
Robby merasa kosong, karena tidak menemukan Vivian dimana-mana.
Ingin memberitahu pada Willi, sudah pasti Willi akan marah. Karena dia tidak ingin mendengar berita kosong.
Robby masuk kedalam mobil dan berfikir sejenak. Tempat yang sekiranya dikunjungi oleh Vivian.
Tapi tak menemukan penjelasan. Robby kembali kekosan untuk bertanya pada teman nya.
Robby sampai dikosan "Tok... tok...! " ketukan pintu.
Liana yang sudah tertidur lelap, kaget dengan suara ketukan yang cukup keras. Dia segera bangkit, takut penghuni yang akan terganggu.
Dia intip siapa yang mengetuk "Orang itu lagi, apa sebenarnya yang dia cari?"
Liana membuka pintu Ada apa lagi tuan? " tanya nya.
"Apa kamu tahu teman-teman nona Vivian yang lainnya? " tanya Robby.
"Aku tidak tahu tuan, karena biasanya dia selalu bersama ku! " jawab Liana emosi karena tidurnya terganggu.
"Teman-teman kerjanya, adakah yang kamu kenal dekat dengan nya? " Robby putus asa.
"Seingat ku dia tidak terlalu dekat, dan bahkan dia tidak berbagi cerita pada teman kerja nya! " jelas Vivian.
Robby mengusap kasar rambutnya "Maaf telah mengganggu tidur anda! " Robby pun pergi.
Karena tidak tahu lagi mencari Vivian kemana. Robby mengambil ponsel nya "Tuan, maaf..! Aku tidak menemukan nona Vivian! " ucap Robby.
"Apa kamu sudah mencari keseluruh tempat yang dia biasa kunjungi? " tanya Willi sambil mondar mandir gelisah.
"Sudah tuan, dan bahkan saya sudah kerumah sakit tempat mama nya dirawat. Tapi beliau tidak ada. " jawab Robby.
Willi menutup teleponnya "Seperti yang sudah aku prediksi! " ucap Robby.
Tidak ada lagi tempat untuk di tuju, Robby memilih kembali ke apartemen nya.
"Aku sudah mengantuk, besok lagi saja dicari. Lagian apa masalah sebenarnya sampai nona Vivian tidak kembali! " Robby terus saja bergumam sendiri.
Willi berusaha untuk memejamkan matanya.Tapi tetap tidak bisa, karena hatinya khawatir dengan Vivian yang tidak diketahui keberadaan nya.
Sementara Romie kembali kerumah dengan senyum dan wajah gembira.
Dia masuk kedalam rumah, semua terasa sunyi. Orang-orang sudah pada tidur, termasuk mama nya sendiri Rose.
Didalam kamar, Romie membayangkan andai Vivian bisa dia miliki. Ternyata perasaan Romie ke Vivian tidak main-main. Dia sudah merasakan suka sejak pandangan pertama.
"Tapi kenapa Vivian seperti orang yang tidak bahagia. Bukan kah mereka baru saja menikah? " lirih Romie.
Jam 5 pagi, Vivian yang tertidur pulas sudah bangun. Pandangan nya nanar dan kepalanya pusing.
"Aduh kepala ku sakit..! " rintih Vivian sambil memegangi kepala nya.
Setengah hampir sepenuhnya sadar, Vivian memandang kelangit-langit.
Dia terdiam sejenak "Dimana ini, kenapa aku bisa disini? " mentelaah apa yang telah terjadi.
"Tadi aku bersama Romie, dan minum.... " Vivian menutup bibirnya.
Dia memeriksa pakaian yang dia kenakan. Semua masih lengkap, dia bangkit dan berjalan kekamar mandi.
__ADS_1
Tapi dia tidak merasakan apa pun yang janggal.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Tapi rasanya memang tidak terjadi apa-apa! " omong Vivian.
Dia segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket bergetah. Karena tidak memiliki baju ganti, dia kembali mengenakan baju yang sebelumnya.
Vivian mengambil ponselnya, tapi ponsel itu mati kehabisan baterai.
"Aduh, pakai acara mati lagi. Jam berapa sekarang ini? "
Vivian keluar dari kamar, dia berjalan menuju resepsionis dilantai bawah.
Setelah di bawah "Bisa tolong di cas ponsel saya..! " pinta Vivian.
Resepsionis dengan ramah mengambil ponsel dan mencas nya.
"Maaf, apa anda tahu siapa yang membawa saya kesini? " tanya Vivian pada petugas resepsionis.
"Maaf nona, yang membawa anda seorang pria. Setelah mengantarkan anda kedalam kamar. Dia pun segera pergi.!" jelas petugas.
"Berarti Romie..! " gumamnya.
