
Saat Rihana akan membuka pintu , Alfa buru-buru bangkit dan menahan tangannya .
"Ku mohon jangan pergi! " ucap Alfa tiba-tiba.
Sontak saja membuat Rihan memandang pada Alfa.
"Jangan pergi! " ucap Alfa lagi.
"Tapi tuan, seseorang sedang menunggu ku dibawah sa.... "
"Chup! " sebuah kecupan mendarat di bibir Rihana.
Rihana terkejut atas tindakan Alfa yang tak di diduga.
"Apa yang tuan yang lakukan? " tanya Rihana sembari memegang bibirnya.
Alfa menepis tangan Rihana yang menyentuh bibirnya dan kembali mengecup bibir mungil itu. Dan kali ini Alfa begitu bergairah menikmati bibir merah gadis itu.
Rihana berusaha berontak tapi tenaga nya tidak setimpal dengan Alfa yang begitu kuat.
Lama Alfa bermain, sehingga membuat Rihana tidak tahan. Dan Rihana begitu terhanyut dengan ciuman Alfa.
******* nafas yang awalnya hanya di rasakan oleh Alfa, kini ditambah dengan ******* nafas Rihana.
Mereka menikmati setiap sentuhan bibir satu sama lain.
"Tring tring tring! " suara ponsel Rihana.
Deringan ponsel membuat gayutan bibir mereka terhenti seketika.
Rihana merogoh tasnya dan melihat panggilan yang masuk.
Saat itu juga Alfa menarik tangan Rihana dan melepaskan ponselnya.
Alfa membawa Rihana menuju Sofa, dia kembali ******* bibir ranum itu.
Rihana menahan tubuh Alfa.
"Maaf tuan, Bram pasti sudah menunggu ku dibawah! " ucap Rihana.
Alfa menghentikan aksinya dan mengambil ponsel Rihana yang masih berdering.
Dia menekan tombol hijau dan mendekatkan pada telinga nya.
"Kamu pergi saja, aku yang akan mengantar Rihana pulang! "jawab Alfa.
Rihana menarik ponsel nya dan terlambat, Alfa sudah mematikan teleponnya.
" Apa yang tuan lakukan, kenapa tuan bisa seperti ini? Tuan seolah-olah ingin mempermainkan aku! " wajah Rihana terlihat sedih.
Mendengar ucapan Rihana, Alfa pun mendekat membawa Rihana dalam pelukannya.
"Aku tidak ada niat untuk bermain-main denganmu. Aku menyukai mu! " ungkap Alfa
Rihana terdiam dan melepaskan pelukan Alfa.
"Mungkin tuan sudah terbiasa mempermainkan wanita. Karena tuan memiliki segalanya! " ungkap Rihana dengan nada kesal.
"Apa yang kau katakan? Aku bukan seperti pria yang kau kenal diluar sana! "
"Aku menyukai mu dari lubuk hati yang paling dalam! "
__ADS_1
Rihana tidak percaya dengan ucapan Alfa yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tuan, aku wanita yang keberapa tuan beri harapan? " tanya Rihana.
"Kamu adalah yang pertama! " jawab Alfa.
Mendengar ucapan Alfa, Rihana menangis tersedu-sedu.
"Mungkin aku terlihat bodoh dan miskin tuan. Tapi aku tidak bodoh jika seorang pria suka atau bukan. Dan satu yang tuan harus tahu, saya bukanlah wanita ideal pria kaya seperti anda." ujar Rihana.
Baru saja Rihana bangkit, tapi kembali Alfa menahannya
"Kamu tidak percaya pada ku? " tanya Alfa.
Rihana hanya memandanginya.
"Baiklah! " Alfa mengambil jas kerja nya yang digantung. Dia merogoh saku sebelah kiri dan kembali mendekati Rihana.
Dia menunjukkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Mata Rihana fokus pada cincin yang ada didalam kotak itu.
"Maukah kau menikah dengan ku? " tanya Alfa.
Rihana tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan yang dia lihat.
Perlahan, Rihana mencubit tangan kirinya.
"Ini bukan mimpi! " gumamnya.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu bersedia menikah dengan ku?" tanya Alfa lagi.
Tidak tau harus memberi jawaban apa. Rihana menjauh dari Alfa.
Alfa kembali menutup kotak kecil itu.
Karena tak jua mendapatkan jawaban. Alfa kembali mengenakan jas nya dan mengambil ponselnya yang di meja.
"Ayo! Aku akan mengantarkan mu! " ucap Alfa dan membuka pintu.
Rihana yang masih dilanda kebingungan hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Alfa. Mereka berjalan menuju lift, tanpa bicara satu sama lain.
Ketika di mobil, Rihana memilih untuk membuang pandangan nya keluar. Sehingga dia tidak perlu merasa bersalah.
