
🍂🍂🍂🍂🍂
"Ndut, bangun yuk.. Ntar aku tinggal Abul ya," bisik Senja di telinga kanan suaminya.
Pangeran yang terlelap begitu nyenyak malah sontak mengerjap kemudian langsung bangun, dan itu sontak membuat Senja kaget. Jika ia tak cepat menghindari sudah bisa di pastikan wajahnya kena benturan dari Pangeran.
"Abul mana? Ntuuut."
Senja yang mendengar jawaban dari Sang suami lantas membulatkan kedua matanya. Ia kaget dengan apa yang terlontar dari mulut pria yang nyatanya masih saja tampan meski baru bangun dari tidur.
"Ran--, kamu?"
Sadar jika itu bukan suara kedua orangtuanya, Pangeran dengan cepat menoleh, rasa terkejutnya berkali-kali lipat dari sebelumnya dan ada rona merah juga di pipi pria itu saat ini.
"Senja, jadi kamu yang tadi--,?"
Senja mengangguk lalu tertawa, sumpah Demi apapun Pangeran nampak lucu dan menggemaskan dengan tampang malu seperti ini.
"Sen, ya ampun, aku--," ucapnya serba salah.
"Aku harap aku orang satu-satunya yang menikmati raut wajahmu ini, Sayang." Senja langsung berhambur memeluk suaminya, ia tak sampai hati dan rela jika harus berbagi untuk hal yang satu ini.
"Aku tak pernah begini pada siapapun, karna cuma kamu yang nakal," jawab Pangeran yang juga gamas pada istrinya, cintanya pagi ini bertambah lagi pada Senja, dan itu semakin membuat ia bahagia.
Pelukan yang semakin itulah yang kini sudah menenggelamkan wajah Pangeran di ceruk leher wanita halalnya, hidung mancungnya dengan iseng mengusap permukaan belakang telinga hingga membuat Senja Bergelinjang menahan geli.
"Main yuk, enak tau," bisik Pangeran.
"Gak! sebentar lagi sarapan, aku kesini mau bangunin kamu," tolak Senja.
"Tapi bukan cuma suamimu yang bangun, Cantik. Karna Si Jambrong juga ikutan," bisik Pangeran yang semakin jahil mendaratkan ciumannya di berbagai area leher hingga pundak Senja.
"Jangan macam macam!"
"Enggak, aku gak akan protes kalau cuma di kasih satu macam sekalipun," jawab Pria itu lagi yang kini sudah menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya.
Tapi Senja tetep menggeleng bahkan sudah menurunkan tangan Pangeran dari pipinya. Tak ada Silaturahmi pagi untuk saat ini sebab mereka bukan di hotel seperti kemarin-kemarin yang bebas melakukannya kapan pun itu, sekarang ada Mommy dan Daddy yang menunggu untuk sarapan bersama untuk pertama kalinya dan Senja tak ingin melewatkan hal tersebut.
.
.
.
Meski kecewa tak di layani, Pangeran tetap bangun untuk membersihkan diri lalu menyusul sangat istri ke ruang makan, ia paham posisi Senja yang tentunya ingin melakukan yang terbaik untuk mertuanya.
"Pagi, Mom, Dadd," sapa Pangeran saat sudah sampai di meja makan, ia menarik kursi tepat di sebelah Senja. Senyum terukir jelas karna seakan masih tak percaya jika kini ada penghuni baru di rumah tersebut yaitu pasangan halalnya sendiri.
"Ndut, Daddy minta tolong ya," ucap Daddy Andra yang langsung mendapat tatapan tajam dari putra semata wayangnya tersebut.
"Dadd--!"
"Kenapa? istrimu juga sudah tahu dengan panggil kamu di rumah ini," sahutnya lagi dengan menaik turunkan alisnya.
"Di rumah ini cuma Daddy yang panggil itu," cetus Pangeran dengan nada kesal tentunya.
"Aku ikutan boleh ya?" sambung Senja yang tak kuat menahan tawa sejak ayah mertuanya angkat bicara.
"Sayang!"
Tawa ketiga orang itupun pecah bersama di atas kejengkelan yang di alami Pangeran sekarang.
"Daddy mau minta tolong apa?"
"Pagi ini ada rapat penting, Daddy harus cepat sampai di kantor dan lupa bilang pada Mommy mu, nasi kotak yang sudah siap di buat bisa kamu saja kan yang bagikan?"
Pangeran diam sejenak, sudah lama sekali ia tak melakukan hal tersebut. Namun Pangeran menoleh saat lengannya di sentuh oleh Senja.
"Biar aku temani nanti," ucapnya yang langsung di iyakan.
Ini adalah salah satu kesempatan juga untuk Si pengantin baru. Mengeratkan hubungan tak hanya selalu tentang adegan panas di atas ranjang karna membagikan sedekah meski hanya sekotak makanan pun tak kalah menyenangkan apalagi ada pahala juga yang akan mereka dapat, di tambah doa yang pastinya melimpahi mereka.
.
__ADS_1
.
.
