Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

          🍂🍂 Part 21 🍂🍂


"Nul, kamu kenapa sih?!" tanya Darren saat pembantunya itu tiba tiba menempel di punggungnya.


"Hehe, gak apa apa, Tuan," jawab Shaquenna, ia yang memakai masker di wajahnya tentu hanya terlihat kedua matanya saja dan itu sangat di syukuri, entah bagaimana jadinya saat Heaven berpapasan lalu memperhatikan dengan jeli seperti saat Papahnya dulu, Uncle Awan.


"Dasar makhluk aneh!"


Mendengar itu, tentu membuat kedua mata Shaquenna membulat besar sedang Darren tertawa kecil melihat pembantunya itu pasti sedang marah namun tak berani melayangkan protes karna ia majikannya.


Dan, hal yang di hindari oleh gadis itu justru terjadi, Darren yang kenal dengan Uncle Awan tentu tahu juga dengan putra semata wayangnya.


"Heaven ya," sapa Darren saat sama sama di depan sebuah pintu lift.


"Iya, maaf, siapa ya?" tanya Heaven bingung.


"Saya Darren, beberapa kali menjadi Client Tuan RahardiAwan," jelas Darren dengan bangganya sambil mengulur kan tangan, itu pantas di lakukannya sebab di umur yang terbilang muda ia sudah menjadi penguasa sukses.


"Ah, iya. Maaf, aku--, aku tak tahu," ucapnya sambil berusaha melihat dengan jelas seseorang di balik punggung Darren.


"Mau kemana? memang sudah tinggal disini ya?" tanya Darren lagi saat mereka bertiga sudah berada di dalam kotak besi.

__ADS_1


"Hanya sesekali, Papah belum izinin kalau tinggal mandiri disini," jawab Heaven yang masih curi curi pandang.


"Alah, bilang aja gak bisa jauh dari si MariMar gak pake AW!!" bathin Shaquenna yang tak berani mendongak kan wajahnya hingga rasa penasaran dan curiga putra mahkota Biantara itu kian menjadi jadi.


Namun, Shaquenna akhirnya bisa bernapas lega saat mereka berpisah.


.


.


.


Selama perjalanan menuju pasar, tak ada obrolan sama sekali di antara majikan dan pembantu tersebut, Shaquenna benar benar takut jika penyamarannya terbongkar, ia tak ingin di benci oleh Darren yang mungkin saja merasa di bohongi.


"Kamu yang turun dan masuk untuk belanja, saya tunggu disini," kata Darren dengan santainya.


"Loh, kok gitu? gak adil dong, masa aku ke dalam sendirian?" protes Shaquenna yang langsung merajuk tak mau. Tapi, saat ia melihat ekspresi wajah Darren ia pun langsung diam dan kembali menunduk.


"Maaf, Tuan," ucap Shaquenna sambil beremat uang dan kertas yang ada di tangannya.


Ia pun langsung turun dari mobil sang majikan dengan perasaan kesal sambil mengumpat kasar pria tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun, mana gue taunya cuma wortel doang lagi," gumamnya yang bingung sendiri saat baru masuk.


Keadaan pasar yang masih ramai pengunjung membuat Shaquenna pusing, bukan karena banyaknya orang tapi karna baunya yang macam macam lalu tercampur jadi satu. Ada bau ikan, bau sampah dan mungkin bau dari orang-orang sekitarnya juga, beruntung Shaquenna masih memakai masker meski tak terlalu membuat baunya hilang.


"Karna wortel paling atas, jadi gue beli si makanan kelinci dulu deh," ucapnya sambil menerus kan langkah ke salah satu pedagang yang untungnya tak jauh dari Tempatnya berdiri tadi.


"Bang, mau wortel ya, 5 biji aja," pesan Shaquenna pada si pedagang yang ternyata masih cukup lumayan muda.


"Siap, Neng. Apa lagi?" tanya si Abang yang antusias saat ada pembeli datang karna itu adalah rejekinya.


"Sama--, sama toge, toge tuh mana ya?" tanya Shaquenna bingung. Lalu si Abang tadi menunjuk kearah sayuran berwarbat putih yang menumpuk saking banyaknya.


"Ini toge, Neng. Mau berapa?"


.


.


.


Bukan, Bang. Ini sih Kecambah!!

__ADS_1



__ADS_2