
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pangeran yang tak bisa tidur usai obrolannya bersama Senja terus menangis hingga pagi menjelang, ia tak pernah sesakit ini sebelumnya bahkan ketika di tolak wanita itu hingga tak terhitung jumlahnya.
Kepalanya yang terasa berat dan sakit membuat ia enggan keluar kamar meski ini waktunya untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.
"Pangeran mana, Mom?" tanya Putri yang baru datang ke Unit Apartemen Tunangannya tersebut.
"Belum bangun," jawab Mommy Viana yang masih sibuk membuatkan teh hangat untuk suami tercinta.
"Sesiang ini? tumben," ujarnya aneh namun di abaikan oleh calon ibu mertuanya. Terlihat Mommy Viana melengos begitu saja dengan nampan di tangannya menuju sofa balkon tempat dimana anak dan suaminya mengobrol semalam.
Jika saja tak ada orang lain di Unit Apartemen Pangeran, sudah bisa di pastikan Putri akan masuk kedalam kamar pria itu seperti biasa meski Pangeran seringkali melarangnya.
Tapi tidak kali ini, ia akan menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.
Cek lek
__ADS_1
Mommy yang terus menatap ke arah jarum jam akhirnya mendatangi kamar Sang putra. Ia masuk setelah mengetuk pintu namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam membuat rasa khawatir itu kian terasa.
"Ran, Sayang. Sudah siang, Nak."
Dan usapan lembut tangan di wajahnya sontak membuat Pangeran mengerjap kaget, matanya yang merah dan belum terbuka lebar langsung menangkap sosok Sang pemilik Surga-Nya.
"Kamu demam?" tanya Mommy Viana kaget. Ia yang mau bangun dari duduknya langsung ditahan oleh Pangeran.
"Mommy mau kemana? sini aja temenin aku ya," mohonnya lirih sampai hati wanita paruh baya itu. mencelos ikut sedih.
"Mom, aku tuh bukan Si Ndut lagi yang dikit dikit ke dokter. Aku udah gede loh, gak apa-apa. Aku cuma butuh istirahat," ujar Pangeran dengan ke kekehan kecil.
Pangeran senang, di saat seperti ini ada Mommy dan Daddy nya. Ia merasa tak kesepian meski nyatanya luka masih ia tanggung sendiri.
Seperti keinginan Sang putra, Mommy Viana masih duduk di tepi ranjang dengan tangan saling menggenggam. Memang bukan sakit serius, tapi hati ibu manapun pasti akan khawatir melihat anak kesayangannya pucat seperti ini.
"Berhenti lah melangkah sejenak, bukankah kamu kini ada di persimpangan jalan?"
__ADS_1
"Jika aku jalan di keduanya, bolehkah?" goda Pangeran yang malah mendapat tatapan tajam dari Mommynya.
"Setiap langkah yang sudah ku ambil, akan ku pertanggung jawabkan, Mom." lanjutnya sembari tersenyum yang kali ini berharap Mommynya sedikit jauh lebih tenang.
"Kamu berhak bahagia, Nak. Mommy cuma punya kamu satu-satunya, jangan buat Mommy menyesal sudah mengizinkan mu jauh jauh kesini tapi semua tak ada hasilnya," cetus wanita itu kesal.
Perpisahan 7 tahun nyatanya tak membuat Pangeran bisa lepas dari cinta pertamanya, dan kini ia malah terjebak dalam suatu hubungan Toxic bersama gadis yang tak pernah memberi rasa nyaman padanya.
"Izin Mommy tak sia-sia, aku jadi lebih dewasa, bukan? apa yang sudah ku lewati itu sebuah proses, dan masih banyak proses yang lainnya. Terima kasih, Mom. Doa Mommy sudah membuat ku kuat dan bisa bertanggung jawab," ujar Pangeran yang langsung masuk kedalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya di usia masih muda tersebut.
.
.
.
Aku dan Senja hanya bisa saling mendoakan, dan aku masih melakukan hal tersebut hingga saat ini. Aku mohon pada Tuhan jika seandainya aku tak bisa menjaga Senjaku, biarlah perasaan ini tetap ada untuknya. Cukup egoku saja yang di hilangkan untuk mendampinginya, serta lapangkan hatiku untuk siap kehilangannya...
__ADS_1