Pangeran Senja

Pangeran Senja
BodOH


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Flashback


"Kamu cantik, baik dan pintar, tak seharusnya menghabiskan waktumu dengan pria bodoh yang tak bisa mencintaimu. Kamu pantas bahagia."


Kata kata itulah yang terus terngiang di telinga Putri lalu memporak-porandakan isi kepalanya tentang bayangan masa depan apa yang bisa ia raih bersama Pangeran.


Ya, pria yang akan resmi jadi imam dan suaminya dalam waktu kurang lebih 60 menit. Selama itu juga kini Putri bagai di ujung jalan, antara harus tetap melangkah dengan resiko mencintai tanpa di cintai atau putar arah mencari sisa kebahagiaan yang mungkin masih ada yang layak ia perjuangkan.


"Aku ingin berada di sampingmu, Ran. Aku--, jujur aku lelah di belakangmu terus menerus," ucap lirih Putri didepan cermin sambil memegang wajahnya.


"Iya, aku cantik tapi kecantikanku tak bisa membuatmu jatuh cinta. Aku pun baik tapi semua kebaikanku kamu balas karna kamu hanya menghargaiku saja, dan kepintaranku pun nyatanya tak mampu menaklukkan hatimu. Jadi sebenarnya kamu tak butuh itu kan?" lanjutnya lagi dengan kedua mata yang sudah nampak berkaca-kaca.


"Kamu butuh kenyamanan, dan itu bukan denganku."

__ADS_1


Air mata yang jatuh ia biarkan membasahi pipi mulusnya, sudah sangat lama ia sadar akan hal ini tapi masih saja mencoba mengelak karna ia masih berharap ada sedikit celah di hati Pangeran untuk ia masuki. Tapi, apa?


Hingga di awal kata Sah saja nyatanya tak pernah ada bayang diri nya di mata pria itu. Pria yang teramat ia cintai keseluruhannya meski kenyataan terus menampar nya untuk sadar jika Senja masih menjadi saingannya.


Benar, jika sama-sama berjuang, mungkin Putri adalah orang yang akan maju paling depan. Tapi bodohnya ia bersaing dengan wanita yang sudah lama menetap di hati orang yang sedang di perjuangkan. Ia yang kerja keras ia juga yang lelah dan ia juga yang tak dapat apa-apa.


Ceklek


"Put, kok belum ganti baju?" tanya ibu yang masuk bersama dua orang wanita yang sebelumnya di usir oleh anaknya itu.


"Aku tak ingin menikah!" tegasnya tak acuh pada Ibu yang langsung menarik tangannya.


"Jika mau bertengkar nanti saja saat Sah. Buang dulu egomu itu, Nak."


"Aku tak bertengkar, Bu. Aku tak ingin menikah!" ulang Putri yang kali ini dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


"Kenapa? tinggal satu langkah lagi dan kamu mundur? BODOH!" jawab ibu sangat geram.


"Justru aku akan sangat bodoh jika mau menikah dengannya. Aku akan di perdubak oleh Cintaku sendiri bukan cintanya. Dan itu akan berlangsung seumur hidup."


Putri mulai melempar apapun yang ada di dekatnya, dan itu sudah biasa ia lakukan jadi wajar jika ibu tak kaget kecuali dua wanita yang masih berdiri di dekat pintu.


"Tapi ini bukan saat yang tepat untukmu sadar! bukankah sejak dulu kami katakan itu, hem? kini saat semua sudah berkumpul kamu malah mengacaukan segalanya. Kamu ingin mempermalukan kami dengan kabur di acara pernikahan mu ini, iya?!" teriak Ibu yang tak kuasa lagi menahan amarahnya.


"Ibu tenang saja, aku tak akan kemana-mana karna aku lelah..."


.


.


.

__ADS_1


Aku lelah karna Pangeran tak mencintai ku, ia hanya sebatas kasihan padaku...


__ADS_2