Pangeran Senja

Pangeran Senja
Hanya 10 biji


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ambil saja, kita goreng sama-sama," jawab Si suara itu tadi yang ternyata adalah,


"Daddy!" pekik Pangeran saat ia membuka matanya, ia tak bisa menebak di awal sebab suaranya di buat lain dari yang biasanya maka itu membuat Pangeran sangat ketakutan.


"Daddy ngapain?"


"Kamu yang lagi ngapain malem malem di kebon orang?" tanya balik pria itu sambil berdecak pinggang.


Pangeran yang ketahuan sebagai pencuri kentang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak perlu menjawab karna nyatanya Sang Daddy pasti tahu apa yang sedang di lakukannnya sekarang ini.


"Kan aku bilang, aku lapar. Aku ingat ada tanaman kentang, niatnya ambil beberapa biji untuk di rebus, besok Daddy yang gantiin ke Babah Hj," jelasnya tanpa dosa padahal malaikat jelas sudah mencatat amal buruk pria itu.


"Enak aja, Daddy yang ganti. Kamu yang laper kok," protes Daddynya tak mau ikut ikutan.


"Tapi tadi Daddy jawab, ambil aja nanti kita goreng sama sama."


"Nah, itu lain lagi ceritanya," jawab Daddynya sambil terkekeh.


"Tetep ya, gak mau rugi!" cetus Pangeran membalas dengan cibiran.


"Iya dong, namanya juga Pengusaha."


Daddy Andra memang menyusul Pangeran saat ia merasa tak enak hati saat anak itu tak kunjung masuk ke dalam pondok. Takut terjadi sesuatu, akhirnya Daddy Andra mengikuti sampai ke kebun Tomat yang ternyata ada Kentangnya juga.


Sebesar apapun Pangeran, bagi Mommy dan Daddy ia tetaplah Si Ndut yang menggemaskan, jadi tak salah pasangan itu terus di buat pusing saat Pangeran tetap memilih menikah dengan Putri. Bagaimana orang tua akan bahagia jika Sang putra harus hidup tertekan dan tak nyaman di sepanjang hidupnya nanti.


"Ayo cepat, ambil yang banyak sekelian," titah Daddy Andra yang sama konyolnya.


"Tapi aku udai izin minta 5 aja, Dadd."


"Ya udah, bilang nambah lagi gitu," sahut Daddy Andra, jika saja ada Si Mommy mungkin besok ia akan hidup tanpa telinga.


"Ok. Babah Hj, kata Daddy nambah 5 lagi jadi 10 ya, nanti di ganti satu Truck katanya," teriak pelan Pangeran mengulang hal yang sama seperti yang awal.


"Eh, buset! banyak amat?"


"Gak apa apa, anggap ini sama dendanya juga," jawab Pangeran Sambil tertawa.

__ADS_1


Dengan cepat pria itu kembali menggali kentang di dalam tanah, satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh.


Ya, Sepuluh kentang dari ukuran sedang hingga besar sudah berhasil di kumpulkan oleh Pangeran dengan keringat yang bercucuran.


"Bawanya pake apa? aku gak bawa plastik," kata Pangeran.


"Baguslah, kalau sampai beneran bawa niat banget kamu maling kentang," ledek Daddynya.


"Bukan maling, Dadd."


"Kalau bukan maling terus apa, hem?" tanya Daddy Andra.


"Pinjem, kan besok di ganti sama Daddy," sahut Pangeran sambil cekikan.


Karna tak ada apapun untuk membawa Si sepuluh kentang, akhirnya mau tak mau kaos oblong Pangerang yang jadi sasaran. Ia gunakan bajunya itu agar memudahkan Si kentang sampai ke pondok Bunda.


"Cepatan jalannya Dadd, banyak nyamuk nih."


"Iya, Ndut, iya!" Daddy nya yang memang berjalan lebih dulu mulai mempercepat langkahnya.


Kedua pria konyol itu langsung masuk kedalam Pondok Bunda yang lampunya mati di bagian ruang tamu seperti saat mereka tinggalkan. Pangeran yang bergegas ke dapur mulai membersihkan Si Kentang dengan cara di cuci.


"Buang! masaklah, cepetan!"


"Dih, kenapa Daddy yang gak sabar? laper, Bos?" ledek Pangeran sambil mencebikkan bibirnya.


