Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

🍂🍂 Part 15 🍂🍂


"Susu katamu?" pekik Mama yang tak habis pikir dengan kelakuan pembantu putranya tersebut.


"Iya, saya itu kalau pagi minum susu, iya kan, Tuan?" tanya Shaquenna pada majikannya yang di jawab anggukkan kepala.


"Minul gak makan nasi, Mah. Dia cuma mau susu sama buah aja. Makanya kemarin juga Darren gak beli beras, cuma menuhin isi kulkas sama cemilan," timpal sang putra yang kembali membuat mamanya kaget.


"Ya itu urusan si Menul kalau gak makan nasi, tapi bukan berarti Mama gak makan!" sentak wanita yang semakin kesal.


Shaquenna dan Darren pun langsung saling pandang, mereka membuat keputusan itu tentu saat Mama tak ada atau lebih tepatnya saat Mama belum datang, pikiran sang majikan tentu ia tak ingin membuat beras di Apartemen nya mubazir kalau memang kebiasaan si pembantu tak makan nasi, mengingat ia pun tak suka makan di rumah. Darren sudah punya Catering sendiri yang mengurus soal perutnya mulai dari sarapan hingga makan malam dan itu biasanya langsung di kirim ke kantor.


"Ya sudah, kamu masak nasi, Nul," titah Darren yang membuat si pembantu jadi jadian terlonjak kaget.


Mampus gue! kemaren aja rasa BATU.


Shaquenna yang sedang membathin di buat terkejut lagi dengan suara yang bak petir di siang bolong, apa lagi jika bukan bentakan si calon Mama mertua.


"Menuuuuuul---"


"Ah, iya, Nyonya. Saya masak nasi dulu," jawab Shaquenna yang bukan buru buru ke arah ke tempat wadah beras dan penanak nasi ia malah benar benar menghabiskan susunya lebih dulu.

__ADS_1


"Ah, kenyang," gumamnya sambil mengelus perutnya sendiri, ia langsung salah tingkah saat ada dua pasang mata menatap kearahnya saat ini.


Mana bisa, seorang pembantu sudah terisi perutnya sedang kan kedua majikannya belum minum air putih setetes pun.


"Darren beli sarapan di luar aja ya, Mah."


"Terserah kamu, Mama mau mandi," jawab wanita itu dalam mode segala rasa, pasrah, jengkel, kesal, dan lapar pastinya.


.


.


.


Keluar dari Unit Apartemen, keduanya berjalan menuju lift untuk kearah parkiran, Shaquenna yang berjalan di belakang Darren terus berhayal sambil menatap punggung pria itu, ia tak bisa membayangkan betapa nyaman dan hangatnya jika memeluk Darren dari belakang.


Sampai di parkiran, tepatnya di mobil Darren, Shaquenna kembali bingung. Tapi karna ingat bahwa kali ini ia adalah si Minul tentulah Shaquenna membuka pintu bagian belakang.


"Hey, apa aku ini supirmu, hah?" tanya Darren dengan ekspresi tak suka.


"Maaf, Tuan," jawab Shaquenna yang menunduk padahal hatinya kini bagai lautan bunga yang sedang bermekaran.

__ADS_1


Di dalam mobil, ia yang memasang wajah imut pura pura hanya memainkan tangannya yang kuku panjangnya itu lupa di potong. Semua terlihat rapih dan lentik andai saja Darren memperhatikan nya lebih jeli.


"Kita beli nasi uduk di tempat langganan saya saja ya," ucap Darren yang masih fokus dengan jalan di depannya itu.


Shaquenna hanya mengangguk, ia tak perduli karna tak tergoda dengan nasi jika segelas susu sudah masuk ke dalam perutnya. Mobil pun menepi dan Darren langsung mematikan mesin kendaraannya tersebut di depan sebuah kedai yang cukup terlihat ramai.


"Pesan sana, beli tiga bungkus. Untuk saya, Mama dan kamu," titah Darren sambil menyerahkan uang pada si pembantu jadi jadian.


"Dua saja ya, Tuan. Untuk Tuan dan Nyonya. Saya tak perlu," tolak Shaquenna yang merasa masih kenyang.


"Terserah," jawab Darren.


Shaquenna pun turun dari mobil mewah Darren dengan perasaan senang luar biasa sambil senyum senyum tak jelas.


.


.


.


Sering-sering ngomel ya Mak Lampir... Ocehanmu membawa berkah buat calon mantu

__ADS_1


__ADS_2