
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ya ampun, kenapa aku baru sadar kalau kamu gada liburnya sih, Ran!" Senja sampai memukul paha suaminya yang memang duduk tepat di sampingnya tersebut.
Pangeran yang kaget tentu langsung terlonjak sebab ia masih mencerna apa yang di tanyakan oleh Dokter.
"Libur Silaturahmi?"
"Iya! Lancar banget tuh dari awal nikah sampe sekarang Si jambrong Hiya Hiya," sahut Senja.
Betapa bodohnya wanita itu merutuk dirinya sendiri yang tak peka akan hal tersebut, padahal ia bukan lagi gadis remaja yang datangnya Si bulan kadang tak menentu. Ia punya jadwalnya sendiri yang beberapa tahun belakangan ini sangat rutin meski kadang maju atau mundur satu dua hari.
Senja ingat, hari pernikahannya yang mendadak itu memang terjadi saat ia baru selesai Menstruasi. Jika kata ilmu kedokteran itu sedang subur suburnya dan malah di sembur tak henti henti.
Jadi tak salah jika kini mereka sedang menerima hasilnya, hasil olah raga yang tak hanya keduanya lakukan malam hari tapi pagi siang sore malam hingga pagi lagi.
Tak pernah ada obrolan tentang anak yang sangat serius diantara mereka karena semua di jalani begitu saja, di tambah tak ada yang harus di pikirkan sebab dari segi umur dan finansial pasangan itu sudah sangat siap lahir bathin, hanya tinggal mematangkannya saja terutama mental.
"Di periksa dulu ya, Nona, agar lebih akurat hasilnya, atau pernah tespek sebelumnya?" tanya Dokter.
"Tidak, Dok. Kami--, tak pernah punya pikiran sampai sana," jawab Senja.
"Baik, kita USG dulu ya."
Sama seperti tadi, ia berbaring di Brankar Pasien dengan baju atasan yang singkap hingga dada. Namun, ada yang lain dari sebelumnya yaitu rasa dingin dan geli di bagian perut. Senja yang melihat ke arah langit langit Ruang Dokter sangat menikmati sensasi yang baru ia rasakan tersebut.
Jangan tanya dimana Pangeran, sebab pria itu ada di sebelah istrinya sambil menggengam tangan Sang wanita halal, ia khawatir Senja takut dan tak nyaman padahal nyatanya justru kebalikan.
"Sayang--," Panggil Pangeran.
"Gak apa apa, aku baik baik kok'," jawab Senja sambil tersenyum simpul, ia terlihat sangat cantik dan Pangeran baru sadar jika pipi wanita itu sedikit bulat seperti tomat.
Pangeran yang mengangguk pelan mulai memperhatikan apa yang ada di layar depan Sang Dokter, gambaran yang tak ia pahami itu benar-benar tak sampai di otaknya hingga pemeriksaan selesai.
"Biar saya jelaskan sekarang ya," ucap wanita berjas putih tersebut.
Senja yang sudah di bersihkan bagian perutnya oleh Suster di bantu turun dengan meraih tangan Pangeran. Kini, pasangan suami istri itupun sudah duduk kembali seperti saat awal datang, yaitu berhadapan dengan Sang Dokter yang hanya sebuah meja kaca yang jadi penyekat nya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Pangeran yang tak sabar dengan hasil pemeriksaan.
Dokter yang tersenyum simpul membuat jantung Senja semakin berdebar hebat.
Ia juga lemas di bagian kaki karna takut tak sesuai dengan yang ia pikirkan.
"Selamat ya, Tuan dan Nona, kalian akan menjadi orang tua," jawab Dokter singkat namun mampu membuat dunia pasangan itu berhenti beberapa detik..
"Orang tua?" gumam Senja pelan.
"Iya, Nona. Anda hamil."
Deg...
Kata hamil yang barusan terlontar dari bibir Dokter tak pernah terlintas di benak Senja, bahkan ia tak pernah membayangkan akan memiliki perut buncit dan bergerak gerak seperti yang pernah ia lihat dari para sepupu perempuannya.
