
Lain cerita Vivian lain pula cerita Willi.
"Uweekk, uwekkk! " Willi muntah-muntah di kamar mandi .
Sudah 2 minggu Willi menjalani mual di pagi hari.
"Robby panggilkan dokter Sean sekarang! " perintah Willi .
"Baik tuan! " segera Robby menghubungi dokter pribadi Willi.
Setelah beberapa menit.
"Mana dokter itu, apakah kamu sudah menghubungi nya? " tanya Willi yang terlihat seperti mayat hidup.
"Sudah tuan, butuh beberapa menit untuk sampai kesini! " jawab Robby panik.
Willi meneguk air yang ada di meja kamarnya.
Terdengar suara mobil.
"Mungkin itu dokter Sean baru datang! " ucap Robby.
Sang dokter pun masuk kekamar Willi.
"Baringlah, biar aku periksa! " ucap Dokter tergesa-gesa.
Willi menuruti perkataan dokter nya.
Dokter Sean memeriksa secara seksama. Tapi dia tidak menemukan keanehan pada tubuh lelaki itu.
"Semua baik- baik saja, tidak ada yang salah! " ucap Dokter.
"Kamu bilang baik-baik saja, bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja. Tenaga ku terasa terkuras! " bentak Willi.
"Seperti apa gejalanya? " tanya Sean.
"Tuan Willi sering muntah dipagi hari, dan setiap makanan yang masuk akan keluar kembali.! jelas Robby.
" Eemmmm,apa mungkin pacar mu lagi hamil.Sehingga kamu mengalami morning sickness! " jelas dokter.
"Hati-hati mulutmu kalau bicara,aku bukan lelaki liar! " Willi terlihat marah.
"Bisa saja kan, beberapa kejadian ketika seorang wanita hamil dia terlihat baik-baik saja tanpa mual atau pun muntah. Tapi bisa saja semua itu di alami oleh si ayah calon bayi tersebut. " jelas dokter.
Seketika Willi ingat akan Vivian, tapi dia juga ingat akan Anastasya.
Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Baiklah, aku hanya akan meresepkan obat maaf saja. Karena bisa mengurangi rasa mual." dokter pun membuat resep.
Setelah selesai si dokter pun pergi.
"Robby, apa betul yang dikatakan Sean tadi? " tanya Willi masih belum yakin.
"Saya juga kurang yakin tuan, tapi pernah juga mendengar masalah seperti ini! " jawab Robby.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Willi masih memikirkan tentang siapa diantara wanita itu yang sudah mengandung anaknya.
Willi berbaring di tempat tidur, sudah dua minggu dia bekerja dirumah saja. Selebihnya dia serahkan pada Robby yang sudah setia mendampinginya.
Di tempat lain, masih satu negara dengan Willi.
Perut Anastasya terlihat lebih berisi dari saat dia tidur bersama Willi.
"Anak ini akan menjadi senjata untuk mengingat Willi agar mau bertanggung jawab! " ujar Anastasya gembira.
__ADS_1
"Semoga saja rencana mu berhasil! tapi ngomong-ngomong kalau Willi tanya berapa bulan umur kandunganmu? " tanya Rega si tulang lunak.
"Aku pasti akan jawab 1 bulan, tidak mungkin aku menjawab 3 bulan! " Anastasya tersenyum sinis.
"Dengan begitu aku akan menjadi nyonya Hudson satu-satunya! " teriak Anastasya.
"Harusnya dulu aku menerima ajakan Willi untuk menikah.Dan tidak tergoda dengan adik nya Jeremy! " ujar Vivian.
"Tapi adik nya boleh juga kan? " situlang lunak Rega kegirangan.
"Ya, secara sifat adiknya lebih romantis. Tapi Willi cukup kompeten dalam keuangan! " Anastasya membedakan dua beradik itu.
"Ngomong-ngomong dimana sekarang keberadaan Jeremy? " tanya Rega
"Aku tidak tahu, kami berpisah setelah dia tahu aku kekasih kakaknya! " ucap Anastasya.
"Apa Willi mengetahui hubungan kalian? " tanya Rega semakin penasaran.
"Awal nya dia tidak curiga,ketika aku dan Jeremy makan malam romantis di sebuah restoran. Tanpa diduga, ternyata Willi juga sedang ada acara meeting di restoran tersebut! "
"Haaaa! Apa yang terjadi selanjutnya? " tanya si tulang lunak.
"Willi tidak lagi bisa aku hubungi, dan dia tidak bicara dengan Jeremy bahwa kami adalah kekasih. Aku memilih jalan bersama adik nya! " jelas Anastasya.