Sepeninggal Tuan Bramasta ke kantor, kini saatnya Pangeran dan Senja yang bersiap. Keduanya kembali mengganti pakaian ke yang jauh lebih sopan karna yang mereka kenakan sekarang hanya baju rumahan biasa.
"Kamu tahu tempatnya?" tanya Senja saat ia dan Pangeran menuruni anak tangga.
"Enggak, cari aja nanti di jalan," jawab Pangeran sambil menggeleng pelan.
Kini langkah keduanya kembali ke ruang makan tempat dimana Mommy Viana masih berada.
"Mommy gak ikut?" tanya Senja.
"Kalian saja ya," jawab Mommy yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh anak mantunya.
Beberapa box nasi sudah di angkut ke mobil milik Pangeran, mereka tinggal berkeliling untuk membagikan pada yang membutuhkan dan pastinya kurang beruntung.
"Hati-hati di jalan ya, kalau mau mampir kemana-mana jangan lupa bilang ke Mommy, biar Mommy gak khawatir pas nunggu kalian ya," pesan wanita paruh baya itu sebelum Pangeran dan Senja masuk kedalam mobil.
"Iya, Mom."
Setelah semua di rasa sudah siap, kini saatnya mobil di lajukan dengan kecepatan sedang. Mereka masih bingung harus kemana dulu saat ini meski Daddy dan Mommy sudah memberikan tahukan beberapa tempat.
"Kita ke kolong jembatan aja dulu," saran Senja, semanja dan secuek apapun dirinya, ia tentu pernah beberapa kali ikut serta dalam partisipasi dalam hal serupa di keluarganya yang rutin juga di lakukan tiap menjelang akhir pekan atau setiap bulan.
"Hem, boleh juga."
Tempat di pinggiran kota pun di pilih pasangan suami istri tersebut agar memudahkan mendapat orang-orang yang membutuhkan. Dan benar saja, disana banyak rumah rumah kardus dengan penghuninya yang kebanyakan LanSia.
"Kamu sering begini, Sayang?" tanya Pangeran saat melihat istrinya seperti yang sudah terbiasa.
"Hanya beberapa kali, aku lebih senang jika di ajak ke panti asuhan," jawab Senja.
"Kenapa?" tanya Pangeran lagi dengan dahi mengernyit.
"Seru aja, kan nanti ketemu banyak adik adikku."
.
.
Selesai ke kolong jembatan, masih ada beberapa box lagi yang akan mereka bagikan sambil berjalan salah satunya ke tukang parkir dan juga pedagang kecil keliling. Hari ini sungguh sangat menyenangkan bagi keduanya yang bahagia bisa di dapatkan dengan cara apapun termasuk hal sederhana seperti ini.
"Waktuku akan selalu berharga jika bersamamu, Sayang," ucap Pangeran sambil mencium punggung tangan istrinya.
"Terima kasih juga untuk 10 tahun ini," balas Senja tak mau kalah mengekspresikan rasa bahagianya.
Usai pembagian nasi kotak, kini arah tujuan mereka ada pulang ke rumah sebab Mommy pasti menunggu di tambah ia juga seorang diri. Kehadiran Senja di bangunan itu setidaknya bisa untuk menjadi teman bagi wanita paruh baya tersebut yang sebenarnya kesepian. Tak punya saudara, orang tua dan satu anak tunggal membuat hidup Mommy akan semakin tidak beruntung jika tak mendapatkan pasangan seperti Daddy Andra.
"Mau mampir beli sesuatu?" tawar Pangeran sebelum kendaraan mewah yang mereka naiki tersebut masuk kedalam komplek perumahan tempat tinggalnya.
"Entah, aku tak tahu Mommy suka apa."
"Apa aja suka, Sayang. Kita kalau masalah makanan gak pilih pilih," sahut Pangeran.
Dan itu justru semakin membuat Senja kebingungan sendiri. ia yang baru satu malam disana tentu tak tahu apa-apa tentang ibu mertuanya. Menikah dengan Pangeran benar-benar seperti membeli kucing dalam karung yang buta dalam segala hal.
"Pentingnya penjajakan ya seperti ini ya, biar gak bingung gitu," kata Senja yang masih nampak berpikir.
"Ya udah, dari pada pusing nanti kita makan siang di luar aja, gimana?"
"Hem, terserah kamu."
Mungkin nanti Senja akan bisa mengamati apa yang di pilih Mommy yang pastinya itu adalah kesukaannya, bohong jika ia tak ingin mengambil hati wanita itu karna restu saja tak cukup jika tak menjadi kesayangan. Melihat Mimihnya begitu sangat di perhatikan oleh Mamih kini ia baru sadar jika begitu senangnya di kasihi oleh ibu dari pasangan yang kita cintai yang katanya tak semua orang bisa mendapatkan hal seperti itu.
Sampai di rumah, ternyata Mommy sedang ada teras. Ia menoleh sambil tersenyum saat melihat anak dan menantunya sudah kembali.
"Mom, aku masuk duluan ya, mules," pamit Pangeran yang langsung masuk kedalam rumah, tentu itu hanya sebuah alasan untuk meningggalkan istrinya berdua saja dengan Mommy.
