
🍂🍂 Part 17 🍂🍂
Hari sabtu yang di tunggu Mama Darren pun tiba, ia sudah tak sabar ingin tahu bagaimana pertemuan putranya itu dengan sang gadis pilihan. Padahal, anaknya saja masih santai memainkan ponsel di ruang tengah.
"Darren, kamu belum siap siap, Nak?" tanya Mama saat keluar dari kamarnya.
"Nanti, Mah," jawab Darren yang hanya menoleh sekilas saja.
"Udah telepon Bella? jangan sampai ia menunggu. Ini pertemuan pertama kalian jadi jangan sampai membuatnya marah nanti," ucap Mama lagi.
"Aku sudah beritahu kapan akan sampai di rumahnya, jadi Mama jangan khawatir ya."
Meski sebenarnya Darren tak suka dan merasa terganggu tapi ia tak bisa melawan Mamanya sendiri, rasa itu ia tepiskan kala melihat sang pemilik surganya tersenyum dengan tatapan penuh harap. Selagi tak di harus kan menikahi satu wanita, ia masih bisa melakukannya jika sekedar makan malam atau pertemuan biasa karna Mama hanya menawarkan gadis pilihan karna yang berhak memilih tentu Darren seorang, karna ini menyangkut masa depan yang bukan satu dua hari ia jalani bersama pasangan.
"Baiklah, Mama harap kamu cocok dengan Bella, karna menurut Mama ia pantas mendampingimu."
Praaaaaaang...
Suara gaduh dari arah dapur membuat Darren dan mamanya langsung menoleh karna dua ruangan itu memang berdekatan, Shaquenna bisa sedikit curi dengar apa yang sedang dua majikannya itu bicara kan.
"Menul! kamu apa apaan sih?!" sentak Mama yang langsung bangun dari duduknya di sofa.
"Jatoh sendiri, Nyah," jawab si pembantu jadi jadian dengan bibir yang sedikit mengerucut menahan gondok dalam hati.
"Jatuh sendiri katamu, memang--," jawab Mama yang di tarik untuk duduk lagi oleh Darren padahal wanita paruh baya itu belum selesai bicara.
__ADS_1
"Ssst, inget ya, Mah. Yang waras ngalah," kata Darren sambil tersenyum.
Mama yang sudah sangat jengkel pun hanya bisa mengusap dadanya sendiri.
"Waras! ya Mama waras! tapi lama lama mama bisa gila, Darren!"
"Sabar, Mah. Jangan ikutan ya, Ok," Darren pun hanya terkekeh karna ia bicara dengan suara yang cukup pelan hanya ia dan Mama saja yang mendengar.
Jika di pikir, apa yang membuat pria tampan itu mempertahankan pembantunya yang tak bisa apa apa, ia seperti bukan punya asisten rumah tangga tapi justru sedang menampung orang asing yang cemilannya luar biasa karna isi kulkas sang majikan kini tinggal separuhnya.
.
.
.
"Pastikan nanti antar ia pulang sampai rumah juga ya, Nak," pesan Mama saat di depan pintu Unit Apartemen.
"Iya, Mah. Mama masuk ya, Darren pergi dulu."
"Hati hati di jalan, Nak." Mama mengusap pipi anak tampannya itu sambil tersenyum sedang kan Shaquenna yang mengintip dari balik dinding hanya bisa mencibir.
"Cih, udah kaya mau di tinggal perang dunia aja!" cetus Shaquenna yang rasa cemburunya sudah sampai di ubun ubun.
Ia pun buru buru kembali ke dapur saat sang majikan sudah menutup pintu.
__ADS_1
"Nuuul--," panggil Mama sambil berjalan.
"Iya, Nyah," sahut Si pembantu jadi jadian.
"Kupas kan saya buah mangga ya," titah sang calon mertua.
Mampus lagi kan gue!
"Gak bisa, Nyah," jawab Shaquenna sambil menunduk, bukan tak bisa ia hanya tak suka memegang buahnya.
"Ya, Tuhan! saya rasa kamu ini bener bener dari planet lain, ini itu gak bisa, biasanya apa, Hah?!" oceh Mama yang langsung berdecak pinggang.
Mama yang kesal bukan main langsung menghampiri kulkas lalu mengambil satu buah yang diinginkan nya tadi.
Ia yang berdiri di dekat meja makan terus saja mengomel sambil mengupas buah mangga hingga hampir selesai dengan pisau khusus.
"Gimana? manis gak?" tanya Mama.
.
.
.
Iya, Manis. Buka satu lagi ya, Nyah..
__ADS_1