
Saat sore, Alfa terlihat sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat yang sudah dia sebutkan sebelumnya.
"Rapi banget anak mama sore ini! Kamu ada kencan ya? " tanya mama Vivian.
Senyum Alfa pun memancar.
"Siapa yang mau kencan ma? Hanya bertemu teman saja! " jawab Alfa.
"Baiklah ma, Alfa berangkat dulu! " Alfa pun pergi setelah pamitan.
Alfa datang lebih dulu, dia duduk di tempat yang sebelum nya sudah dia pesan.
Alina tidak tahu siapa orang yang akan dia temui. Hanya berdasarkan suara, dia seperti mengenal suara itu. Dan karena itu juga dia memutuskan untuk bertemu dengan lelaki yang di telepon tersebut.
Alina tiba di depan cafe tempat yang telah dijanjikan. Dia berjalan menuju masuk, matanya menyisir sekeliling cafe. Dan mencari pria yang ingin bertemu.
Karena tidak tahu siapa orangnya, Alina mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Rihana.
Dan terdengar lah sebuah deringan telepon yang berasal dari sebuah kursi yang di duduki oleh lelaki yang Alina kenal sebelumnya.
Belum sempat Alfa mengangkat panggilan itu, sudah keburu di tutup.
Dan.
"Selamat malam! " sapa seorang wanita
Alfa melihat ke wanita yang baru saja datang.
"Kamu! Kenapa kamu yang datang? " tanya Alfa terlihat kesal.
"Saya kesini, karena Rihana yang meminta! " jawab Alina.
Wajah kesal dan tidak senang Alfa terlihat jelas.
Sementara Alina sedari tadi senyum, sehingga memperlihatkan susunan gigi nya yang rapi.
Malas memandang pada wajah Alina, Alfa mengeluarkan ponsel Rihana dan berniat untuk langsung pergi setelah mengembalikan ponselnya.
Tapi, belum lagi Alfa bicara. Matanya tertuju pada leher Alina.
Dia melihat kalung yang dia berikan malam tadi.
"Kelung itu! " ujar Alfa.
Alina dengan sikap percaya diri nya menyentuh kalung itu.
"Ada apa dengan kalung ini tampan? " tanya Alina memancar sisi manjanya.
"Kenapa kalung itu ada padamu? " tanya Alfa.
"Ini kalung ku, wajar jika aku memakainya! " jelas Alina.
"Dasar wanita tidak tahu malu! " batin Alfa.
Alfa pun mengurungkan niatnya untuk memberikan ponsel milik Rihana. Alfa bangkit dari duduknya.
Alina yang melihat Alfa seperti ingin pergi pun bangkit. "Kamu mau kemana? " tanya nya.
Alfa tidak menjawab, dan bahkan melangkah kan kakinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik arah.
Alina yang melihat nya berpikir bahwa lelaki itu akan kembali menemaninya.
Tangan Alfa menarik paksa kalung yang Alina pakai.
"Aughh! " Alina kesakitan.
"Kamu tidak pantas memakainya! " ucap Alfa dan langsung pergi.
__ADS_1
Alina yang tengah berdiri hanya bisa terdiam tanpa kata.
Ingin rasanya dia menjerit.
"Tidak pernah aku semalu ini! " rutuk Alina.
Alfa dengan rasa kesal melajukan mobilnya menuju tempat Rihana.
Begitu sampai, dengan wajah yang sudah tidak enak di pandang. Alfa menghampiri pintu rumah Rihana.
"Tok tok tok! "
Tidak ada sahutan dari dalam, saat ini ibu Rihana pergi bersama adik nya.
Rihana pun keluar dari dalam kamar.
"Ceklek! " pintu pun terbuka.
Dan alangkah tidak percaya nya, siapa yang ada didepannya.
"Tuan Alfa! " lirih Rihana.
"Huuuuufff! "Alfa menarik nafas panjang.
" Ada apa tuan kemari? "tanya Rihana.
" Apa kamu tidak mempersilahkan aku masuk dulu? "tanya Alfa dengan wajah dinginnya.
"Masuklah! " Rihana pun mempersilahkan.
Alfa masuk tanpa dipersilahkan, dia langsung duduk di sofa.
Rihana yang masih belum mengerti apa tujuan Alfa datang sore-sore begini.
"Ada masalah apa? Sehingga tuan datang kesini! " ujar Rihana.
"Kenapa kalung ini bisa ada pada teman mu? " tanya Alfa.
Rihana kaget.
"Kenapa kalung itu bisa ada pada tuan Alfa? Bukankah kalung itu ada sama Alina sebelumnya? " batin Rihana.
"Kenapa kamu diam? Bisa kamu jelaskan! " minta Alfa.
"Masalah itu saya tidak tahu tuan. Tadi pagi Alina datang dan meminjam kalung itu. Dan saya juga tidak tahu dari siapa kalung itu? " ucap Rihana.
"Coba kamu ingat-ingat kembali! Dan ini ponsel kamu! " Alfa menyodorkan ponsel Rihana dimeja.
