Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 53.BERTEMU SAHABAT TERBAIK


__ADS_3

Keesokan hari nya, Willi ingin segera pergi menuju kediaman Vivian.


Dengan menyewa sebuah mobil, agar memudahkannya pergi kemana pun. Dia terlihat bahagia, karena akhirnya bisa bertemu dengan orang yang sudah dia nanti-nantikan selama ini.


Tibalah dia di depan sebuah cafe. Willi melihat ke atas nama cafe tersebut.


"Ini tempatnya? " bermonolog.


Willi melangkah masuk kedalam, karena berita yang dia dapat Vivian bekerja di cafe tersebut.


Memilih sebuah meja dengan dua bangku. Willi memesan secangkir espresso.


Tak lama, seorang pelayan datang membawa pesanan nya.


Sebelum pelayan itu pergi.


"Sebentar! "


Pelayan itu kembali berbalik melihat Willi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan? "tanya pelayan lelaki itu.


" Apakah ada salah satu pelayan disini yang bernama Vivian? "tanya Willi.


Willi mengambil ponsel nya.


" Ini orang nya! " Willi menunjukkan sebuah foto di ponsel nya.


Pelayan lelaki itu tersenyum.


"Ya, dia salah satu karyawan disini! " jawab lelaki itu.


"Bolehkah aku bertemu dengannya? " tanya Willi penuh harap.


Pelayan lelaki itu menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Tapi maaf tuan, untuk saat ini dia tidak masuk kerja! " jelas pelayan.


"Kenapa? " tanya Willi.


"Beberapa hari yang lalu, dia ijin ingin pulang kampung katanya! " jawab lelaki itu.


Willi masih bingung, pulang kampung seperti apa yang pelayan ini maksud.


Melihat wajah Willi yang bingung.


Pelayan itu faham.


"Dia pulang kenegara nya! " jawab pelayan.


Willi terdiam sejenak.


"Apa ada yang ingin tuan tanyakan lagi? " tanya pelayan.


"Tidak, terima kasih! "


Pelayan itu pun berlalu. Willi masih belum percaya dengan yang dikatakan oleh pelayan tadi.

__ADS_1


Setelah menghabiskan minumnya. Willi berjalan keluar, memperhatikan tangga yang ada di samping dinding cafa.


"Apa ini jalan menuju ke atas? " bermonolog.


Willi melihat kekiri dan ke kanan. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan,Willi melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga. Setelah di atas, matanya mengitari sekeliling rooftop yang di tanami beberapa macam tumbuh sayur dan buah.


Terlihat sebuah pintu berwarna kuning. Willi mendekat dan mengangkat tangan nya ingin mengetuk pintu.


"Apakah harus aku ketuk saja atau menunggu? " batin nya.


Setelah menimbang-nimbang, Willi memutuskan untuk mengetuknya.


"Tok tok tok! " ketukan pertama.


3 kali Willi mencoba, tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam.


Hati nya sudah tidak sabar ingin segera melihat wajah istri nya. Selama 3 tahun ditinggal oleh Vivian, Willi tidak pernah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.


Karena tidak juga ada suara, Willi memutuskan untuk mendobrak nya saja.


"Brrrukkk! " suara pintu di tolak dengan keras.


"Brrrukk! " kembali dia mencoba belum ada perubahan.


"Brrukk! " dan pintu itu terbuka sehingga menghancurkan gagang dan bagian lobang kunci nya.


Dengan wajah memerah dan bahu yang sedikit sakit setelah membuka pintu tadi, Willi melangkah kedalam. Dia melihat sekeliling ruangan kecil itu.


"Tidak ada orang disini? Kemana dia pergi? "


Foto Vivian bersama anak kecil.


"Anak siapa ini? " batin nya.


Willi lebih mendekat ke arah foto tersebut. Hati nya seperti tertarik dengan anak yang ada di pelukan Vivian.


Willi melepaskan foto itu dari bingkainya. Merasa yakin tidak ada orang, Willi kembali keluar dan merapikan jas nya.


Kembali berjalan menuruni anak tangga, dia berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.


Willi mengambil ponsel nya dan menghubungi Robby.


"Hallo Robby, aku ingin minta pertolongan mu! " ucap Willi.


"Pertolongan apa tuan? " tanya asistennya tersebut.


"Aku ingin kamu pastikan bahwa Vivian ada bersama teman nya Liana!" minta Willi.


"Maksudnya? Bukan kah nona Vivian ada di negara H?" tanya Robby.


"Jangan banyak bertanya lagi, kerjakan apa yang aku suruh! " tegas Willi.


"Baik tuan!" jawab Robby dan menutup teleponnya.


"Dasar bos sinting, keras kepala. Makanya Vivian pergi! " Robby merutuki bos nya tersebut.


Di lain tempat.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Vivian dan Alfa mencari taksi lagi untuk mengantarkan mereka ke alamat yang akan dituju.


Setelah terlihat sebuah taksi Vivian memanggilnya.


Taksi pun berhenti, Vivian kembali melanjutkan perjalanan nya menuju kediaman Liana.


Tak lama, hanya 1 jam mereka pun sampai bawah apartemen.


Setelah membayar taksi pun pergi.


Vivian merogoh ponsel nya dari dalam tas. Dia memanggil sebuah nomor.


"Tut tut tut! " panggilan terhubung.


"Hallo! " sebuah suara wanita dari telepon.


"Li, ini aku! " ucap Vivian.


"Vivian! Apa kabarmu? 'tanya sahabatnya tersebut.


" Aku baik-baik saja. Kamu dimana? ' tanya Vivian.


"Aku dirumah! " jawab Liana.


"Tepat sekali , aku sekarang ada di bawah. Bisa kamu jemput kami? " tanya Vivian.


"Seperti tuan putri saja! Baiklah saya segera ke bawah! "jawab Liana. Telepon pun berakhir.


" Sayang, bentar lagi kita akan istirahat? "Vivian menenangkan anaknya yang sudah berulang kali menguap.


Tak lama.


" Vivian! " panggil Liana dari depan tangga.


"Liana! " mereka sama-sama berlari mendekat.


"Ya Tuhan, kamu akhirnya datang juga! " ucap Liana.


"Ini negara kelahiran ku, tidak mungkin aku tidak kembali! " ucap Vivian.


Mata Liana tertuju pada bocah yang berada di belakang Vivian.


Liana berjongkok "Ini siapa? " tanyanya sambil mencubit geram pipi Alfa.


"Ini anak ku! " jawab Vivian.


Mata Liana memandang tak berkedip pada Vivian.


"Anak mu? Dari suami yang baru? " tanya Liana asal keluar.


"Enak saja, ini anak Willi! " jelas Vivian.


"Anak Willi? Bukan kah kamu sudah berpisah. Apa kalian tetap berhubungan saat di luar negeri?" tanya Liana.


"Nanti saja bertanyanya,lihat anak ku sudah lelah! " ucap Vivian.


"Oh, maafkan tante ya nak.Ayo kita ke atas dulu! " Liana menggendong tubuh kecil Alfa dan menuju tangga.

__ADS_1


__ADS_2