
🍂🍂 Part 48 🍂🍂
"Nul, kok diam? apa saya terlalu lancang ya bertanya seperti itu?"
Dirasa tak ada jawaban dari pembantunya, Darren pun mulai tak enak hati pada gadis tersebut , jangan sampai si Nul Minul kesayangannya merajuk dan ingin pulang di tengah perjalanan mereka saat ini menuju luar kota.
"Tuan tenang saja, saya tak apa apa, hanya saja ini pertanyaan pertama yang saya dengar," jawab ShaQuenna sambil menunduk.
Entah dapat bisikan dari mana, kini ia senang sekali berperan sebagai sosok gadis malang dengan wajah sedemikian menyedihkan.
"Maksud mu apa? baru aku kah yang bertanya hal ini padamu?" tanya Darren memastikan.
"Iya, Tuan. Di belahan bumi manapun pasti tak akan ada yang percaya jika saya punya pacar, makanya tak ada yang bertanya seperti itu."
Laju kendaraan yang tadi cukup lumayan kencang, kini perlahan melambat hanya karna ini ingin lebih bersantai saat mengobrol padahal sang Direktur sudah sangat di tunggu kedatangannya.
__ADS_1
"Jangan berkecil hati seperti itu, semua manusia yang terlahir ke dunia sudah punya takdirnya masing masing termasuk jodoh," jawab Darren yang berlaga menasehati, padahal ia saja seorang JOMBLO.
"Iya, Tuan. Saya tahu, Tuan sendiri bagaimana? kenapa Nona Bella sudah tak lagi ke Apartemen?" tanya balik ShaQuenna yang rasanya mual sekali memanggil Bella dengan sebutan Nona. Jika ingin di bandingkan tentu gadis itu layaknya debu bagi sang Tuan putri yang punya segalanya.
"Bella? saya hanya berteman baik dengannya, tak lebih dari itu, Nul," sahut Darren dengan senyum simpul dan tatapan yang seolah ingin si pembantu percaya jika yang ia katakan itulah yang ia rasakan, padahal harusnya hal seperti itu tak begitu penting, jika hubungan keduanya benar benar hanya berperan sebagai pembantu dan majikan.
"Saya kira kalian akan menikah, karna Tuan sudah sangat pantas menggendong seorang bayi menggemaskan," kekeh ShaQuenna yang hatinya merasa lega karna mendengar langsung dari Darren meski kenyataannya mama majikannya masih maju tak gentar menjodohkan putranya tersebut.
Sampai, kadang ShaQuenna bingung sendiri kenapa ia tak ada di list perjodohan wanita yang dianggapnya sebagai mak Lampir, padahal mama Darren kenal baik dengan mama Senja, itu terbukti saat mereka bertemu di restoran di malam tempo hari bersama keluarga Bramasta lainnya.
"Haha, Tidak, Tuan. Hanya saja---, harusnya Tuan sudah berkeluarga kan?" sindir si Minul, pembantu tajir yang harta warisannya tak akan habis 7 turunan 8 tanjakan 9 pengkolan kanan dan 10 pengkolan kiri.
Darren terkekeh kecil, jika ingat dengan umurnya yang sekarang tentu ia memang sudah harus punya pasangan serius yang bisa di ajak berumah tangga tapi nyatanya ia justru masih betah seorang diri. Maka itu, Darrren yang paham dengan perasaan mama tak pernah marah dengan usaha wanita itu yang selama ini gencar mencarikan calon istri untuknya karna anak dari teman-teman mama kebanyakan sudah menikah bahkan memiliki keturunan.
"Doakan saja, saya ini pernah gagal dan mundur dalam suatu hubungan yang bahkan belum saya mulai sama sekali, Nul," ucap Darren yang kini berhasil membuat si Minul menoleh dengan cepat.
__ADS_1
"Mundur? kenapa?" tanyanya yang penasaran, mengingat pria itu langsung tak acuh dan mengabaikannya secara mendadak tanpa alasan jelas, perubahan sikap Darren itulah yang akhirnya membuat ShaQuenna menyamar menjadi seorang pembantu agar tahu kenapa dan ada apa yang sebenarnya.
"Dia terlalu tinggi untuk saya gapai, terlalu cantik untuk saya miliki dan terlalu sempurna untuk saya yang tak punya apa apa, Nul."
"Siapa? siapa orangnya, Tuan?" gadis itu kembali melontarkan pertanyaan dengan suara bergetar.
.
.
.
ShaQuenna RanJa BiantaRahardian Bramasta.
__ADS_1