Pangeran Senja

Pangeran Senja
Draft


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Perkara Satu Truck kentang berakhir dengan pamitnya mereka juga ke ibu kota yang tentunya membawa serta Bunda bersama.


Satu malam dua hari ini sungguh tak akan dilupakan oleh Mommy, Daddy dan Pangeran sebab lagi dan lagi Senja belum tahu masalah semalam.


"Harusnya pulang sore nanti, Senja kan pengen sayur bayam," kata Bunda saat sudah setengah perjalanan pulang.


"Nanti di masak di rumah, Bun," jawab putri sambungnya.


"Udah layu dong," timpal Daddy yang duduk kursi depan bersama Pangeran.


"Hem, mirip kupingmu tuh," cetus Mommy.


Daddy langsung mengusap telinganya yang sempat merah, beruntungnya Pangeran tak kena hukuman sama sekali meski ia tetap di marahi sebelum ponselnya di berikan.


Perjalan pulang memang jauh lebih cepat, dan itu juga yang di rasakan oleh mereka, tentunya karna memang tak adanya kendala sama sekali tak seperti saat berangkat kemarin.


Satu hal yang paling di senangi Mommy tentu ikutnya Bunda. Rumah akan semakin ramai dengan datangnya lagi satu anggota keluarga yang selama ini hanya sesekali saja berkunjung. Semua yang masih nampak sama bahkan kamar Ayah dan Bunda yang terawat hingga kini selalu mampu membuat wanita bercadar itu mencelos sedih meski sudah jarang terisak sedih.


"Langsung pulang nih?" tanya Pangeran yang di iyakan Mommy sebab ART di rumah sudah masak untuk makan malam mereka.


Rasanya sangat lelah jika harus naik turun mobil lagi karna habis makan inginnya langsung meringkuk di atas kasur.


Kendaraan mewah yang mereka tumpangi kini telah masuk kedalam komplek perumahan dan tak lebih dari 20 menit mobil sudah ada di garasi rumah pertanda perjalanan telah selesai.


Satu persatu semua turun dari kereta besi itu dan bergegas ke kamar masing-masing termasuk Pangeran dan Senja.


Ceklek


Senja yang baru masuk langsung naik ke atas ranjang yang saat ia buka pintu kamar rasanya seperti melambai memanggilnya.


"Capek ya? Maaf," ujar Pangeran sambil mengusap kepala Senja penuh sayang.


"Aku kurang enak badan aja kayanya, tumben loh begini," sahut Senja yang meringkuk.


"Ke dokter ya, atau dokter yang kemari?".


" Tak perlu, aku ada vitamin, biar nanti aku minum itu lalu itu istirahat. Cukup kok."


"Yakin? aku tak mau kamu semakin parah, Sayang. Semalam kamu demam kan?" tanya Pangeran yang tahu itu dari Mommy.


Senja hanya mengangguk pelan, tapi ia juga meminta Pangeran tak khawatir tentang itu sebab terbukti sampai sekarang ia masih baik baik saja.


Pangeran yang tak mau menganggu akhirnya memilih untuk membersihkan diri, ia biarkan Senja tidur sebelum akhirnya mereka akan makan bersama.


.


.


.


"Dimana istrimu?"


"Masih tidur, Mom. Kayanya capek banget aku gak tega bangunin nya," sahut Pangeran sambil menarik salah satu kursi meja makan yang hanya ada Mommy dan Bunda, entah dimana Daddy nya mungkin istirahat sama seperti Senja.


Obrolan antara Pangeran dan Bunda terus berlangsung, ia punya kesan manis dalam perkenalan pertamanya dengan Senja dan itu tentu membuat Pangeran sangat senang.

__ADS_1


"Kamu masih berhubungan dengan Putri?" tanya Bunda.


"Hem, terakahir beberapa waktu lalu. Aku hanya membalas beberapa pesan yang menurut ku penting. Misal tentang pekerjaan tapi jika sudah melenceng dari itu aku abaikan. Aku tak mau memberi harapan apapun sebab ini adalah keputusannya," sahut Pangeran.


Bukan hanya keputusan berakhirnya hubungan mereka yang dipatut di acungi jempol tapi juga kembalinya Putri ke negara mereka dulu untuk melanjutkan hidupnya disana juga wajib mendapat ribuan terima kasih dari Pangeran karna setidaknya tak ada alasan bagi keduanya untuk bertemu.


