
"Tidak apa-apa, lagian hanya untuk malam ini. Besok mungkin kita sudah boleh pulang kerumah! "
Vivian hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang sudah banyak berubah semenjak mereka bersama kembali.
Keesokan harinya, Willi begitu cepat bangun dari tidur nya. Dan benar saja seluruh badannya terasa sakit setelah tidur di sofa.
Dia terlihat mengerakkan tubunya ke kiri dan kekanan.
Dia ambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Setelah 30 menit, muncullah Robby beserta Liana dan juga Alfa.
"Kenapa tuan tidak menghubungi saya tadi malam? " tanya Robby.
"Saya tidak sempat karena panik! " jawab Willi.
"Mama, mana adik kecil Alfa? " tanya sang kakak.
"Ini sayang! " ucap Vivian sembari menunjukkan bayi di dalam tempat tidur nya.
"Wah , dia kecil ya ma? "
"Hahaha." semua orang tertawa mendengar ucapan Alfa.
"Dia nanti juga bakalan besar seperti kakak Alfa." jelas Willi.
Alfa terlihat ingin sekali menggendong anak mungil itu.
Liana juga tidak sabar ingin mengecup pipi merah itu.
"Apa aku boleh memeluknya? " tanya Liana pada Willi dan Vivian.
"Kenapa harus bertanya, kamu bukan lah orang lain! " ucap Vivian.
__ADS_1
Liana pun mengangkat tubuh kecil itu. "Sayang, kamu begitu cantik! " ucap Liana.
Seperti mengerti , bayi itu tersenyum dalam tidurnya.