
🍂🍂 Part 45 🍂🍂
"Tuan, ajakan kemarin malam apa masih berlaku?" tanya si Minul dengan suara pelan, tentunya jangan sampai di dengar oleh mama majikannya yang kini sedang lahap mengisi perut.
"Kenapa? kamu mau ikut?" tanya Darren yang sedang sekuat hati menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lebar.
Si Minul yang baru saja mengangguk terlonjak kaget dengan suara panggilan dari Mama.
"Apa kalian bisik bisik?" tanya wanita yang mulai curiga.
"Ini, Minul mau pamit sekarang, Mah," jawab Darren yang membuat Mama bingung sampai mengernyitkan dahi.
"Maksudmu pamit? si Menul memang mau kemana?" tanyanya dengan tatapan mata dari Darren lalu beralih ke pembantu jadi-jadian.
Darren menarik napas lalu di buangnya secara pelan sambil membernarkan posisi duduk.
Sebagai anak baik yang tak pernah berbohong dan membangkang tentu ini adalah hal paling sulit ia lakukan, bagaimana pun wanita di depannya saat ini adalah pemilik surga dan ridhanya.
__ADS_1
"Hem, begini, Mah. Darren kan mau ke luar kota, Darren juga gak bisa ninggalin Minul sendiri disini.Jadi, Minul juga akan pergi ke rumah saudaranya sampai Darren pulang nanti," jelas pria tersebut dengan hati berdebar karna ini baru pertama kalinya ia berbohong hanya demi si pembantu jadi jadian yang aneh bin ajaib
#CalonPenghuniNerakaLintang🤣
"Benarkah, Nul?" tanya Mama yang sepertinya tak begitu percaya.
"Be--benar, Nyah," jawab si Minul sedikit terbata-bata karna ini benar-benar di luar rencana.
Padahal, kepergian Darren adalah bonus baginya yang akan bebas melakukan apapun di Apartemen sang pria incaran karna ia tahu, di dalam sana tak sama sekali terpasang CCTV. Niat hati hanya ingin hidup tenang seorang diri tentu membuat Darren memilih Unit Apartemen biasa bukan PENTHOUSE seperti yang Awan punya di lantai paling atas meski di satu gedung yang sama.
Darren hanya tersenyum kecil sambil mengusap tengkuknya sendiri. Jujur, hatinya serba salah antara si Minul dan juga Mama. Satu sisi ia sungguh berdosa sudah berbohong tapi sisi lain hatinya berbunga karna akhirnya si pembantu akan ikut dengannya ke luar kota untuk 2 hari ke depan.
"Mama juga gak bilang, kalau mau kesini, jadi aku minta Minul untuk ke rumah saudaranya selama aku tak ada," jawab Darren sambil melirik ke arah si pembantu.
ShaQuenna yang bingung pun pamit ke kamarnya, ia kesal sekali mendengar obrolan anak dan ibu di meja makan sembari sarapan, sedangkan Mama melirik tajam ke arah manusia yang jauh dari kata cantik tersebut saat si pembantu pergi membawa sepiring roti bakar dan jus jeruk.
"Rumah mana yang mau menampungnya? makannya saja seperti orang bule," sindir Mama pada putranya.
__ADS_1
"Ada, Minul akan tinggal di rumah sebelum ia bekerja denganku, Mah."
"Semoga selamanya, Si Menul itu tak balik lagi kesini," cetus Mama yang masih berharap gadis itu minggat dari kehidupan anaknya.
Merasa semua aman, Mama pun pamit untuk pulang, ia tahu Anaknya tak mungkin berbohong apapun padanya. Ia hanya memastikan jika Si Minul tak sendiri di apartemen sang putra.
Sepeninggal Mama, Darren buru buru ke kamar pembantunya, ia langsung meminta si Minul untuk segera bersiap.
"Ayo, tunggu apa lagi?"
.
.
.
"Gak jadi, kan Nyonya sudah pulang!"
__ADS_1