"Jaga perasaan Senja, sekali kamu buat istrimu tersenyum justru akan banyak keberuntungan dalam hidupmu kelak. Ingat, ia adalah tulang rusukmu yang bengkok yang harus kamu luruskan dengan penuh cinta dan kesabaran."


Mommy yang mendengar hal tersebut hanya bisa memeberikan senyum terbaiknya. Nasihat yang Pangeran berikan sama seperti yang Daddy Andra dapatkan. Dan itu memang membuat hati yang mendengarnya akan teduh karna cara Bunda memberi tahu bukan seperti menggurui.


"Tentu, Bun. Akan ku maksimal kan untuk membahagiakannya."


"Perhatikan juga hal hal kecil yang ada di dalam diri istrimu ya, yang menurutmu sepele belum tentu baginya, mungkin itu masalah besar yang sedang di rasakannya, jadi cobalah untuk peka," pesan Bunda lagi.


Orang tua mana pun tentu hanya ingin rumah tangga anaknya rukun meski masalah pasti akan silih datang berganti, tapi semua bisa di atasi jika komunikasi tetap berjalan lancar. Kejujuran juga menjadi poin pertama sebab sekali saja berbohong pasti ada kebohongan lagi untuk yang kedua, ketiga ke empat dan seterusnya hingga semua akhirnya terbongkar sekaligus. Dan percayalah, saat hari itu tiba akan hanya sesal di depan mata.


.


.


.


Makan malam yang sudah siap membuat Pangeran di minta untuk memamggil Senja tapi baru saja ia masuk malah sudah di kagetkan dengan wanita itu yang datang menghampiri.


"Loh, sudah bangun?"


"Hem, sudah mandi juga," sahut Senja sambil terkekeh. Wajahnya begitu cantik dengan sorot mata yang meneduhkan.


"Sini ku cium dulu, sudah harum begini mubadzir jika tak aku nikmati," kata Pangeran yang langsung menarik tangan istrinya.


Mulai dari kening belanjut ke kedua pipi yang selalu merona jika sedang di puji. Bibir mungil dengan rasa manis itupun tak luput dari sasaran Pangeran yang menahan hasratnya sejak kemarin.


Lenguhan terdengar juga di telinga Pangeran saat setiap inci leher jenjang istrinya ia nikmati.


"Cukup , Ran. Kita mau makan malam, aku tak mau di tunggu," ucap Senja yang akhirnya sadar dari buaian yang di berikan suaminya barusan.


"Habis makan malam ya, aku akan menghabisimu tanpa ampun," jawab Pangeran yang berbisik kemudian memainkan hidungnya sekilas di telinga Senja hingga wanita di dalam pelukannya itu bergeliat karna geli.


Tak ada jawaban apapun dari Senja sebab itu rasanya tak penting sama sekali. Mau tak mau ia akan tetap melayani sebab jika sudah begini rasanya tak mungkin lepas dari Pangeran.


.


.


.


"Yang manggil gak ada yang di panggil pun gak ada," gerutu Daddy Andra yang sudah menunggu di meja makan.


"Kaya gak pernah gitu aja," timpal Mommy sembari menuangkan air putih kedalam gelas.


Daddy hanya mencibir saat Bunda justru terkekeh mendengar jawaban dari anak sambungnya itu.


"Kamu jangan sering-sering mengomel karna Pangeran yang sekarang ya cermin kamu saat muda dulu. Gimana, enak?" goda Bunda yang turut membuat Mommy tertawa.


"Apaan nih, lagi ngomongin aku ya?" tanya Pangeran yang ternyata sudah di ruang makan bersama dengan Senjanya.


"Eh, Si Ndut, kupingnya gerak gerak ya sampe tahu kalau lagi di ghibahin," kekeh Daddy Andra yang membuatnya sangat kesal.

__ADS_1


Senja yang duduk setelah kursinya di tarik oleh Pangeran langsung mengembangkan senyum, karna di depannya kini ada semangkuk sayur bayam dan jagung yang sepertinya khusus untuknya saja.


"Bayam yang di bawa tadi sudah layu, Mommy beli yang baru. Gak apa apa kan?"


"Ya enggak dong, Mom. Justru aku mau berterima kasih dan maaf aku tak bisa bantu masak kali ini, aku--,"


"Sudah lah, yang penting kamu bisa istirahat ya. Apa mau di panggilkan dokter?" potong Mommy langsung.


