
🍂🍂 Part 05 🍂🍂
Minul, nama yang terlintas begitu saja di otak Shaquenna RanJa BiantaRahrdian Bramasta saat di tanya oleh Daren, siapa lagi jika bukan majikannya kini.
"Ya sudah, kamu ikut saya sekarang," ajak pria tampan rupawan tersebut pada si pembantu barunya.
Shaquenna hanya menggangguk, ia ikuti pria tampan rupawan itu dari belakang seraya berdoa dalam hati jika suatu saat nanti ia akan berjalan berdampingan dengan Daren sambil saling bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih.
"Hey, Minul. Kamu kenapa?" tanya Daren saat membalik kan badan lalu melihat pembantu barunya itu sedang senyum senyum tak jelas.
"Eng--enggak, Tuan," jawab Shaquenna panik dan terbata bata.
Daren yang memang sedikit tak enak badan langsung masuk ke unit Apartemennya yang cukup mewah jika di huni untuk satu orang saja, tempat luas dengan tiga kamar tidur.
"Sebenarnya tak ada yang terlalu kamu kerjakan, cukuplah bersih bersih saja, cuci baju ya kalau ada. Selebihnya tunggu perintah dari saya," jelas Daren saat ia dan si pembantu jadi jadian itu sudah di ruang tamu.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Shaquenna yang sangat mendalami perannya berhasil tak membuat Daren curiga sama sekali.
"Kamu sudah makan nasi?" tanya Daren, perihal nasi inilah yang jadi alasan Shaquenna di terima, Daren merasa kasihan karna nyatanya jaman sekarang masih ada saja yang tak makan dalam seminggu padahal bukan begitu konsepn yang sebenarnya.
"Nasi? belum Tuan, tadi cuma minum susu," jawab Shaquenna.
"Ya sudah, ada beras di dapur, kamu bisa masak di sana. Tak perlu banyak banyak asal cukup untuk mu saja," titah Daren pada si Minul yang kini ada di depannya.
Shaquenna mengangguk pelan, otaknya sedang berpikir bagaimana caranya masak nasi, sedangkan ia saja jarang makan nasi.
"Ayo sana, memang saya ini nasi? yang di lihatin trus kamu kenyang?"
Shaquenna masuk ke area dapur yang tak jauh berbeda dengan dapur bersih pada umum nya, termasuk di rumah mewahnya juga yang kadang di pakai masak oleh Mommy Viana karna mamanya jarang sekali melakukan hal tersebut, sama seperti Mimih Cahaya yang tak pernah tahu dimana letak bumbu dapur sama sekali hingga sekarang.
"Berasnya dimana sih? dah tahu Mbul tuh males nyari orannya," gerutunya kesal saat membuka satu persatu rak bawah.
__ADS_1
Ia sampai menggaruk kepalanya sendiri karna saking bingung nya, tapi tak lama senyum merekah di ujung bibirnya saat ia menemukan yang ia cari.
"Bilang dong kalau dari tadi di sini," cetus Shaquenna memarahi dan memukul Dispenser beras berwarna putih tersebut.
Dengan rasa percaya diri, Shaquenna menekan tombol nya alalu menarik wadahnya yang kini sudah terisi oleh beras, tak banyak memang kira kira hanya segenggam tangan sebab ia ingat jika Daren menyuruhnya masak hanya untuk dirinya saja. Padahal, ia tak merasa lapar sama sekali.
Tapi entahlah, sepertinya jiwa pembantu langsung melekat karna ia tiba tiba menurut saja dengan perintah Daren, si majikan tampan incarannya.
"Terus ini di gimanain?" gumam Shaquenna yang semakin bingung, terlihat si wadah berisi beras tadi masih ada di tangannya.
Ide pun langsung muncul di otaknya, ia meraih ponsel yang ia sembunyikan di perutnya, ia nyalakan si benda pipih itu kemudian menekan tombol mikrofon.
.
.
__ADS_1
.
Mbah, gugel--, cara masak nasi gimana?