Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 64.ANASTASYA DAN RACHEL


__ADS_3

Setelah kepergian Brian dan Sebastian. Willi naik ke kamar dan beristirahat.


Hari ini dia merasa seperti kurang istirahat.


Setelah mandi sore dan makan malam. Dia masuk keruang kerja nya dan mengerjakan beberapa pekerjaan penting.


Hanya sebentar dan matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi.


Dia kembali masuk kedalam kamar tidurnya yang berada disebelah kamar kerjanya.


Dia ambil telepon nya dan menekan nama Vivian.


"Tut tut tut! " panggilan terhubung.


Vivian menatap ponselnya.


"Nomor baru, siapa ya? " fikir Vivian.


"Angkat tidak ya? " Vivian ragu.


Karena sebelumnya Willi sudah memperingatkan bahwa dia harus mengangkat teleponnya.


Dengan ragu dia usap tombol berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya ketelinga.


"Hallo! " ucap Vivian.


"Kemana saja kamu, kenapa lama mengangkatnya? " tanya Willi dengan nada egois.


"Maaf, karena hanya nomor aku tidak tahu itu nomor tuan! " jawab Vivian.


"Heeemmm,tuan lagi, tuan lagi. Bisa tidak kamu berhenti memanggil ku tuan? " keluh Willi.


"Jadi aku harus manggil apa. Bukankah selama ini aku biasa memanggil tuan dengan sebutan itu! " jawab Vivian.


"Kamu bisa memanggil ku dengan nama saja!" jelas Willi.


"Ba-baik tuan ehh Wi-lli! " Vivian terbata-bata.


"Begitu lebih baik! "


"Malam besok temani aku! " minta Willi.


Vivian menjauhkan teleponnya.


"Temani kemana lagi? " Vivian menggerutu.


"Hallo, kamu dengar aku bicara kan? " tanya Willi.


"Iya, iya aku dengar! " Vivian mendekatkan kembali teleponnya ketelinga.


"Sebelum jam 8 bersiap-siaplah, aku akan jemput! " telepon pun terputus.


"Tapi... " tidak sempat Vivian bicara.


"Dasar manusia egois, mau menang sendiri. " gerutunya.


Vivian meletakkan ponsel nya di nakas.


"Hhhhuuuummmm! " Vivian sudah mengantuk.


Dia membaringkan kepalanya yang mulai pening karena kurang tidur.


Sementara Liana sudah terlelap lebih dulu kelelahan setelah bekerja seharian.


Di sudut kota lain, terlihat Anastasya yang sedang bergelanyut dengan ponselnya. Anaknya terlihat tertidur lelap di sampingnya.


Sesekali mata Anastasya menatap ke anak itu.


"Kasihan kamu sayang, mama selalu marah tak jelas bahkan dengan lancang memukul mu! " Anastasya mengelus lembut rambut Rachel nama anak itu.


Rachel seumur dengan Alfa hanya beda beberapa bulan saja.

__ADS_1


Dia memeluk tubuh kecil yang tak berdosa itu.


Keesokan hari nya, Anastasya membawa Rachel berjalan-jalan ditaman di sekitar rumah.


"Ma, Ecel mau es klim ma! " rengek Rachel saat melihat truk gerobak terparkir tak jauh dari tempat mereka.


"Anak mama mau es krim? " tanya Anastasya.


"Emmm! " anak kecil dengan anggukan.


Anastasya menarik tangan Rachel menuju gerobak truk es krim


"Rachel mau rasa apa? " tanya mamanya.


"Ecel mau yang stobeli ma! " jawab Rachel dengan logat cadel khas anak 3 tahun.


"Strawberry ya 1 ! " minta Anastasya pada penjual.


"Baik nona! " penjual pun mengambilkan es krim rasa strawberry.


"Ini nona! " penjualan memberikan es nya.


Anastasya menyambutnya dan memberikan uang bayarannya.


Rachel terlihat antusias melihat es krim nya.


"Kita duduk di sana saja ya. " Vivian menunjuk sebuah bangku taman.


Ibu dan anak itu berjalan menuju bangku dan duduk menikmati es krimnya.


Saat menemani Rachel, Anastasya melihat sebuah mobil yang begitu familiar sekali berhenti tepat disebuah toko.


Keluarlah seorang lelaki yang tak asing lagi bagi nya.


"Willi! " lirihnya memperhatikan.


Willi masuk kedalam toko dan terlihat memilih baju untuk seorang wanita.


"Kenapa aku tidak bisa memiliki mu?"


