
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Siang, Ran," sapa Putri dari arah dapur saat melihat Pangeran sudah bangun dan berjalan mendekat.
Dengan cepat Putri langsung memberikan segelas air putih untuk prianya, hal yang biasa di lakukan oleh Pangeran.
"Mandilah, aku sudah siapkan makanan, kita makan bersama ya," titahnya lagi kemudian.
"Iya," jawab Pangeran.
Seperti tak ada apa-apa semua kembali seperti biasa padahal semalam wanita itu habis mengamuk hingga melempar satu vas bunga yang ada di atas meja. Emosi karna rasa takut kehilangan memang sulit sekali di kontrol oleh Putri ia seolah merasa paling disakiti dan khianati padahal tak ada yang di lakukan Pangeran. Cemburu buta sudah menjadi makanan sehari hari untuknya yang tak ingin miliknya itu tersentuh oleh orang lain.
Dan 30 menit kemudian Pangeran keluar dari kamarnya, ia kembali ke ruang makan tempat dimana kini Putri berada.
"Makan lah, kamu pasti sangat lapar," ujar Putri yang telah menyiapkan beberapa macam hasil masakannya sendiri.
"Terima kasih."
__ADS_1
Keduanya makan cukup lahap karna usai menguras emosi hingga rasanya kepala ingin pecah saat itu juga jika tak di tahan tahan dan masih ingat ada tujuan lain dalam hubungan mereka.
"Mau nambah?" tawar Putri yang di jawab gelengan kepala.
Piring kosong yang sudah di geser membuat Putri leluasa untuk meraih tangan Pangeran, ia genggam dengan cukup erat seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri jika pria di depannya kini adalah miliknya.
"Aku minta maaf, Ran. Aku selalu mengulang kesalahan yang sama padamu," ucapnya lirih.
"Sudahlah, tak perlu lagi di bahas." Lelah rasanya memaklumi cerita yang terus berulang selama 2 tahun
Ya, tepatnya 2 tahun saat mereka resmi bertunangan atas permintaan Putri yang saat itu marah besar ketika tahu Pangeran mengantar klien wanitanya ke kantor dengan sangat tak sengaja.
"Buang rasa takutmu itu, bisakah kita menjalaninya dengan sedikit lebih santai?" mohon Pangeran, tak hanya Putri tapi ia pun lelah menghadapi PERUBAHAN sikap wanita itu yang cukup drastis.
"Aku janji, Ran. Aku tak akan mencurigai mu terus menerus, Maaf."
"Semua sudah ku lakukan untukmu, apa yang kamu mau juga sudah ku turuti. Apa itu belum cukup bagimu untuk paham?" tanya Pangeran yang entah sudah berapa kali ia pun mengingatkan hal tersebut.
__ADS_1
Disini tak hanya Putri yang katanya BERJUANG SENDIRI, tapi pria itupun melakukan hal yang sama. Ia sedang berusaha melakukan yang terbaik asal wanitanya itu bahagia meski harus mengorbankan dirinya sendiri yang tak sebebas dulu.
"Ada satu yang belum kamu lakukan, sekeras apapun aku meminta hingga detik ini masih belum sanggup kamu turuti, iya kan?" emosi yang baru reda kembali ia pancing sendiri.
"Bisa kita tak lagi membahasnya? berhentilah mencari penyakit yang akan akan melukai hatimu sendiri," tukas Pangeran, ia yang ingin menarik tangannya namun tetap ditahan oleh Putri.
Ia paham dengan yang di maksud oleh Tunangannya tersebut, apa lagi jika bukan masalah masa lalunya. Seseorang yang kemarin-kemarin mengisi harinya yang sangat membosankan hingga ada sedikit warna lagi yang menghiasi dunia Pangeran.
"Ya, aku memang selalu menyakiti hatiku sendiri."
"Kalau begitu berhentilah, bukankah aku sudah menjadi yang kamu mau, hem? tak perlu takut dengan yang hal yang tak mungkin terjadi," ujar Pangeran.
"Aku tahu, kamu pria baik yang akan memegang janjimu untuk setia. Ya, kamu memang tak selingkuh, tapi---," jawabnya dengan napas tertahan.
.
.
__ADS_1
.
Aku bukan satu-satunya bagimu...