
🍂🍂 Part 32 🍂🍂
Selama makan malam, Darren tak bisa fokus dengan apa yang di obrolkan Mama dan Bella. Dua wanita itu terus saja berbincang sedangkan ia masih sibuk membanding kan antara suara Shaquenna dan Minul.
"Tidak, aku pasti hanya sedang mengingatnya saja!" tegas Darren pada dirinya sendiri. Ia yakin jika ini semua hanya sebuah kebetulan yaitu kebetulan ingat pada si pembantu jadi jadian yang mendadak minta libur dan kini entah ada di mana.
"Darren, kamu melamun?" tanya Bella yang pura pura tak tahu padahal ia sudah memperhati kan sikap berbeda pria itu.
"Tidak, lanjutkan makanmu," jawab Darren namun Bella menggeleng kan kepalanya.
"Makanan ku sudah habis, justru makananmu yang masih utuh."
Darren lantas melirik ke arah piring Bella dan juga piringnya yang ternyata memang benar yang di katakan wanita itu barusan.
"Aku sudah makan tadi sebelum kesini," ucap nya memberi alasan.
"Kamu makan apa? Catering?" tanya Mama yang di jawab gelengan kepala oleh putranya.
"Aku bikin Mie goreng tadi, Mah."
"Ada gak ada pembantumu itu yang di makan kalau gak Mie ya nasi catering! punya pembantu kok ini itu gak bisa," sindir Mama yang tak kuasa menahan omelan saat ingat dengan Si Minul.
__ADS_1
"Darren kan gak cari pembantu saat itu, Mah. Gak sengaja ketemu Minul di parkiran," jawab Darren yang merasa Mamanya tak paham paham.
"Ya sudah, kalau begitu kamu bisa pecat si Minul nanti aku carikan pembantu baru dari yayasan, di sana sudah pasti siap dan bisa kerja dengan baik," tawar Bella sambil mengusap punggung tangan Darren.
"Nah ini mama setuju, buat apa kamu nampung manusia seperti si Minul, majikan makan nasi uduk sama semur tahu tapi dia si pembantu makan roti bakar selai kacang!"
.
.
.
"Pelan pelan dong, Sayang," ujar Mama senja sembari mengusap punggung anak semata wayangnya yang terbatuk batuk saat minum.
"Iya, Mah, kok mendadak begini ya? ," balas Shaquenna dengan tangan menepuk pelan bagian dadanya yang sesak.
Pikirannya terus melayang pada sosok Darren yang sedang satu meja dengan Mama juga Bella.
Ternyata, wanita itu benar benar sudah maju lebih dulu dengan dukungan si mak Lampir.
Jika sudah begini, haruskah Shaquenna tetap menjadi Pembantu tajir untuk tuan muda Aldrich?
__ADS_1
Ya Tuhan! kenapa cinta serumit ini?
Mereka yang memilih pulang saat selesai makan malam tentu melewati meja di mana Darren tadi berada, tapi sayangnya pria itu sudah tak di sana lagi.
"Mah, Ta Buy mau nginep di rumah ya."
"Iya, Sayang, minta temani Ta Buy tapi janji kalian jangan sampai tidur pagi," pesan Mama Senja pada putrinya yang tahu jika dua gadis itu sering bergadang.
"Iyah, Mah," jawab Shaquenna meski ia tak janji bisa melakukan hal itu sebab ia tujuan nya meminta Embun datang dan menginap tentu untuk membantunya kembali ke Apartemen Darren esok pagi, hanya sang Ratu Rahardian yang benar-benar bisa menolongnya untuk urusan seperti ini.
"Ta Buy sudah di rumah?" tanya Mama Senja lagi.
"Belum, masih di jalan baru mau berangkat, Mah," jawab Shaquenna yang kali ini kedua matanya fokus pada layar ponsel karna ia sedang bertukar pesan dengan Embun.
.
.
.
Tunggu pembalasan ku SETAN BURIK...
__ADS_1