
🍂🍂 Part 53 🍂🍂
"Hey, bangun!"
Asti yang lemas dan syok melihat penampakan si Minul akhirnya tak sadarkan diri, ShaQuenna yang kaget dan panik pun terus mengguncang tubuh si perias sampai berulang kali.
"Apa dandanan ku berlebihan ya?" gumam ShaQuenna sambil memegangi dua pipinya yang tak seputih wajah aslinya. Ia kembali ke meja rias hanya untuk memastikan jika riasannya seperti biasa.
"Sama kok, cuma si tompel aja yang ke iteman ini," ucapnya, beda alat make-up tentu akan sedikit berbeda juga hasilnya namun ia tak punya pilihan lagi selain memakai yang ada.
Wujudnya masih sama seperti si Minul, wajah yang coklat sawo matang, bibir sedikit kering, tompel hitam bulat di pipi dan rambut yang ia gelung atau cepol biasa, sudah sejak awal ia memang tak pernah memakai rambut palsu melainkan rambut aslinya sendiri.
"Jelek jelek begini juga di ajak makan sama Darren, dari pada si Mbul, udah cantik sempurna kaya raya sejak jadi kecebong eh malah di tinggal pas lagi sayang sayangnya," gerutu sang tuan putri Bramasta yang masih saja kesal menerima kenyataan jika ia kalah pamor dengan si pembantu jadi jadian buatannya sendiri.
Tak habis pikir memang karna rasanya tak mungkin, jika Darren justru lebih tertarik pada Si Minul dari pada si Mbul idaman para pria di luaran sana.
"Tapi-- gak apa-apa lah, mau cinta sama Minul ke' sama Mbul ke' yang penting Darrenya asli," kekehnya kemudian. Ia yang ingat pada Asti bergegas kembali ke sofa dengan tangan memegang segelas air putih.
Bak mbah dukun amatir, ShaQuenna memercikkan air dalam gelas tadi di wajah Asti hingga wanita itu mengerjap dan langsung mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Ampun! ampuni saya--," ucap Asti seraya memohon, ia menunduk dengan kedua tangan menangkup di atas kepala.
"Ish, kamu ini bukan tumbal pesugihan, buat apa minta ampun sih?!" sungut ShaQuenna kesal, tapi masih ia tahan karna memang ini salahnya sudah berubah wujud menjadi gadis menyeramkan.
ShaQuenna terus menenangkan Asti yang perlahan berani menatapnya. Dengan penuh rasa bersalah ShaQuenna memberi imbalan yang lebih dari cukup untuk bersenang-senang melupakan kejadian ini dengan mentransfer sejumlah uang ke rekening wanita itu.
.
.
.
"Pel.. tompel! sumpah deh lo itu nyusahin banget, gegara lo orang sampe pingsan, dan gegara lo gue harus keluar duit banyak! untung permintaan jadi orang miskin belum di ACC mak othor!" oceh ShaQuenna yang sudah berganti pakaian dengan Dress yang di belikan oleh Dareen.
Ia yang terus menggerutu tentang berbagai hal di kagetkan dengan suara bell pintu kamar. ShaQuenna yang Perasaannya berdebar hebat mau tau mau menghampiri pintu yang terkunci rapat.
Cek lek
"Tuan--," seru si Minul.
__ADS_1
Dareen yang tak melihat perubahan dalam diri pembantunya hanya tersenyum simpul.
"Sudah siap? saya lapar dan ingin makan malam denganmu, apa kamu mau?" tanya Dareen hanya sekedar memastikan karna ia trauma dengan tingkah si Minul kemarin yang di luar perkiraan.
"Saya juga lapar, Tuan. Tapi boleh saya bertanya satu hal pada Tuan sebelum pergi?"
"Boleh, apa yang ingin kamu tanyakan, hem?"
"Apa--, apa Tuan tak malu dan merasa aneh saat bersama saya?" tanya Si pembantu jadi jadian sambil menunduk
Darren yang mendengar hal tersebut hanya terkekeh kecil, ia naikkan dagu Si Minul agar mereka bisa saling tatap selagi posisi keduanya kini sedang berhadapan di depan pintu.
.
.
.
.
__ADS_1
Justru tanpamu, hari hari saya jadi aneh, Nul...