Tapi, kini semua itu akan terjadi padanya sekarang sampai beberapa bulan ke depan.
Semua yang di jelaskan Dokter di dengar seksama oleh Pangeran karna Senja bagai orang yang justru baru bangun dari tidur, sadar tak sadar dengan yang sekarang ia alami.
Pangeran yang sebenarnya pun merasakan hal yang sama, tapi ia masih paham dan mengerti dengan yang di ucapkan Dokter sejak tadi, mulai dari usia kandugan, apa saja yang boleh dan tak boleh di lakukan Si ibu hamil hingga jadwal kontrol selanjutnya .
"Ada yang ingin di pertanyakan, Tuan?"
"Hem, bisakah kami melakukannya? maksud saya, bahaya atau tidak jika kami masih berhubungan badan?" tanya Pangeran yang tak jauh dari perihal ranjang , ia tentu khawatir jika Si Jambrong tak mendapat jatah harian seperti biasa.
"Bisa, asalkan tetap hati-hati dan pelan. Tak perlu terburu-buru apalagi di lakukan dengan kasar. Kalian masih bisa melakukannya sampai menjelang kelahiran malah itu sangat di anjurkan," jelas Dokter yang membuat Pangeran lega dan senang tentunya.
Dirasa semua tak ada lagi yang harus di jelaskan, Pangeran pun membawa istrinya untuk pamit. Mereka keluar dari rumah sakit langsung menuju rumah utama.
.
.
.
"Aku hamil, Ran," ucap Senja saat ia dan suaminya sudah ada di dalam mobil yang belum di jalan kan bahkan mesinnya pun belum di nyalakan oleh Pangeran.
"Iya, aku yang hamilin," jawabnya pelan.
Meski sudah sama-sama dewasa tapi jika mendapat kabar yang cukup mendadak seperti ini siapa sangka akan membuat pasangan itu seperti Abegeh.
"Memang siapa lagi?" cetus Senja langsung menoleh kearah pria yang sudah mengaku menghamilinya tersebut.
Pangeran hanya tersenyum kecil, seolah ada yang berbisik padanya untuk menyadarkan jika wanita yang 10 tahun lalu sulit sekali ia taklukan kini malah menjadi tempat para cebong Si Jambrong tumbuh berkembang biak.
"Kenapa senyum senyum?"
"Kok tanya kenapa? memang kamu pikir aku gak seneng kamu hamil, wajar dong kalau senyum-senyum, karna kalau ketawa takutnya Si calon Ayah ini di sangka gak waras," sahut Pangeran yang kemudian mencium sekilas pipi istrinya.
"Calon Ayah? Lucu ya, kamu jadi bapak bapak," balas Senja yang kali ini di selingi dengan gelak tawa.
"Hem, dah kamu mau jadi emak emak," sahut Pangeran tak mau kalah.
Dan itu berhasil membuat kedua bola mata Senja bulat sempurna karna bagaiamana pun ia baru sadar akan hal tersebut.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tua ya aku," ujarnya sambil menyentuh pipinya sendiri.
"Lah, emang siapa yang bilang kamu masih anak SMA, Sayang?" ledek Pangeran samo tertawa karna gemas melihat ekspresi campur aduk istrinya yang ada senang, sedih, kesal dan tentunya masih tak percaya.
"Enduuuuuuuuuuut!!!"
.
.
.
Perjalanan yang seakan jauh lebih lama kini tengah di tempuh oleh Si pasangan suami istri yang tentunya sedang berbahagia meski masih terselip rasa tak percaya. Senja yang sedari tadi diam melamun justru sedang berpikir bagaimana caranya ia memulai cerita pada orang rumah tentang kabar kehamilannya ini.
Hingga tak terasa ia di kagetkan oleh Pangeran yang memberitahu jika mereka sudah sampai.
"Kamu melamun?" tanya Pria tersebut.
"Sedikit, hanya saja aku bingung harus bicara dari mana dulu, Ran."
"Bilang saja kamu hamil, beres!" Pangeran sampai menaik turunkan alisnya seolah memberi tahu jika tak ada yang perlu di khawatir kan.
