Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 32.ORANG DARI MASA LALU


__ADS_3

Malam pun tiba, Willi sudah menunggu Vivian di depan mobil.


Vivian dengan gaun berwarna coklat, berjalan mendekat. Walau wajahnya dipoles dengan makeup, tapi tatapan nya tak bisa di tutupi. Bahwa dia begitu bosan dengan apa yang dilakukan oleh Willi.


"Kita berangkat! "


Mereka pun menuju sebuah gedung, begitu sampai semua mata tertuju pada mereka berdua. Bagaimana tidak,sang pria yang terlihat berkarisma sementara si wanita bak seorang putri.


"Mereka pasangan serasi! " ujar orang-orang yang memandang.


"Serasi dimata kalian, tapi tidak bagi ku. " batin Vivian.


Vivian, Willi dan Robby naik ke lantai atas. Ketika pintu lift terbuka, tampak deretan lilin menghiasi sepanjang jalan. Kelopak bunga mawar bertaburan, harum nya tak bisa disembunyikan.


Vivian terperangah dengan semua yang iya lihat.


Willi berjalan selangkah di hadapan Vivian, dia mengulurkan tangan kanannya.


Vivian merasa kikuk dengan perubahan Willi tersebut. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


Dia sambut uluran tangan itu, mereka melangkah bersama.


Terlihat sebuah meja yang juga di hiasi lilin putih.


"Apa ini semua? " Vivian bingung.


"Ini semua aku persembahkan untuk mu! " ucap Willi.


Masih tidak percaya dengan ucapan pria nya tersebut.


Willi menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Vivian untuk duduk.


Dan Willi memilih duduk di bagian depan Vivian.


"Mana tangan mu? " tanya Willi.


Vivian masih bingung "Untuk apa? "


Perlahan dia mengulurkan tangannya,perlahan Willi menyarungkan sebuah cincin ke jari manis Vivian.


Tak percaya dengan apa yang ada dimata nya.


"Aku minta maaf atas semua perlakuan ku selama ini! " ucap Willi lembut.


"Untuk apa kamu minta maaf? " tanya Vivian.


"Aku tahu, jauh didalam hati mu ada rasa tidak suka pada perlakuan ku selama ini. Dan aku minta maaf untuk itu! " Willi terlihat berbeda malam ini.


"Mimpi apa nih orang, bisa-bisa nya minta maaf. Biasanya juga dia yang merasa paling berkuasa! " batin Vivian.


Beberapa pelayan datang membawa beraneka ragam hidangan.


Meja begitu penuh dengan pilihan,jiwa kuliner Vivian terasa terpanggil.


Dia tidak menghiraukan Willi yang sedari tadi memperhatikannya.


Tanpa fikir panjang Vivian mencicipi sebuah stik daging yang terlihat menggoda.

__ADS_1


"Cacing diperut ku dari tadi meronta-ronta minta di beri makan! " batin nya.


Willi hanya bisa tersenyum, melihat sikap Vivian yang tidak bisa ditebak.


Setelah melahap habis stik tadi, kembali mata Vivian terfokus pada mangkok yang yang lebih mirip seperti bubur.


Dia sambarnya mangkok tersebut, dan melahap tanpa basa basi.


"Pelan-pelan Vivian, tidak ada yang mau mengambil makanan mu! " ujar Willi.


Seketika Vivian terpaku mendengar ucapan Willi.


"Apa yang ku lakukan, kenapa aku seperti orang kesurupan? " batin nya.


Vivian berhenti tanpa memandang wajah suami nya itu.


Sebuah musik di mainkan, irama biola dan piano terdengar indah.


Willi mengulurkan tangan nya pada Vivian.


"Ayo kita berdansa ! " ajak Willi.


"Ta-tapi, aku tidak pandai berdansa tuan! " jawab Vivian.


"Ayo lah! " paksa Willi.


Vivian menerima uluran tangan itu, dia menjadi tak karuan saat wajah mereka bersitatapan. Jantung nya seakan ingin melompat keluar. Dan tak jarang Vivian tak sengaja menginjak kaki Willi.


Tapi Willi dengan profesional bisa mengimbangi dan membuat tarian mereka terlihat alami.


