
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Sakit apa dia?" tanya Senja pada seorang pria yang tak lain adalah seorang dokter hewan langganan keluarganya.
"Meriang," kekeh Fahri yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Senja.
Keduanya kini ada di halaman belakang dimana ada beberapa ular peliharaan Papih Adam, Pria paruh baya itu memang senang dengan Si panjang yang menurut sebagian orang itu justru sangat menggelikan tapi tidak bagi Senja dan Awan yang sudah terbiasa. Bahkan sejak bayi kamarnya sudah di penuhi dengan boneka berbentuk ular.
"Jangan cemberut gitu, cantiknya nanti hilang," goda Pak Dokter lagi.
"Gak apa-apa, cantik juga gak laku laku nih, kasian banget kan?" adunya dengan memasang wajah sedih tapi malah membuat Fahri tertawa.
"Wah, ini sih kasiannya pake banget."
Pria yang sudah punya dua anak itu mengacak-acak rambut panjang Senja, wanita itu sudah di anggap nya adik sendiri sejak beberapa tahun lalu karna sering menjadi tempat curhat mendadak Putri bungsu Biantara tersebut.
Tak ingin Senja bersedih tanpa senyum, Fahri pun mengajaknya ke salah satu pusat jajanan yang ada di taman kota, ia akan mentraktir meski nyatanya gaji bulanan Sang dokter itu hanya sebanding dengan uang jajan Senja dari Papih nya, belum dari Pipih dan juga Appa.
__ADS_1
"Tapi janji jangan beli gulali ya," pesan Fahri sambil merangkul bahu kembaran RahardiAwan Biantara tersebut.
"Enak yang manis, cocok buat aku yang lagi stress berat begini," jawab Senja.
"Ayo ceritakan, ada apa?" tanya Fahri setelah keduanya duduk bersama, meski umurnya sudah sangat dewasa ia tak terlihat sudah seperti seorang Daddy beranak dua.
"Aku di tinggal nikah olehnya, aku sedang tak baik baik saja, Kak."
"Oleh Pangeran tanpa kudamu itu?" tanya Fahri yang di jawab anggukan kepala.
"Kamu yakin mencintainya?" selidik Sang dokter dengan tatapan serius. "Sejak kapan?" tambahnya lagi.
"Iya, aku mencintainya. Aku yang sulit jatuh cinta justru membiarkannya menetap di hatiku, dan jika sudah begini, bagaimana?" tanya Senja bingung sendiri.
"Lupakan!"
Senja yang mendengar jawaban dari Fahri hanya bisa membuang napas kasar, tak semudah itu ia melakukan apa yang di katakan pria tersebut. Karna buktinya bayang dan senyum Pangeran masih lekat dalam ingatan serta hatinya.
__ADS_1
Apalagi kini saat saat terakhir menjelang hari pernikahan pria tersebut, entah harus sekuat apa jiwa raganya nanti melihat cinta pertamanya bersanding di pelaminan dengan wanita lain.
Sedikit demi sedikit semua kini telah di curahkan pada Fahri sembari pria itu mengenggam tangannya agar Senja jauh lebih tenang dan nyaman bercerita, Senja terpaksa melakukan hal tersebut karna ingin terlihat baik baik saja di depan keluarganya, ia ingin tak ada satupun yang membenci Pangeran karna alasan sudah menyakiti anak cucu kesayangan Biantara dan Rahardian.
Tak ada tangis, hanya senyum kecil dan sesekali menarik napas berat saja yang di lakukan Senja seolah membuktikan jika ia mencintai secara dewasa.
"Aku tak akan merebutnya dari wanita yang mungkin cintanya jauh lebih tinggi dari dariku, aku kalah dengan takdir yang tak mengizinkan kita bersama," ujar Senja yang masih mempertahankan cairan bening di matanya agar tak jatuh.
Senja terus menatap lurus ke arah Fahri agar ia tak berkedip karna jika ia melakukan hal tersebut sudah bisa di pastikan tangisnya akan pecah seketika, hingga ia tak sadar jika ada sepasang mata juga kini sedang melihat ke arahnya.
.
.
.
Ran, kamu liat apa??
__ADS_1