Senja menarik napas, lalu di buangnya perlahan, ia hanya tak siap dengan reaksi keluarganya nanti seperti apa.
Dirasa sudah jauh lebih tenang, Senja turun dari mobil setelah Pangeran membuka pintu bagian kiri, atau tepatnya di bagian kursi penumpang.
Mereka berjalan beriringan dengan Senja bergelayut manja di lengan Sang suami. Langkah demi langkah terasa melayang bagi keduanya yang kini sudah berada di ruang tengah rumah utama.
"Syukur lah kalian sudah pulang, Mimih sangat khawtir karna tak bisa menghubungi kalian sama sekali," ucap Mimih Cahaya saat anak dan menantunya sudah kembali.
Itu sangat wajar di rasakan karna Senja memang tak membawa ponsel, benda pipih tersebut masih di kamarnya saat Sang suami datang dan kemudian membawa Senja memeriksa keadaannya. Sedangkan Pangeran langsung membuka jas hitamnya di mobil saat perjalanan menuju rumah sakit.
"Maaf, Mih," jawab keduanya secara berbarengan.
"Kalian jadi kan ke rumah sakit? Lalu apa kata Dokter?" tanya Onty Hujan yang sama harap harap cemasnya sebab ia punya tebakan yang masih di simpan dalam benaknya.
"Jadi, ini baru pulang dari sana," sahut Senja.
"Lalu apa kata Dokter? Kok lama sekali? Kamu sehat kan? Kamu gak sakit kan, Sayang?" Mimih Cahaya yang dulu sejak bayi punya penyakit Jantung tentu lebih parno jika mendengar anak anaknya sakit, sebab ia takut penyakitnya itu menurun pada keturunannya kelak, jadi tak salah jika kini ia memberondong Senja dengan banyak pertanyaan.
"Enggak, Mih. Aku sehat, Mimih jangan khawatir begitu, akunya sedih," jawab Sang putri yang paham perasaan Mimih nya yang ketakutan begitu pun dengan yang lain termasuk Amma, wanita itu pernah hampir gila juga saat harus tahu putri kecilnya ternyata tak baik baik saja sejak lahir.
"Syukurlah, tapi sekarang apa masih mual? Dokter memberimu obat apa agar cepat sembuh, hem?" tanya Mimih lagi yang tak sepanik tadi.
"Obat mual, penambah darah dan vitamin untuk ibu hamil," jelas Senja jujur dengan jawabannya, bahkan benda tersebut kini ada di tangan suaminya.
"Ibu hamil?" Seru semuanya serentak lalu saling pandang satu sama lain.
"Iya, aku HAMIL."
.
.
.
"Ran, bangun dong, jangan kaya gini," rengek Senja saat suaminya sudah di bopong ke dalam kamar setelah ia tak sadar kan diri.
Derai air mata terus membanjiri wajah cantik Senja yang duduk di tepian ranjang mereka.
"Gak apa-apa, sebentar lagi juga siuman, kamu tunggu saja ya," ujar Mimih menenangkan putrinya.
Kabar baik dan menggembirakan itu tertutup dengan rasa panik karena Si calon ayah tak sadar kan diri saat istrinya mengaku hamil di depan keluarga besar yang berkumpul.
Aneh, bukan?
Padahal sebelumnya pria itu sudah tahu dan bahkan sangat bahagia, tapi bukan ENDUT namanya jika tak membuat drama.
"Dia belum makan kali, makanya pingsan, Ra?" bisik Appa Reza pada istrinya yang sampai detik ini di panggil Khumaira yang artinya kemerah-merahan, itu tentu ada alasannya sebab kedua pipi Sang Nyonya besar Rahadian akan seperti tomat jika sedang di rayu.
"Mana ku tahu, Mas. Coba saja tanya padanya jika sadar nanti," jawab Amma yang penasaran juga.
"Emang kamu mau tahu juga, Ra?" goda Appa Reza seperti biasa.
"Enggak, aku mau daging, gak mau tahu."