Anastasya terus saja berdialog dengan batin nya.


Setelah memilih-milih,Willi keluar dari dalam toko. Di barengi Robby sebagai asisten membawa dua jenis kotak berbeda ukuran.


Setelah masuk kemobil, mereka pun berangkat.


"Mama mama, es klim Ecel sudah habis! " panggilan Rachel membuyarkan lamunan Anastasya.


"Rachel mau es krim lagi? " tanya nya.


"Eemmm! " Rachel menggelengkan kepala nya.


"Ya sudah! Sekarang temani mama mau tidak? "


"Ecel mau ma! " jawab anak polos tersebut.


"Yup! Ayo kita berangkat! " ajak Anastasya seperti anak-anak juga.


Rechel tertawa melihat tingkah mama nya yang tak kalah menggemaskan.


Anastasya menuju toko didepannya tadi. Dia juga berniat ingin mencari sebuah gaun yang akan dia gunakan malam nanti.


Willi sudah berada di perusahaan, sementara Robby dia tugaskan untuk mengantarkan kotak yang mereka bawa sebelumnya.


Di apartemen.


"Ting tong! " bel pintu.


"Ceklek! " pintu terbuka.


Liana yang membuka pintu terdiam setelah melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Liana tersenyum seramah mungkin, untuk menyapa tamu nya.


Tapi tamu tersebut terlalu dingin. sehingga membuat Liana memunculkan wajah jutek nya dari yang sebelumnya begitu bersahabat.


Karena sudah tahu apa tujuan laki-laki tersebut datang kesana. Liana kembali masuk .


"Vi, ada orang aneh mencari mu! " ucap Liana.


Dan Robby yang mendengar nya merasa kalau kata-kata (orang aneh) itu di tujukan pada nya.


Dia melihat kembali penampilan nya dari atas sampai bawah.


"Tidak ada yang aneh? " batin nya.


Vivian pun datang.


"Ada apa? " tanya Vivian.


"Tuan Willi harap anda mau menerima nya! " Robby menyerahkan dua kotak itu bersamaan.


Vivian gelagapan menerimanya.


"Ini! Apa ini? " tanya Vivian.


Tanpa menjawab Robby segera pergi, agar tidak banyak pertanyaan atau bahkan penolakan. Karena Willi sudah berpesan, bahwa jangan sampai Vivian menolak pemberiannya.


Di jalan, Robby merasa lega. Karena misi hari ini selesai. Masih ada misi selanjutnya nanti malam. Yaitu dia harus berhasil menjemput Vivian sebelum dia menjemput Willi.


"Tinggal menunggu nanti malam. Andai nona Vivian tidak jadi pergi dan menolak memakai baju tersebut. Habis lah aku di potong gaji! " wajah Robby berubah melo saat membayangkan ketika gajinya untuk bulan ini di potong.


"Semoga saja dia suka dan mau memakainya! " Robby berdoa.


Robby kembali keperusahaan.


"Bagaimana, dia menerimanya? " tanya Willi.


"Ya tuan, dia menerimanya! " Robby.


Willi menyandarkan punggung nya ke kursi kebesaran nya. Sembari mengutak-utik kan tombol penanya.


Malamnya, saat Vivian sudah terlihat siap dan cantik mempesona. Orang yang dia tunggu tak kunjung pulang.


Liana belum pulang, tak seperti biasanya.


Vivian menekan nomor teleponnya dan menghubungi Liana.


"Hallo! " jawaban dari sebrang.


"Na, kamu lama lagi pulang? " tanya Vivian.


Liana melihat kekiri dan kekanan.


Dia menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.


"Kami lagi ada acara makan bersama teman-teman! " bisik Liana.


"Berarti kamu tidak pulang dong? " Vivian terlihat kesal.


"Aku juga tidak tahu, kami baru saja memesan makanan! " jawab Liana.


"Ya sudah lah! " Vivian menutup teleponnya.


"Hallo hallo! " Liana melihat layar ponselnya ternyata sudah tidak ada Vivian disana.


Dia mondar mandir di dalam kamar mencari jalan keluar.


"Bentar lagi Willi datang, tidak mungkin Alfa aku tinggal. " gumamnya.


Dan "Ah, aku minta tolong Jeremy saja! " Vivian menjentikkan jarinya.


Tapi dia kembali lesu.

__ADS_1


"Tidak mungkin aku minta tolong dengan nya setelah kejadian itu. Dan bahkan sampai sekarang dia tidak menghubungi ku! "


__ADS_2