
🍂🍂 Part 09 🍂🍂
Satu kamar tidur yang tak lebih luas dari kamar mandinya di rumah, kini menjadi tempat istirahat bagi Shaquenna RanJa BiantaRahardian Bramasta, seorang gadis cantik yang sedang berubah wujud jadi pembantu jadi jadian.
"Huft--, apa apaaan ini!" gerutunya kesal dengan mengepalkan tangan.
Hanya ada satu ranjang yang cukup satu orang dengan satu bantal kepala saja, tak ada selimut tebal bahkan seprei pun tak terpasang hingga terlihat jelas kasur busanya, di dinding kamar tersebut hanya ada sebuah jam dan..
"Ya ampun, kipas angin--, Mama... tolong anakmu yang cantik ini, hiks!"
Shaquenna berjongkok di depan pintu yang masih terbuka sambil menenggelamkan wajah anehnya di atas telapak tangan. Ingin rasanya ia guling guling sambil menangis tapi tempatnya sangat sempit, hanya karna cinta kini hidupnya sangat menyedihkan.
Tapi, perasaan ingin menyerah itu sirna saat Shaquenna ingat sudah berhasil mencium punggung tangan Daren kemarin, dan barusan mereka pun sudah ada di posisi sangat dekat bahkan ada bonus tambahan yaitu bisa menghirup bau ketek pria incarannya.
__ADS_1
"Ayo, Mbul, jangan nyerah, besok pasti bisa cium pipi dan--," Shaquenna tak meneruskan ucapannya karna ia malah malu sendiri membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sudah saatnya menjadi sepasang kekasih bahkan suami istri kelak.
Wajahnya yang tadi merengut kesal kini merah merona menahan malu, tentu karna Shaquenna tak sepolos yang orang kira apa lagi sepupunya adalah si Buaya betina yang tiada hari tanpa tebar pesona.
.
.
.
"Kenapa jadi gue yang ngerjain?! ini kan udah jadi tugas si Minul," omelnya pada diri sendiri yang terbiasa mandiri.
Saat memutuskan untuk pindah ke Apartemen, baru kali ini ia memakai jasa ART yang tinggal menetap bersamanya, karna hari hari sebelum ada si Minul ia selalu memakai jasa Home Cleaning yang datang 3 kali dalam seminggu.
__ADS_1
Daren yang tubuhnya tetap tak merasa jauh lebih baik pun memilih masuk kedalam kamarnya, hari ini ia benar-benar hanya ingin istirahat. Tapi, rasanya itu semua hanya angan saat ia mendengar bunyi notifikasi di ponselnya.
Satu pesan pun mulai di baca oleh Daren meski rasanya ia sangat malas sekali, karna pasti kepalanya akan jauh lebih pusing dari sekarang
*Mama
[ Daren, sabtu malam nanti kamu harus bertemu dengan Bella, Mama sudah pesan tempat di salah satu Resto dekat Apartemen mu, jadi tak ada alasan apapun lagi, Ok ]
Daren yang sudah selesai membaca itu pun langsung melempar ponsel mahalnya tersebut ke atas ranjang tanpa ada niatan untuk membalasnya sama sekali, ia sudah muak dengan keinginan sang Mama yang sudah setahun belakangan ini sibuk menjodohkan nya dengan banyak wanita, mulai yang sengaja di cari sampai anak dari teman temannya, namun tak ada satupun yang mampu membuat Daren tertarik. Semua sama saja menurutnya sebab ia sudah tak ingin lagi berhubungan dengan wanita manapun.
.
.
__ADS_1
.
Maafin Daren ya, Mah.. rasa nya masih sakit sekali, biar kan luka ini sembuh dulu. Barulah Daren buka hati lagi meski Daren tak bisa menjanjikan apapun pada wanita baru itu..