Pria baya berhati hangat itupun tertawa gemas sampai rasanya ingin menggigit istrinya yang barusan menatapnya dengan sorot mata tajam mematikan.
Dan..
"Syukur lah, kamu bangun, Ran." Senja yang merasa lega perasaannya terus menciumi punggung tangan Sang suami yang terlihat masih lemas.
"Aku kenapa?" tanya Pangeran bingung, kepalanya masih berdenyut dengan pandangan sedikit berkunang kunang.
"Kami yang harusnya bertanya, kamu kenapa gak ada hujan gak ada angin bikin repot orang?" Cetus Samudera yang baru pulang dari kantor malah harus mengeluarkan tenaga membopong suami dari sepupunya tersebut.
"Eh.. Eh.. Anak ganteng mau berubah jadi anak durhakim nyebut MiMoynya," Kata Air yang tak lain adalah papAynya sendiri.
"Ups, Lupa!"
Sadarnya Pangeran tentu membuat yang lain juga bisa bernapas lega sama seperti Senja yang kini sudah bisa tersenyum saat satu persatu keluarganya pamit untuk keluar dari kamar.
"Maaf ya, Sayang." Pangeran yang berusaha bangun, tetap di bantu Sang istri untuk bersandar ke punggung ranjang.
__ADS_1
"Jangan begini lagi, aku takut. Ran," mohon Senja yang kembali terisak, ia sampai gemetaran ketika tahu pria yang di cintainya itu terkulai lemas tak sadarkan diri lalu jatuh ke lantai.
"Aku udah nahan nahan dari rumah sakit, tapi pas kamu ngaku hamil, aku udah beneran gak kuat. Jantung ku yang berdetak ribuan kali lipat seakan jopot dan lepas dari tubuh, Sayang." Pangeran beralasan sambil sedikit terkekeh tapi ia jujur dengan yang dirasakannya tersebut.
"Ngaco! memangnya bisa pingsan ditahan?" kata Senja dengan nada kesal karna pria itu berhasil membuatnya seolah tak bertulang.
"Bisa dong, kan aku pas mau pingsan mikir dulu, Sen." Gelak tawa pun menggema ke seisi kamar yang kerap udara eh kedap suara.
Tapi, tentu itu tak berlansung lama sebab langsung berganti dengan rintihan rasa sakit sebab Senja memukuli Pangeran dengan batal dan tak lupa memberinya juga beberapa cubitan kecil khas dirinya yang di pelintir hingga meutar 180 derajat.
"Ya ampun, Si Mommy pasti dapet karma nih, jewerin anak orang terus, sekarang anaknya abis di aniaya."
.
.
.
Satu hari yang begitu banyak drama pun terlewat, jika dulu Senja paling di sayang tentu kini makin-makin, makin di limpahi doa dan perhatian adalah bentuk kasih sayang yang utama bagi nya sekarang yang kini sudah jauh lebih sempurna. Ia telah hidup menjadi anak, istri dan kini seorang ibu.
"Sore nanti kita pulang ya, kita beritahu Mommy dan Daddy tentang kabar kehamilannmu, Sayang."
"Iya, kamu kerja aja dulu, nanti saat kamu pulang, kita langsung pamit," jawab Senja yang tahu betul bagaimana tak sabarnya pria itu.
Ya, Pangeran ibarat bocah yang punya mainan baru yang segera ingin ia pamerkan pada orang-orang, ia resah dan galau di setiap detik dengan senyum tak lepas dari ujung bibirnya yang merah alami nan manis dirasakan oleh Senja.
"Andai tak ada pertemuan penting, aku tak akan memilih ke kantor saat ini," desAhnya kesal.
"Jangan begitu, tanggung jawabmu bertambah satu sekarang, Ran." Senja mencoba mengingatkan dengan meraih tangan Pangeran untuk menyentuh perutnya yang masih rata. Masih ada beberapa bulan lagi untuk bagian itu membuncit besar nantinya.
"Hem, kamu benar. Terima kasih sudah mengingatkan ku, Cantik." Pangeran langsung berlutut hingga wajah tampannya kini sejajar dengan perut Sang istri.