"Tak perlu, aku sudah minum vitamin."


Makan malam dengan obrolan hangat pun di lewati dengan banyak kesan yang Senja dapatkan hingga ia rindu keluarganya sendiri . Sudah satu minggu ini Si bungsu memang belum pulang ke kediaman Biantara maupun rumah utama padahal mimihnya sudah berkali-kali memintanya untuk datang sekedar makan siang bersama. Tapi, rencana menjemput Bunda yang di majukan membuat Senja mengulur waktu untuk ia pulang juga, dan rasanya tak mungkin ia pergi dari rumah disaat Bunda baru datang. Entah akan berapa lama wanita itu di rumah ini, Senja tak punya kuasa untuk bertanya hal itu sebab tak ingin menyinggung siapapun.


Ia yang baru masuk ke dalam keluarga Bramasta tentu belum hapal betul bagaimana watak satu persatu yang sebenarnya, jika di bilang baik tentu semua orang pada dasarnya baik tapi baiknya seseorang kadang tergantung kita padanya. Itulah yang Senja tanamkan dalam dirinya di bangunan dua lantai ini.


Ia memang menjadi dirinya sendiri tapi bukan berarti menyamakan kelakuannya seperti di rumah sendiri, tetap ada batasan mana yang boleh dan tidak karna setiap orang dan keluarga punya privasinya masing-masing.


.


.


.


"MendeEesahHlah, Sayang," bisik pria yang sedang menghentakkan miliknya dengan cukup brutal malam ini.


Bukan Pangeran namanya jika tak menepati apa yang sudah ia ucapkan, ia benar-benar menghabisi istrinya pasrah di bawahnya saat ini. Hanya gigitan kecil pada bibirnya sendiri yang Senja lakukan untuk menahan gejolak dari dalam dirinya.


Tak perduli salama apa ia menyandang status sebagai istri nyatanya Senja masih saja malu jika bersuara berlebihan saat Penyatuan tubuh padahal suaminya sangat suka itu karna akan menambah gaiRAhnya.


"Ran, aku--." Senja hanya bisa mencengkram bahu Pangeran dan sprei yang berantakan saat gelombang nikmat itu menghantam nya bertubi tubi hingga ia lemas sendiri.


Entah sudah berapa lama mereka bermain karna sampai detik ini nyatanya belum ada tanda tanda pelepasan dari Pangeran yang masih bekerja keras menggali kepuasannya.


"Kenapa? enak, hem? mau di percepat, Sayang?"


Keduanya terus berlomba menggapai surga dunia nya bersama, rasa yang terus berulang untuk kesekian kalinya sejak menyandang status pasangan Halal.


Dan, ambruknya Pangeran di atas tubuh polos Sang istri sebagai pertanda jika tugas Si Jambrong bersilaturahmi pada Si kribo sudah selesai.


Lahar panas cinta mereka yang tertahan sejak kemarin kini bersatu di tempat yang semestinya, berharap ada hasil dari apa yang sudah mereka lakukan hingga selalu banjir dengan keringat.


"Capek ya, tapi kok nikmatnya gak ada tandingannya gitu," ujar Pangeran yang sambil mengusap kening Senja yang basah.


Permainan yang selalu panas selalu saja membuat pasangan itu terus terbang ke langit ke tujuh.


"Hem, aku lemes banget," jawab Senja dengan napas terengah-engah dan itu membuat Pangeran terkekeh.


"Maaf, Sayang. Aku selalu tak memberimu ampun saat melayaniku. Terima kasih, kamu yang terbaik."


Pangeran tak bisa membandingkan istrinya dengan wanita lain sebab ia hanya tahu Senja, Senja dan Senja saja dalam hidupnya dan ia sudah tertekad tak akan menikamati apapun yang bukan untuknya.


Senja yang mengangguk langsung mendekatkan tubuhnya kearah Sang suami. Rasanya selalu tenang jika sudah ada didalam dekapan pria itu, lelahnya akan hilang dan berganti dengan mimpi indah.


Tapi gesekan demi gesekan yang Pangeran rasakan membuatnya sedikit aneh saat kedua tubuh polos mereka bersentuhan di balik selimut.


.


.

__ADS_1


.


Sayang, Dadamu kenapa sekarang susah sekali ku R3Mas ya...


__ADS_2