Saat tiba didepan rumah Rihana, dia pun membuka pintu.
Saat akan keluar, tangan nya ditahan oleh Alfa.
"Bawalah cincin ini! " Alfa memberikan kotak kecil tadi.
"Untuk apa tuan memberikan ini pada ku? " tanya Rihana.
"Kamu pikirkan kembali apa yang saya katakan sebelum nya. Jika kamu setuju, kamu bisa memakai cincin ini. Jika kamu tidak setuju, kamu bisa meletakkan kotak itu dimeja ku! " ujar Alfa.
Setelah menerima kotak kecil itu, Rihana pun keluar.
Saat di dalam kamar, Rihana tampak gelisah. Dia masih menatap cincin yang diberikan oleh Alfa sebelumnya.
Jauh di lubuk hati yang terdalam, dia juga menyukai setelah kejadian penembakan itu. Tapi dia juga menyadari di antara mereka ada pagar pembatas yang begitu tinggi.
"Apa yang harus aku lakukan. Aku takut jika tuan Alfa hanya menjadikan ku permainannya." batin Rihana.
Sambil baring, Rihana masih saja memandang kotak kecil itu. Sampai lah pada akhirnya dia tertidur.
__ADS_1
Keesokan harinya, saat berangkat kerja. Rihana kembali memandangi kotak itu. Tapi dia tidak berani mengambil keputusan.
"Ah sudah lah! " Rihana pun keluar dari kamar.
Saat dikantor, Rihana masuk keruangan Alfa menyerahkan dokumen.. Saat menerima dokumen itu, mata Alfa tertuju pada jari Rihana.
Seperti kecewa, karena tidak melihat cincin yang iya berikan kemarin tidak di pakai oleh Rihana.
Enam hari berlalu, Rihana masih saja belum membuat keputusan.
Saat di ruangan Alfa , kembali matanya tertuju pada jari Rihana. Tapi tetap saja tidak ada cincin yang melingkar.
Seperti sudah putus asa,Alfa sudah tidak begitu mengharapkan lagi keputusan Rihana untuk menerima nya.
Dan tepat di hari ke tujuh, setelah berpikir selama seminggu. Akhirnya Rihana mengambil keputusan, bahwa dia akan menerima Alfa. Setelah mandi dan bersiap-siap akan berangkat, dia mengambil isi kotak kecil itu dan memakainya. Tidak lupa dia juga membawa serta kotak itu bersama nya.
Saat Alfa masuk keruangan kerjanya, terlihat kotak pemberian nya berada di atas meja. Tubuh Alfa terasa lemas tak berdaya. Tanpa melihat isi dari kotak itu, Alfa langsung membuangnya kedalam tempat sampah.
Rihana yang menunggu respon dari Alfa tidak juga mendapatkan kabar. Dia sudah merasa senang, jika Alfa akan datang dan tersenyum setelah keputusan nya untuk menerima Alfa.
Sudah hampir jam 3 , tapi Alfa sama sekali tidak keluar dari ruangannya.
Saat Rihana ingin mencoba memeriksa kedalam, pintu pun terbuka.
"Apa yang kamu lakukan? " wajah Alfa terlihat sangar.
Rihana ciut dan melangkah mundur.
Alfa meninggalkan nya tanpa senyum atau basa basi. Rihana merasa hatinya sakit ketika Alfa tidak peduli pada nya.
"Ada apa dengan nya? Padahal aku sudah memakai cincin darinya! " batin Rihana.
Saat sore, Rihana sengaja menunda kepulangannya untuk bisa bertemu dan berbicara dengan Alfa.
Saat Alfa keluar dari ruangannya.
"Tuan! " panggil Rihana.
Langkah Alfa terhenti tanpa menoleh pada Rihana.
"Ada apa dengan tuan, bukan kah sebelumnya semua baik- baik saja?" tanya Rihana sembari berusaha menyentuh tangan Alfa.
Alfa menarik tangan Rihana dan menghempaskan kan nya dengan kasar sehingga Rihana ikut terjatuh.
"Augh! Sakit tuan. Kenapa tuan sekasar ini? " Rihana mengusap pergelangan tangannya yang sakit.
Baru akan meninggalkan Rihana yang masih terduduk dilantai. Mata Alfa fokus pada benda yang melingkar pada jari Rihana.
Alfa pun berjongkok.
"Sejak kapan kamu mamakai cincin ini? " tanya Alfa.
"Sejak malam tadi! " jawab Rihana.
Suasana hati Alfa kembali merasa berbunga-bunga. Dia membantu Rihana untuk bangkit.
"Aku minta maaf! " ucapnya.
"Kenapa tuan begitu kasar? " tanya Rihana kesal.
Tanpa menjawab pertanyaan Rihana, Alfa memeluk Rihana dan mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.
__ADS_1