"Iya, Capek banget. Jalan segitu aja rasanya tulang rontok."


"Makanya, olah raga. Gym atau Fitnes, ini olah raga malem doang sama Mommy bisanya," sahut Pangeran yang hampir saja kena kulit kentang yang di lempar Daddy nya.


"Ngomong sekali lagi? kayanya sendirinya gak doyan aja. Kamu juga sama kan?!"


"Iya sih, hahaha." keduanya tertawa namun dengan cepat menutup mulut mereka masing-masing karena takut mengganggu tidur Senja, Mommy dan Bunda.


Sayuran yang tergolong umbi umbian berwarna Kuning itu pun akhirnya hanya di rebus karna Pangeran tak menemukan minyak sama sekali di dapur kecil tersebut. Sebenarnya itu sangat wajar mengingat Bunda jarang sekali masak di pondoknya kecuali sedang ingin atau sekedar membuat mie instan karna semua sudah di cukupi di pondok utama yaitu kediaman Babah Hj.


"Mateng nih, ish kita kaya orang bule aja makan kentang ya," ucap Pangeran sambil meletakkan satu piring ke hadapan Daddy nya.


"Gada yang bisa buat di cocol, Ndut?"

__ADS_1


"Gak ada, minyak aja gak ada, apalagi saos. Makan aja yang ada," jawab Pangeran sedikit sewot karna rasa laparnya, Daddy nya memang terbilang manja, sebab ia adalah anak bungsu dari keluarga kaya raya yang pastinya dilayani sebagai Tuan Muda yang sesungguhnya, di tambah ia menikah muda dan langsung di layani lahir bathinnya juga oleh sang istri dan tentunya ini berbeda jauh dengan Pangeran yang tinggal mandiri dan apa apa harus sendiri di usia remaja sebab berbeda negara.


"Enak, Ndut?"


"Enak aja kalau lagi laper," sahut Si anak tunggal sambil terus menyuap kentang rebus buatannya ke dalam mulut.


Daddy Andra akhirnya tergoda, ia ambil satu dan rasanya cukup enak hingga ia terus makan dan makan lagi.


"Daddy!!!!! kok di abisin?"


"Iya, enak. Ambil lagi gih," ucapnya tanpa rasa berdosa.


"Gak! apaan sih, aku yang laper, aku yang izin, aku yang gali, aku yang cuci, aku yang kupasin, aku yang rebus kenapa Daddy yang abisin?!" omelnya langsung dengan nada kesal.


"Eh, kamu harus ingat, Ndut! Daddy yang gantiin loh ini Si Kentang nanti satu Truck!" jawab Tuan Bramasta dengan percaya dirinya, tak lupa tangannya juga langsung melipat di dada.


"Tadi aja gak mau, pura pura taunya dusta!"


Daddy Andra yang senang anaknya mengerutu malah cekikikan tak jelas, waktu seolah cepat berlalu karna rasanya ia tak percaya jika Sang buah hati sudah sebesar ini. Masih segar di ingatannya bagaimana ia menekan ego dan memperluas rasa sabar menjadi suami dan ayah di usia belasan tahun, belum lagi saat Sang istri mengalami Baby Blus hingga tak mau menyentuh buah hati mereka, semua rasa lelah dan frustasi itu seakan sudah terbayar dengan menyaksikan sendiri Pangeran RaViandra Bramasta tumbuh menjadi sosok pria tampan, baik dan sukses, ia juga berhati lembut dengan punya tingkat kesetian tinggi pada pasangan.


"Loh, kalian sedang apa?" tanya Bunda yang akhirnya bangun untuk melakukan kewajiban malamnya.


"Hehe, lagi ngemil kentang, Bun."


"Kentang? dari mana?" tanya Bunda lagi penasaran karna ia tak punya sayuran itu di dapur untuk beli keluar pun sangat tak mungkin sebab penjagaan disini sangat ketat.


"Dapet ngegali di kebun, 10 biji doang, Kok." sahut Daddy Andra.


"Kalian ambil lagi ke sana?"


"Iya----," Pangeran dan Daddy nya langsung menunduk benar-benar mirip bocah yang ketahuan mencuri.


.


.


.


Astaghfirullah....

__ADS_1


__ADS_2