Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 41.MENCARI PEKERJAAN


__ADS_3

Di penginapan yang di sewa oleh Vivian, dia masih saja tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya.


"Kalau begini, bagaimana aku bisa bertahan? "


"Apakah aku harus gugurkan saja anak ini? Tidak, tidak. Dia tidak berdosan! " Vivian bergumul dengan batin nya.


Lelah berfikir, pada akhirnya tidur lah yang menjadi pelampiasan pada tubuhnya yang rapuh.


Keesokan pagi nya, terdengar suara wanita munt*ah didalam kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan Vivian.


"Sayang, mama harap kamu menjadi anak yang baik. Bantu mama agar lebih kuat! "lirih Vivian mengusap perut ratanya.


Setelah selesai, dia pun keluar dari dalam kamar mandi.


Bersiap-siap ingin mencari pekerjaan.Sebelumnya Vivian sudah melengkapi biodata untuk penerimaan kerja di salah satu cafe yang cukup terkenal di kawasan tempat tinggal nya.


Setelah meminum obat dan sarapan dengan roti. Vivian menyambar tas nya menghambur pergi menuju lantai bawah.


Vivian berjalan menyeberang jalan, tidak perlu naik taksi hanya berjalan beberapa menit.


Di depan sebuah gedung berdinding pintu kaca. Sudah terlihat cafe itu.


Vivian masuk dan menghampiri petugas nya.


"Maaf, saya sudah ada janji dengan manager nya ingin bertemu! " ucap Vivian.


"Tunggu sebentar, saya akan memanggilkan beliau! " ucap wanita itu penjaga itu.


Dia pun pergi menuju sebuah pintu yang tak jauh dari meja kerja nya.


Satu menit kemudian, wanita itu keluar dan di susul oleh seorang laki-laki berperawakan tinggi dan tampan.


"Selamat pagi! " sapa lelaki itu.


Setelah melihat lelaki itu.


"Jeremy! " ucap Vivian tak percaya.


"Hai nona, kita bertemu lagi! " ucap Jeremy.


"Apakah kamu yang mau melamar pekerjaan? " tanya Jeremy.


"Heemm! " gumam Vivian.


"Kamu saya terima, mulai hari ini kamu bisa mulai bekerja! "sambut Jeremy dengan senang hati.


" Terima kasih, terima kasih! " ucap Vivian senang.


Jeremy mengambil sebuah pakaian berwarna coklat dan sebuah apron berwarna hitam les coklat bertuliskan nama cafe tersebut.


"Ini baju kerja mu! " Jeremy menyerahkan pakaian itu.


Vivian menerima nya.


"Baiklah, aku ke kemar mandi dulu! " ucap nya.


"Kamar mandi nya sebelah sana! " Jeremy menunjuk ke kanan.


"Terima kasih! " ucap Vivian dan berlalu menuju kamar mandi.


Setelah selesai, dia keluar dan menghampiri Jeremy lagi.


"Apa yang harus aku kerjakan? " tanya Vivian.


"Karena kamu masih baru, kamu bagian mengantarkan pesanan saja! "


"Baiklah! " Vivian tersenyum.


Mengawali pekerjaan nya Vivian masih menyesuaikan diri. Karena baginya pekerjaan seperti ini cukup membuat tubuh bergerak aktif.

__ADS_1


Jeremy memperhatikan Vivian dari CCTV yang ada diruangan nya. Dia tersenyum melihat wanita itu begitu mudah beradaptasi.


Setelah sore, jam kerja Vivian sudah berakhir. Dia kembali mengganti pakaian kerja dengan pakaian nya sendiri.


"Huuufff! " Vivian menarikt nafas dalam.


"Hari ini kamu begitu mengerti sekali keadaan mama. Terima kasih sayang! " Vivian mengelus lembut perutnya.


Setelah selesai, Vivian keluar dari kamar mandi.


Jeremy datang menghampiri.


"Bagaimana pekerjaan nya? " tanya Jeremy.


"Saya sangat senang, dan terima kasih telah sudi menerima ku kerja disini! " ucap Vivian sembari senyum.


"Apa kamu punya waktu sebentar, kita bisa minum kopi dulu! " ajak Jeremy.


"Baik lah! " Vivian setuju.


"Ini! " Jeremy mengulur kan secangkir minuman pada Vivian.


"Terima kasih pak! " ucap Vivian.


"Tidak, tidak, tidak! Jangan panggil aku seperti itu. Aku belum terlalu tua! " seloroh Jeremy.


Vivian bingung.


"Panggil saja Jeremy! " ucap lelaki itu.


"Baiklah pak, eh Jeremy! " Vivian setuju.


"Apa kamu baik-baik saja saat bekerja?" tanya Jeremy.


"Ya, saya baik-baik saja! " jawab Vivian.


"Bukan kah kemarin kamu terlihat sakit? " tanya Jeremy.