"Apa kau tahu, aku tidak ingin kau menganggap ku sebagai laki-laki yang kejam! " ucap Willi sembari berdansa


Setelah musik berhenti, Willi dan Vivian pun berhenti.


Mereka kembali meneguk minuman yang berada di atas meja.


Tempat itu hanya ada mereka berdua, tidak ada orang karena memang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Robby atas permintaan Willi.


Makan malam berjalan dengan lancar, berangsur rasa benci Vivian memudar padanya.


Ketika mereka baru tiba, terlihat sebuah mobil asing terparkir di depan rumah. Willi memperhatikan mobil itu, dan dia tahu itu milik salah satu dari duo bujang lapuk.


Willi dan Vivian keluar dari mobil, berjalan menuju pelataran pintu utama.


Saat berada di dalam, terlihat Brian dan Sebastian sedang melihat televisi.


"Eekheemmm! "


Duo bujang melihat kebelakang.


"Kamu dari mana, ponsel mu gak aktif lagi" sungut Brian.


Vivian pun menyusul dari belakang.


"I-ini siapa? " tanya Sebastian.


"Kamu masuk lah duluan! " perintah Willi pada Vivian.

__ADS_1


Dia pun mengikuti apa yang dikatakan Willi.Meninggalkan mereka bertiga.


Sebastian mendekat "Hei, siapa wanita itu? " tanya nya berbisik.


Willi memandang tajam ke arah nya "Dia wanita ku! " jawabnya.


Duo bujang lapuk terperangah tidak percaya.


"Apa kau yakin? Tapi seperti nya aku mengenal wanita itu! " ucap Brian sedikit mengingat pernah jumpa dimana.


"Tunggu dulu, bukan kah itu wanita yang waktu itu menjadi supir pengganti! " ujar Sebastian.


Brian mengangguk-angguk dan menjetikkan jari nya "Benar, seperti dugaanku. Makanya melihat wanita itu seperti tak asing! "


"Ah sudah lah, kita tidak usah membahas itu.Apa yang membuat kalian datang kesini? " Willi mengalihkan pembicaraan.


"Hei bro, apa kamu tidak tahu berita terbaru? " tanya Brian mendekatkan duduknya pada Willi.


Willi terlihat biasa saja.


"Wah , melihat santai mu berarti kamu sudah pasti tidak tahu berita nya! " tambah Sebastian.


"Anastasya! " Brian menyebutkan nama seorang wanita.


Willi terdiam, bibirnya terbuka separuh.


"Ada apa dengan nya? " tanya Willi penasaran.


"Dia baru saja tiba di negara ini! " jawab Sebastian.


Jantung Willi berdetak tak menentu, orang dari masa lalu nya telah kembali dan sekali pun dia tidak pernah melupakannya.


"Beberapa malam yang lalu, dia hadir di acara perusahaan Y! Bukan kah kamu berada disana? "


Percakapan mereka bertiga didengar oleh sepasang telinga lainnya.


Setelah kepergian dua orang sahabatnya itu. Willi memilih untuk minum dilantai bawah. Dia merasa frustasi ketika mengingat wanita masa lalu nya.


1 botol telah habis, Willi mulai sempoyongan.


"Anastasya! " bibirnya meracau nama wanita itu.


Vivian yang belum tidur, memilih turun dan mendekati Willi.


Willi terlihat kusut, karena dia bukan peminum sejati. Vivian menarik botol yang baru saja Willi ambil.


Willi mengalihkan pandangannya menatap lekat pada Vivian.


"Anastasya, sekarang kau kembali! " Willi sudah tidak mengenali orang dengan jelas.


"Maaf tuan, aku bukan Anastasya! " Vivian menahan tubuh Willi agar tidak mendekat padanya. Karena bau alkohol yang menyeruak, Vivian hampir saja muntah.


Willi terus saja meracau tak jelas. Saat ini dia sendiri tidak memiliki kekuatan untuk berjalan menuju ke kamar atas.


"Tuan, sebaik nya anda beristirahat saja! " minta Vivian.


Dia berusaha menuntun Willi untuk bangkit. Karena tubuh yang kecil, dia tidak bisa berdiri seimbang ketika tubuh Willi jatuh kehadapannya.

__ADS_1


Tubuh Vivian terhimpit di sofa, sementara Willi sudah tidak sadarkan diri.


__ADS_2