
Setelah kepergian lelaki itu Vivian buru-buru pergi menuju bangsal tempat mama nya di rawat.
Setelah memastikan tidak ada orang disana. Vivian segera masuk dan menutup rapat pintu.
"Vivian! " ujar mama nya tersentak.
"Ma, Vian rindu! " Vivian menghambur memeluk mamanya.
"Sudah lama anak mama tidak menjenguk mama! Kemana saja sayang? " sudut mata mama nya terlihat ingin menangis.
"Vian rindu ma! " keluh Vivian.
"Mama juga sayang! " lama mereka berpelukan melepas rindu.
"Vian minta maaf ma, Vivian tidak bisa lama-lama disini. Karena masih ada pekerjaan! " ucap Vivian.
"Tidak apa-apa sayang, mama faham! " ujar mama nya.
"Mama baik-baik saja! Bagaimana denganmu? " tanya mama nya balik.
"Seperti yang mama lihat, Vian sehat dan tak kurang suatu apa pun! " Vivian berdiri sambil berpusing.
Setelah beberapa saat, Vivian kembali tersadar dengan lelaki yang ditugaskan Willi untuk menjaga nya.
"Ma, Vian permisi dulu. Sekarang Vian harus pergi! " ucap nya.
"Baiklah, jaga diri baik-baik! " mereka pun kembali berpelukan tanda salam perpisahan.
Vivian berjalan buru-buru tempat dia diperiksa tadi.
Ternyata Vivian sedikit terlambat, lelaki itu seperti sedang mencari keberadaan Vivian. Dia menoleh kekiri dan kekanan.
"Kamu sedang apa? " tanya Vivian seolah-olah tidak tahu.
"Anda dari mana nona, saya mencari anda! " jawab lelaki itu.
"Maaf, saya dari toilet! " alasan Vivian yang masuk akal.
__ADS_1
"Ini minum yang anda pinta! " lelaki itu menyerahkan sebotol air mineral.
Vivian mengambil dan meminum air itu.
"Kita pergi sekarang! " ajak Vivian.
Di mobil "Sekarang kita kemana nona? " tanya lelaki itu.
"Kerumah! " jawab nya singkat.
Mereka pun tiba di halaman mansion keluarga Hudson.
Pak Im yang berada di halaman samping melihat Vivian turun dari mobil. Kemudian dia menghubungi seseorang.
Vivian masuk ke kamar nya dengan malas. Dia lempar tas kecil nya ketempat tidur.
Dia masih belum puas bertemu dengan mama nya.
"Kenapa aku tidak bisa bertemu dengan mama? " gumam Vivian.
Belum terlalu sore didepan halaman terdengar suara mobil berhenti.
Dibawah, Willi berjalan menaiki tangga sambil melonggarkan dasi nya.
"Ceklek" pintu dibuka.
Vivian tidak menyadari akan kehadiran Willi yang sudah tepat berada di depan nya.
"Dari mana kamu siang tadi? " tanya Willi.
Tapi tidak ada respon sama sekali, bahkan Vivian hanyut dalam gawai nya.
Setelah memperhatikan, ternyata Vivian menggunakan earphone.
Mungkin Vivian sedang memutar lagu dengan suara tinggi. Sehingga tidak terdengar ketika orang berbicara.
Willi berjalan mendekati Vivian yang berada di sofa dan pandangan nya tertuju keluar jendela.
__ADS_1
Sebuah tangan memegang bahu Vivian, sontak membuat iya kaget. Ia alihkan pandangan pada orang itu.
"Tu-tuan!" Vivian membuka earphone yang iya kenakan.
"Apa kamu tidak mendengar omongan ku? " tanya Willi.
"Tuan bicara apa? " tanya nya.
Willi mendengus "Dari mana kamu hari ini? " tanya Willi .
"Tadi saya jalan sebentar! " jawabnya.
"Apa kamu yakin hanya jalan sebentar. Tidak ada yang lain? " tanya Willi sembari mengernyitkan keningnya.
"Kalau tidak percaya, tanya saja orang suruhan mu! " Vivian terlihat kesal.
Willi manarik sudut bibirnya sebelah, dan berjalan keluar kamar.
Vivian menyusu dari belakang, dia masih ragu dengan laki-laki yang manjadi penjaga nya tadi.
"Pak Im panggil kan penjaga itu! "
Pak Im pergi menuju halaman bebalakang, dimana ada sebuah kamar untuk para pekerja .
Tak lama, Pak Im datang bersama lelaki tadi.
"Kemana saja tadi nona Vivian ? " tanya Willi.
"Nona Vivian hanya keliling saja tuan! " jawab lelaki itu dengan wajah terlihat datar.
Willi memperhatikan lelaki itu, apakah dia berbohong.
"Apa kamu tidak menyembunyikan sesuatu? " tanyanya curiga.
"Tidak ada tuan. " jawab lelaki itu dengan wajah yakin tapi tangan nya sudah mengepal di belakang.
"Ya sudah! " Willi mengayunkan tangan nya.
__ADS_1
Lelaki itu pun pergi, Vivian yang mengintip dari lantai atas merasa takut jika lelaki itu bicara jujur bahwa mereka singgah kerumah sakit.