"Maaf boleh tahu jam berapa sekarang? " tanya Vivian.
"Jam 5 pagi nona..! " jawab nya.
"Apa..? Habis lah aku. Bisa mati kalau begini! " Vivian terlihat tak menentu.
Petugas resepsionis bingung dengan tingkah Vivian "Ada apa nona? " tanya nya.
"Tidak apa-apa, bisa saya pinjam cas hape nya. Saya mau pakai sebentar! " ucap Vivian.
Vivian menerima nya dan segera mencari tempat duduk dan juga lobang untuk mencas.
"Ah, disana saja..! " Vivian melihat sofa di pojokan.
Dia mencas sambil menghidupkan ponsel nya. Setelah aktif, beberapa pesan dan panggilan tak terjawab.
Dia buka satu persatu, pesan dari Liana.
Panggilan tak terjawab dari Willi, Robby dan juga Liana.
"Kenapa jadi begini, apa alasan ku nanti ketika ditanya. ? "
"Mampus la aku kali ini! " gerutu Vivian.
Wajah nya terlihat gusar, pegangan ponselnya tidak kokoh. Tangan nya terlihat seperti bergetar.
"Bagaimana ini, apa aku tidak usah kembali saja kesana. Tapi tidak mungkin, aku masih ada kontrak. Dan aku masih membutuhkan uang itu untuk menyembuhkan mama.! " lirihnya.
"Harus berani mengambil resiko, aku akan tunggu hari terang baru kembali kemansion.! " batin Vivian.
Setelah dua jam, matahari terlihat bersinar terang sehingga menyilaukan mata.
Vivian menyerahkan cas yang tadi dia pinjam segera keluar dari hotel.
Tanpa harus menunggu lama, Vivian memanggil taksi yang sudah mangkal didepan hotel.
Diperjalanan, Vivian berdoa sesekali mulut nya terdengar komat kamit seperti orang yang lagi membaca mantra.
__ADS_1
Dia merasa takut ketika harus berhadapan dengan Willi.
Sekali pun Vivian belum pernah melihat Willi marah. Tapi selama ini juga Willi terlihat dingin. Bisa di tebak bahwa dia mempunyai sifat marah yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Mobil tiba didepan gerbang, tapi security tidak membukakan pintu.
Vivian harus turun untuk melanjutkan masuk kedalam.
"Nona Vivian? Maaf, saya tidak membuka pintu. Saya fikir anda orang lain! " ucap Security.
"Tidak apa-apa pak, saya yang salah! " balasnya ramah.
Vivian mendekat ke arah security "Pak, apa tuan ada didalam? " tanya Vivian.
"Iya nona, beliau masih belum berangkat! " jelas security.
"Ah, kenapa dia belum berangkat.Bukan kah jam sekarang seharus nya dia sudah pergi! " fikir Vivian.
Dengan langkah waspada, dia mengendap-ngendap seperti pencuri.
Perlahan dia masuk menuju pintu utama. Pak Im yang berada diteras samping melihat kedatangan Vivian.
Tak tinggal diam, Pak Im berjalan mendekati Vivian.
"Ekheemmm.! " sebuah suara dari arah belakang Vivian.
Vivian tersentak kaget, dia merasa takut. Sehingga memejamkan kedua matanya.
"Selamat pagi nona Vivian..! " suara Pak Im.
Vivian membuka matanya sebelah "P.P.Pak Im.! " sebut Vivian.
"Pagi sekali, nona Vivian dari mana? " tanya Pak Im.
"Sa-saya dari luar. Cari udara, ya udara segar! " jawab Vivian menyunggingkan senyuman.
"Siapa pak..? " sebuah suara.
"Noma Vivian tuan.. ! " jawab Pak Im.
Vivian bergetar, dada nya turun naik. Jantung nya seakan ingin melompat keluar.
Willi berjalan mendekat, dan memperhatikan Vivian.
Vivian tidak melihat sedikit pun ke arah Willi.
Entah kenapa, Willi tidak marah atau bahkan bicara. Dia terlihat biasa saja saat melihat kehadiran Vivian.
Sebuah suara terdengar mendekat, itu adalah suara mobil. Siapa lagi kalau bukan Robby.
Ketika melihat Vivian yang masih berdiri terpaku dipintu. Robby menghampirinya.
Tapi tatapan Willi seakan memberi tahu , jangan perdulikan.
Robby membatalkan niatnya untuk berbicara pada Vivian.
Karena merasa tidak ada masalah apa pun. Vivian berjalan menuju kamarnya.
Disana dia merasa tidak percaya, semua terasa sangat mudah. Dan bahkan Willi tidak memarahi nya.
__ADS_1