Rihana mengambil ponsel itu.
"Ini kan punya ku! Kenapa bisa ada dengan tuan? " tanya Rihana.
"Sekali lagi, jangan sampai saya berhadapan dengan teman mu itu. Karena aku tidak suka dengannya! " Alfa terlihat marah.
"Apa tuan bertemu dengan nya? " tanya Rihana penasaran.
"Ya, tadi pagi saat dia menghubungi ponsel mu. Aku mengangkatnya dan mengatakan bahwa aku ingin kamu menemui ku di cafe Y. Jika kamu mau secepatnya ponselmu kembali. " jelas Alfa.
"Tapi, bukan kah tadi pagi tidak ada yang mengangkat panggilannya? " tanya Rihana semakin tidak mengerti.
"Mungkin teman mu berbohong. Sudah jelas aku mengatakan ingin berjumpa . Kenapa dia tidak memberi tahukan nya padamu? " amarah Alfa semakin tinggi.
Rihana pun terdiam, dia tidak menyangka bahwa teman nya sendiri tega berbohong dengannya.
Perasaan Alfa menjadi hambar, sebenarnya hari ini dia berkeinginan menyatakan perasaan nya pada Rihana. Tapi rencana nya tidak berjalan sesuai keinginan nya.
Tanpa pamit, Alfa pun keluar dari rumah Rihana. Dia merasa seperti di permainan.
__ADS_1
Saat dirumah, Alfa masuk dengan wajah yang suram. Katika berpapasan dengan mamanya, dia sama sekali tidak menegur atau bahkan melihat ke arah mamanya.
"Ada apa dengan Alfa,bukankah tadi sebelum pergi dia terlihat senang? " Mamanya merasa heran.
Vanesa menghampiri mamanya.
"Mungkin kakak ditolak wanita! " bisik Vanesa.
Mama Vivian menepuk tangan anak perempuannya itu.
"Apa ada wanita yang sampai tega menolak kakakmu? Bukankah selama ini banyak wanita yang mengejarnya, tapi kakak seperti kulkas pembeku! " ujar mamanya.
Vanesa dan mama nya tertawa setelah guyonan yang mamanya lontarkan.
"Mama benar juga, tidak ada wanita yang pernah menolak pesona kak Alfa! Hanya saja kakak yang belum mau memiliki pendamping. " timpal Vanesa.
Didalam kamar, Alfa menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang cukup besar untuk dia sendiri.
"Hari ini semua berantakan! " ujarnya.
"Ahhhh! " Alfa menarik rambutnya.
"Brukk! " suara bantal dilemparkan.
Sementara dirumah Rihana, dia berusaha menghubungi Alina. Tapi panggilannya tidak di angkat. Tidak ingin berhenti Rihana kembali menghubungi nya.
Ditempat lain.
"Ada apa sih? Dari tadi menelepon terus! "Alina masih kesal setelah ditinggal oleh Alfa.
Karena bosan ditelepon terus, Alina pun mengangkat panggilan dari Rihana.
" Lin, kamu dimana? Kenapa kamu tidak bilang..... "
"Ah sudah lah. Aku tidak mau mendengar ocehan mu! " Alina memotong pembicaraan Rihana.
Mendengar suara Alina yang seperti nya sedang dalam keadaan kurang baik. Rihana pun menyudahi teleponnya.
"Kenapa dia yang marah? Seharusnya kan aku! " gumam Rihana.
Keesokak harinya, saat di kantor.
Saat Alfa datang, dia terlihat diam saja dan masuk keruangannya..
Saat Rihana menyapa, Alfa tidak perduli sama sekali. Dan bahkan saat memberikan dokumen yang ingin ditanda tangani Alfa tidak berbicara seperti biasanya.
Perubahan sikap Alfa itu membuat Rihana terasa juga.
Rihana tidak berani lagi berbicara pada Alfa dan bahkan selama ini Rihana cenderung jutek jika berbicara pada nya.
Satu minggu berlalu, Alfa masih tetap seperti sebelumnya.
Dan Rihana tidak berusaha untuk membuka percakapan di antara mereka. Dia takut akhirnya dia akan kecewa .
Hari ini Rihana terlihat lebih segar, dengan mengenakan baju kemeja motif bunga dan bawahannya rok selutut berwarna coklat polos.
Dia terlihat lebih dewasa dari biasanya.
Saat jam menunjukkan pukul 17 sore, Rihana pun keluar dari kantor.
Alfa yang masih berada di parkiran menunggu Sami datang.
Melihat Rihana berbicara dengan seorang pria yang terlihat sebaya dengannya.
Alfa membalikkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas dari dalam mobil.
Terlihat Rihana begitu dekat dengan pria itu, pria itu menyentuh pipi Rihana dan merapikan rambutnya.
__ADS_1
Melihat itu, dada Alfa seakan terbakar, dia kembali membelakangi mereka agar dia tidak melihat kemesraan kedua orang itu.