"Dasar!" Kedua wanita itu menoleh lalu saling tatap dan kemudian tertawa bersama sebab siapa sangka akan punya jawaban yang sama seperti tadi.
Obrolan basa basi pun terlontar, Senja banyak bertanya tentang apa yang sedang di lakukan ibu mertuanya tersebut.
__ADS_1
"Jadi Mamihmu juga suka merangkai bunga?" tanya Mommy.
"Iya, semua bunga yang ada dirumah itu rangkaian tangan Mamih," jawab Senja, ia jadi rindu wanita itu sekarang.
Untuk mengisi waktu senggangnya sebagai Simpanan rasa Ratu, Mamih Diana memang banyak melakukan aktifitas di rumah, salah satunya adalah merangkai bunga tapi tak jarang juga ia banyak membuat kue untuk di bagikan ke orang orang terdekat atau sekitar. Menunggu adalah hal paling menyakitkan dan itulah yang di rasakan Mamih sebelum ia resmi menyandang status Nyonya besar Biantara karna sudah bisa memiliki Papih Adam secara keseluruhan hati dan raganya seorang diri tanpa terbagi.
"Merangkai bunga itu susah susah gampang, kelihatannya saja tinggal di atur sana sini, tapi nyatanya harus tetap dengan hati dan kesabaran," kata Mommy masih dengan tangan yang sibuk menggunting beberapa tangkai bunga mawar putih.
Tanpa sengaja, Senja jadi tahu apa yang di sukai wanita yang kini duduk di sebelahnya. Tak mudah untuk mencari bahan obrolan karna anggap saja ia sedang bicara dengan Mamih saat di rumahnya.
"Oh, ya Mom, Pangeran tadi ajak makan siang sama-sama di luar, gimana?"
"Makan siang?" mommy langsung melihat jam di layar ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Boleh, kita pergi sekarang, bagaimana?"
"Tentu, Mom."
Keduanya masuk kedalam rumah, dan berpisah di lantai dua karna harus masuk kedalam kamar masing-masing.
Ceklek
Pintu di buka Senja dengan pelan tapi tetap saja berhasil membuat Pangeran menoleh.
"Sayang, tadi aku udah aja Mommy buat makan siang sama-sama dan Mommy mau sekarang," ujar Senja yang malah duduk di atas paha suaminya.
Ia tak tahu saja jika itu adalah adegan berbahaya karna Si Jambrong yang tertekan boKongNyA pasti akan marah telah di usik.
"Sayang--," panggil Senja saat Pangeran malah menjatuhkan kepala di dadanya.
"Kamu lagi cari gara-gara ya sama aku," kata Pangeran yang tentu membuat Senja langsung menggelengkan kepala.
"Apa aku kurang sopan bicara padamu?" tanya Sanja yang keheranan.
Dan Senja semakin di buat tak paham saat Pangeran justru tertawa.
"Aku tak akan mengampunimu kali ini, tak ada penolakan, Ok."
Seringnya mereka melakukan hal yang menyenangkan di satu minggu awal pernikahan membuat Senja kini sudah langsung paham. Ia pasrah saat tubuh rampingnya di bawa ala Bridal Style menuju ranjang.
"Nanti kalau Mommy nunggu gimana?" tanya Senja yang masih mempertahankan baju atasannya saat Pangeran mencoba untuk membukanya.
"Mommy itu pengertian, Sayang. Makanya ayo cepatan."
Satu kali tarikan kain bagian atas tubuh Sang istri sudah berhasil di lepas hingga terpampang jelas di gundukan daging kenyal yang kini menjadi mainan barunya yang menyenangkan.
Pangeran sengaja tak membuka BRaNYa untuk sensasi lain saat penyatuan tubuh kali ini.
Tak hanya atas, karna yang bawah pun kini jadi sasarannya hingga polos tanpa apapun. Senyum Pria itu pun terulas sempurna saat Si Kribo seolah siap membuka jalanan licinnya.
Meski tak punya waktu banyak, tapi Pangeran tetap memberikan menu pembuka agar wanita yang kini ada di bawahnya siap menerima hantaman hantaman kenikmatan darinya.
Rasanya pun akan lain saat pasangan nya itu sudah benar-benar nampak berHasRat karna permainan tentu akan lebih menggairahkan.
"Sayang, coba gaya baru yuk," bisik Pangeran yang kini sudah dalam keadaan polos, entah kapan ia membuka pakaiannya sendiri yang ternyata kini sudah terserak di lantai dan ujung kasur.
"Gaya apa lagi sih?" tanya Senja.
Durasi yang cukup lama memang membuat keduanya bermain tak cukup dengan satu macam tapi bermacam-macam.
"Iya, coba dulu ya," sahut Pangeran yang menarik tangan Senja untuk bangun, bersyukur lah ia mendapat istri yang bisa melayaninya dengan sangat baik dan seimbang di berbagai permainan yang mereka lakukan.
Senja yang pasrah akhirnya bangun dari baringnya dan melakukan apa yang di ingin sang suami di belakangnya sekarang.
"Begini?" tanya Senja.
.
.
.
Hem, iya. Ini gaya nanem singkong...
__ADS_1