"Mungkin setelah meminum obat dari dokter kemarin sudah mendingan! " jelas Vivian.


"Bagus lah, tapi apa kamu marah kalau saya bertanya sesuatu. Mungkin bisa di bilang hal pribadi.? " tanya Jeremy.


Alis Vivian mengerut kedua belahnya "Silahkan!"


"Apa kamu memiliki suami? " tanya Jeremy.


"Degh."


Vivian merasa di timpa oleh sebongkah batu besar yang tepat mengenai kepalanya.


"Apa yang harus ku jawab? Kalau aku jawab iya dia pasti bertanya di mana orangnya. Andai ku jawab tidak ada, dia pasti curiga pada kehamilanku! " Vivian dilema.


Menunggu jawaban Vivian yang tak kunjung bicara. Jeremy pun memahami bahwa wanita itu terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan nya.


'Baiklah, kalau kamu keberatan untuk menjawab, tidak usah di jawab.


Aku juga tidak mau memaksa! " ucap Jeremy.


"Terima kasih untuk tidak memaksa! " jawab Vivian.


Mereka pun berbincang-bincang layaknya seorang teman.


Setelah setengah jam, Vivian bangkit dari duduk nya.


"Terima kasih untuk minuman nya. Aku harus segera kembali kepenginapan! " ucap Vivian.


"Baiklah, sampai bertemu besok! " ucap Jeremy mengakhiri pertemuan mereka.


Vivian pun pergi meninggalkan cafe yang masih tetap buka dan hanya berganti pekerja .

__ADS_1


Di tempat tidur, Vivian merasa lelah setelah bekerja seharian.


"Kamu baik-baik ya disana. Agar mama kuat untuk bekerja demi kehidupan kita berdua! " ucap Vivian mengelus perut dengan mata yang mulai terpejam kelelahan.


3 minggu berlalu semenjak Vivian bekerja.


Setiap minggu nya, uang penginapan akan di pinta oleh si empu nya penginapan.


Kali ini Vivian mulai cemas, uang yang diberikan Willi selama ini dia simpan sudah mulai menipis.


"Untuk minggu ini aku masih tertolong. Tapi minggu berikutnya bagaimana? " Vivian mengacak rambutnya.


Seperti biasa setiap pagi, Vivian masih akan mengalami morning sickness. Tapi tidak seberat bulan pertama.


Setelah puas menguras isi perutnya, Vivian kembali bekerja seperti biasa.


Saat bekerja Vivian terlihat melamun. Dan itu menjadi bahan perhatian Jeremy.


Jeremy menghampiri "Kenapa kamu melamun? " tanya Jeremy.


"Uh, bukan apa-apa! " jawab Vivian.


"Kamu berbohong, dari tadi aku perhatikan kamu terus saja melamun. Ceritakan lah apa masalahmu. Mana tahu aku bisa bantu? " ucap Jeremy.


"Apakah mungkin dia bisa bantu? " batin Vivian.


"Apa aku bisa mengambil gaji untuk dua minggu pertama bekerja? " tanya Vivian.


Jeremy menaikkan sebelah alisnya "Untuk apa ? " tanya Jeremy.


"Aku harus membayar penginapan untuk minggu depan. Dan uang simpanan ku sudah menipis! " ucap Vivian.


"Emmm, begitu! " Jeremy mengusap dagu nya.


"Dari pada kamu mengeluarkan uang untuk membayar penginapan, lebih baik kamu pindah saja kesini! " ucap Jeremy.


Vivian melingat sekeliling.


"Kamu tidak bercanda kan? " ledek Vivian.


"Hahaha, buat apa aku bercanda? " Jeremy merasa lucu.


"Tapi apa mungkin! " mata Vivian menjeling pada tamu-tamu disana.


"Ya Tuhan, apa kamu fikir aku menyuruhmu untuk tinggal di dalam cafe ku? " Jeremy mengelus dada.


"Maksud mu? " tanya Vivian.


"Maksud ku.." Jeremy mengacungkan telunjuknya ke atas.


Vivian masih tidak mengerti.


"Mari aku tunjukkan! " Jeremy menarik tangan wanita itu menuju keluar cafe dan berjalan ke samping cafe menaiki tangga.


"Ini..! " tunjuk Jeremy.


Sebuah rooftop yang di buat seperti rumah.


"Kami serius? " tanya Vivian.


"Ya! " jawab Jeremy senyum.


"Terima kasih ya! " Vivian begitu senang.


"Tapi, kira-kira berapa sewa nya. Perhari, perminggu atau perbulan? " tanya Vivian masih ragu.


"Cikkkk, kamu tinggal disini gratis. Selama kamu mau! " Jeremy sedikit geram dengan bawelan Vivian.


"Terima masih Jer, ini sangat membantu demi menghemat! " Vivian kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2