"Seperti di film-film ya kisah kalian! " ujar Rega.
Anastasya tersenyum penuh kemenangan.
Keesokan harinya, Anastasya datang keperusahaan Hudson.
Dengan pakaian yang minim dan belahan dada yang sedikit diumbar. Anastasya berjalan menuju resepsionis.
"Panggilkan Willi Hudson, saya ingin bertemu! " ujar Anastasya.
"Maaf, anda siapa. Apakah sebelumnya sudah buat janji? " tanya petugas resepsionis.
"Maaf nona, anda harus buat janji dulu. Dan itu sudah peraturan perusahaan! " jelas resepsionis.
Anastasya mengambil ponsel nya dan menghubungi Willi.
Tapi nomor itu tidak terhubung. Kembali dia menghubunginya lagi.
Tetap seperti semula, hanya terhubung ke kotak suara.
"Brengsek! " maki Anastasya.
"Tolong panggilkan bos kalian sekarang juga, bilang pada nya Anastasya calon istrinya ingin bertemu! " Anastasya percaya diri.
"Maaf nona, untuk saat ini tuan Willi tidak bisa di ganggu. Beliau ada rapat! " jawab Resepsionis.
"Kenapa bertepatan saat aku datang dia rapat? " Anastasya kehilangan kesabaran.
"Brakkkkk! " Anastasya menghamburkan semua peralatan yang ada di meja resepsionis.
Kertas-kertas berjatuhan, pena dan juga pot bunga kecil pecah berserakan dilantai.
Petugas resepsionis terlihat panik.
"Nona tenang lah, kami hanya menjalankan tugas saja! " jawab petugas resepsionis.
"Panggil sekarang juga, atau aku akan hancurkan yang lainnya! " ancam Anastasya.
Karena takut masalah tambah parah. Resepsionis menghubungi ruang kerja Willi.
"Ada apa! " tanya Willi di sambungan telepon.
__ADS_1
"Maaf tuan mengganggu, ada wanita marah dan menghancurkan segalanya disini tuan! " jelas petugas.
"Siapa wanita itu? " tanya Willi.
"Katanya dia calon istri bapak! " jelas petugas.
"Istri? Sejak kapan aku memiliki calon istri! " mata Willi memerah.
Telepon pun terputus.
"Tunggu sebentar nona, tuan Willi sebentar lagi turun! " jelas petugas.
Tak ingin jadi tontonan.
Willi menekan telepon perusahaan.
"Robby, kamu turun ke bawah. Dan lihat wanita yang mengaku calon istri ku! " perintah Willi.
Robby buru-buru turun, dan terlihat seorang wanita seksi yang lebih mirip perempuan jal*ng.
Robby menghampiri nya.
"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanya Robby.
"Aku harus bertemu dengan Willi, dia harus bertanggung jawab! " hardik Anastasya.
"Tanggung jawab seperti apa? " tanya Robby bingung.
"Apa aku harus menjawabnya disini dan diketahui semua orang? "" tanya Anastasya menantang.
"Tunggu sebentar! " Robby meminta wanita itu untuk menahan kata-katanya.
Robby merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.
"Tuan, nona Anastasya ingin bertemu. Dan dia bilang ingin menyampaikan sesuatu.! " lapor Robby.
"Kenapa harus menunggu aku, kamu saja yang tangani! " minta Willi.
"Tapi ini bersangkutan tuan! " ucap Robby.
"Baiklah,bawa dia naik. Aku ingin mendengar penjelasannya! " pinta Willi telepon pun putus.
"Baiklah nona, anda bisa ikut ke atas! " Robby mengarahkan Anastasya untuk menuju lift.
Ketika di dalam lift, Anastasya tampak begitu senang. Karena akan segera bertemu Willi.
"Aku akan menjadi nyonya Hudson! " batinnya gembira.
"Tok tok tok! " ketukan dipintu.
"Masuk! " jawab Willi.
Robby pun masuk dan susul Anastasya.
"Saya permisi dulu tuan! " Robby undur diri merasa masalah itu mungkin pribadi.
"Untuk apa kamu datang kesini? " tanya Willi.
"Aku minta pertanggungjawaban mu!" Anastasya serius.
"Apa yang kulakukan padamu? " tanya Willi.
"Aku hamil, dan ini adalah anakmu! " ungkap Anastasya.
"Degh"
__ADS_1
Jantung Willi berdetak kencang, dia tidak menyangka bahwa wanita yang kehadiran nya tidak di inginkan mengandung bibit dari Willi.