"Jangan nakal ya, Sayang. Sore ini kita pulang untuk beritahu Daddy dan Mommy jika mereka kini semakin tua dengan adanya kamu. "
Namun senja malah tertawa mendengar hal tersebut. Ia usap kepala pria setianya itu dengan lembut penuh kasih sayang hingga Pangeran mendongak. Kini tatapan pasangan suami istri tersebut saling bertemu kemudian melemparkan senyum satu sama lain dengan tatapan cinta di kedua mata masing-masing.
.
.
Jam yang berdetak tanpa henti kearah kanan adalah tanda jika waktu terus berputar dengan seiringnya aktifitas yang di lakukan. Pagi yang kini berganti sore telah membawa Seorang Pangeran kembali dari tempat ia mencari nafkah halal untuk istri dan juga calon anak mereka.
Senja yang sudah di kabari 30 menit yang lalu pun langsung bersiap karna rencananya ia dan Sang suami akan langsung pulang ke rumah Mommy Viana.
"Sudah?" tanya Pangeran saat di ruang tamu bersama dengan Senja yang sudah menunggu.
"Hem, iya. Pamit dulu ke Amma juga Appa ya," jawab Senja yang di iyakan.
Hanya ada pasangan baya itu saja di rumah utama karna yang lain belum pulang dari urusan mereka masing-masing kecuali Mimih dan Pipih yang sudah pulang ke kediaman Binatara 2 jam lalu.
Pamit adalah hal yang paling menyebalkan karna mau tak mau kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi apalagi jika tak tahu kapan akan kembali bertemu, itu jugalah yang dirasakan Senja sekarang.
"Hati-hati di jalan ya, ingat semua pesan dokter. Ingat, di dalam rahimmu ada darah Rahardian juga," Kata Appa sambi mengusap perut cucu perempuannya.
"Iya, Appa, Amma, kami pulang dulu ya."
Dan, pelukan hangat pun benar-benar akhir dari kebersamaan mereka saat ini.
Senja yang selalu bergelayut manja kini berjalan kearah garasi tempat mobil mewah suaminya berada. Perjalanan menuju tempat tinggal yang sebenarnya pun sudah siap mereka tempuh sekarang.
Kondisi jalan yang macet sudah biasa terjadi di ibu kota dan itu masih saja membuat Pangeran mengoceh sepanjang jalan saking tak sabarnya ingin cepat sampai di rumah.
"Sudah ya, ini sudah di depan pintu rumah. Stop marah marah, Ok."
Senja yang membuka pintu langsung masuk, ia bertemu dengan salah satu ART yang mengatakan jika majikan mereka sedang ada di ruang tengah lantai dua.
"Sayang, kalau kamu hamil tua rasanya kita harus pindah ke bawah, aku gak mau kamu naik turun tangga setiap hari," kata Pangeran yang sudah berpikir jauh karna jika di kediaman Biantara maupun di rumah utama tentunya ada Lift.
"Hem, nanti kita pikirkan lagi ya, masih lama kok, santai aja, Ran."
Mereka yang akhirnya sampai sedikit mengejutkan Mommy dan Daddy sebab pasangan itu menebak jika anak dan mantunya akan pulang sehabis makan malam.
"Loh, kok gak ngabarin? Mommy pikir kalian sampai malam nanti," kata wanita paruh baya tersebut.
"Iya, jadinya sekarang, Mom."
"Ya sudah, Mommy minta Mbak untuk masak lebih ya," ucapanya lagi sambil bangun dari duduk namun di tahan oleh putranya.
"Ada apa?"
"Kami mau bicara sebentar, Mom." Pangeran pun lekas meminta Mommy nya itu untuk duduk kembali.
"Apa sih? penting banget ya?" tanda Daddy yang aneh dengan sikap anaknya.
"Penting lah, orang aku mau bikin pengumuman," sahut Pangeran sambil senyum senyum dan itu semakin membuat penasaran.
"Apa? Cepetan!"
.
.
.
__ADS_1
Pengumumannya adalah, kalian sekarang akan jadi GranMi dan GranDa...