
🍂🍂 Part 11 🍂🍂
Daren yang menggerutu kesal tak di dengar oleh Shaquenna. Ia hanya senyum senyum tak jelas karna ternyata dengan jadi pembantu jadi jadian ia bisa menikmati sisi lain Daren yang ia tak tahu.
"Belum satu hari kamu kerja, bahkan belum ada yang kamu kerjakan tapi saya sudah berkali-kali narik urat!"
"Saya udah kerja, Tuan," protes Shaquenna tak terima.
"Kerja apa, hah?" tanya Daren dengan kedua tangan melipat di dada.
"Tadi, masakan nasi," jawab si pembantu jadi jadian.
"Bisa di makan?"
Gleg
Shaquenna RanJa BintaRahardian Brasmata pun hanya bisa menelan salivanya kuat kuat, ia tak bisa menjawab karna apa yang di masaknya itu tak lebih baik dari kerikil kecil.
"Kamu ganti baju, kita ke swalayan sekarang," titah Daren yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari gadis di depannya saat ini.
Memiliki pembantu yang tak jelas asal asal usulnya ternyata justru menambah beban pikiran Daren, tapi untuk kali ini ia masih sabar karna memaklumi jika semua butuh proses dan pengenalan sebelum jadi pengalaman.
__ADS_1
Daren yang kembali ke kamar hanya mengambil jaket, kunci mobil, dompet dan pastinya posel, beberapa barang yang wajib di bawa saat berpergian.
Ia tak mengganti pakaian karna tujuannya hanya berbelanja bahan makanan untuk di rumah terutama buah buahan. Ia yang sudah rapih tinggal menunggu si pembantu di ruang tengah. Tapi, lebih dari sepuluh menit nyatanya yang di tunggu tak kunjung datang.
"Nuuuuul, Minuuuuul--," panggil Daren, ia yang tak suka melakukan itu namun justru seperti di goda untuk memanggil Pembantu nya terus menerus.
"Iya, Tuan," sahut Shaquenna sambil sedikit berlari.
"Sudah?" tanya Daren yang melihat Si Nul Minul dari ujung rambut hingga kaki.
"Kenapa, Tuan?"
"Gak apa apa, kita pergi sekarang untuk belanja," ucap Daren yang langsung bangun dari duduk, keduanya keluar dari Unit Apartemen menuju parkiran mobil yang sepi.
.
.
"Tuan-- , maaf, apa besok tuan akan bekerja?" tanya Shaquenna.
"Hem, biar itu kita bicara kan nanti setelah belanja karna banyak yang belum kita diskusi kan termasuk gaji dan hari liburmu," jawad Daren yang di balas anggukan kepala oleh Shaquenna.
__ADS_1
Di dalam swalayan, semua bertolak belakang dengan yang biasa di lakukan oleh Shaquenna. Ia yang biasa mengambil barang sesuka hatinya, kini harus rela cukup mengikuti sang majikan sambil mendorong Troley belanjaan yang makin lama makin penuh dan berat.
"Daren--," panggil seseorang dengan suara laki laki yang sialnya di kenal oleh Shaquenna.
Merasa ada yang memanggil, Daren pun menoleh yang kemudian ia pun langsung tersenyum.
"Tuan Awan--, apa kabar? tidak di sangka bisa bertemu dengan anda di sini, " balas Daren yang terlihat senang.
"Mampus! ada Uncle," bathin Shaquenna yang langsung menunduk.
Sebagai keponakan satu satunya alias semata wayang, tak mungkin pria yang tak lain adalah kembaran Mama Senja tak mengenali nya karna terbukti kedua mata Uncle Awan selalu menatap ke arah Shaquenna meski ia sedang mengobrol dengan Daren.
"Belanja dengan siapa?" tanya pewaris utama Bintara tersebut.
"Ah, ini. ART saya, Tuan," jawab Daren yang belum sadar dengan sikap pria yang sangat di hormati nya tersebut.
.
.
.
__ADS_1
.
Tapi--, kok wajahnya gak asing ya?