Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

             🍂🍂 Part 04 🍂🍂


Shaquenna yang khawatir terus meminta maaf pada Mommy dan Daddynya yang terus memasang wajah tak percaya. Saat melihatnya tampil berantakan mereka masih sabar tapi saat sang cucu mengatakan sedang melamar pekerjaan dan parahnya sudah di Terima menjadi pembantu itulah puncak rasa Shock dari sepasang baya tersebut.


"Mbul kurang duit? dari pada jadi pembantu Daren, mending jadi kang pijit kaki Daddy. Daddy bayar kamu pake uang 5 karung," ucap tuan besar Bramasta saking kesal nya.


"Gak mau, Daddy gak ganteng!" jawab Shaquenna sambil berlari ke kamar nya karna ia pun tak betah dengan yang di pakainya sekarang.


"Apa tadi Mbul bilang? Daddy kurang gak ganteng?" Gumamnya sambil meraba wajahnya yang tak lagi muda lalu melirik kearah sang istri.


"Apa??" tanya Mommy Viana yang kepalanya masih berdenyut kencang saking pusingnya memikirkan tingkah cucu semata wayangnya itu.


"Aku masih ganteng kan, Mom?"


.


.


Esok paginya, Mama Senja dan Papa Pangeran yang belum tahu dengan aksi konyol putri sebiji mereka itu masih bersikap santai saat di ruang makan, padahal kemarin anak hasil kerja keras Si Jambrong kukurusukan bersama si kribo itu sudah membuat geger se isi rumah.


"Kamu gak kuliah, Sha?" tanya Mama Senja.


"Enggak, Mbul mau nginep di rumah PandA boleh ya, mau temenin SyahRaa," ucapnya sambil meminta izin pada orang tuanya yang tak mungkin menaruh curiga jika sudah menyebut nama sepupunya tersebut.

__ADS_1


"SyaRaa aja suruh nginep sini," jawab Mama Senja.


"Ish, gak seru, pokoknya Mbul yang mau nginep disana," tolak nya sambil melirik ke arah sang Daddy yang kini mencibir karn tahu dengan rencana Shaquenna.


"Hem, tapi jangan lama-lama ya," sahut Papa Pangeran, si Ndut yang tak lagi Ndut namun sebaliknya tampan rupawan.


"Rebes!"


Shaquenna pamit pada Daddy, Mommy, Papa dan Mamanya, terlihat sepasang baya itu nampak khawatir dan cemas tapi ada lucunya juga saat ingat sang cucu dalam versi pembantunya.


Si gadis cantik yang hidupnya nyaris sempurna itu pun bergegas ke garasi menuju mobil mewahnya yang sudah siap di pakai.


"Huft, Daren belum ke kantor. Mana belum berubah wujud!" gerutunya sendiri dalam mobil yang kini sudah ia lajukan dengan kecepatan sedang.


"Huft--, Mbul jelek banget sih? jangan sampe dia jatuh cinta sana Shaquenna versi pembokat. Karna kalau iya, akan Mbul congkEel matanya."


Shaquenna menggulung rambutnya yang panjang jadi sedikit berantakan tapi kedua dahinya mengernyit saat ia kembali Menatap cermin.


"Kemarin tompel nya di pipi kanan apa kiri ya?" tanyanya bingung sendiri, karna itu adalah tambahan paling akhir tanpa rencana dan Sialnya malah terlupa.


"Alah, bodoamat mau dimana pun terserah!"


Di rasa sudah tampil dengan wujud yang berbeda, Shaquenna turun dari mobil mewahnya dengan hati hati jangan sampai ada yang melihat, karna siapa pun tak akan ada yang percaya jika ia adalah sang pemiliknya.

__ADS_1


Shaquenna sengaja mondar mandir lima belas menit lagi sebelum Daren berangkat ke kantor . Tentu ia sudah mengamati hal tersebut seminggu sebelum misi penyamaran ini berlangsung.


Dan benar saja, Daren datang ke parkiran namun tidak memakai stelah jas kerjanya, dan itu semakin membuat Shaquenna menggila saat menatap pria tersebut.


"Tu---Tuan--," panggil Shaquenna, hanya Daren seumur hidupnya yang di panggil seperti itu oleh Shaquenna.


"Saya kira kamu tak datang?" kata Daren saat menoleh ke sumber suara yang ternyata itu gadis yang kemarin.


"Datang dong, Tuan. Kan Tuan yang suruh saya," jawab Shaquenna.


"Bagus! oh ya, siapa namamu?"


Di tanya seperti itu Shaquenna malah diam, satu hal yang terlewat adalah sebuah nama, betapa bodohnya ia saat ini.


"Namaku---," udah Shaquenna masih kebingungan.


"Iya, siapa namamu?" tanya ulang Daren dengan kedua alis tebalnya yang bertautan.


.


.


.

__ADS_1


Minul, Tuan....


__ADS_2