Pangeran Senja

Pangeran Senja
Cukup sampai disini.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Daddy Andra yang tak sengaja lewat kamar putranya menautkan alis saat ia melihat Pangeran dan Putri sedang berpelukan sambil menangis, ia yang hendak turun ke bawah sampai terdiam memaku sebentar di dekat pintu memperhatikan dua sepasang calon pengantin itu.


Tapi, karna tak ingin menganggu Andra memilih melanjutkan langkahnya menuju tangga untuk ke ruang makan di lantai bawah tempat istrinya berada.


"Mom, calon manten kenapa?" tanya Pria tampan tersebut sambil menarik salah satu kursi meja makan.


"Gak tau ah, pusing." Mommy Viana yang sempat kembali ke kamar putranya karna tak melihat Putri memang membiarkan mereka untuk bicara berdua sekali lagi di dalam kamar.


"Berantem?"


"Pangeran liat Senja sama pria lain, katanya sih cemburu," sahut Viana seperti yang ia tahu saja.


"Kapan Move on nya sih Si Ndut, kesian banget. Padahal banyak yang ngajak Abul tuh," jawab Andra.


Mommy Viana yang melihat suaminya terkekeh hanya bisa menajamkan pandangan karna ia sedang tak ingin bercanda, padahal maksud dari pria itu hanya ingin mencairkan suasana.


"Pernikahan tinggal hitungan Jam, aku gak tau kehidupan putraku seperti apa nantinya. Bersama pasangan yang belum selesai dengan masa lalunya itu perih, Dadd. Aku yang udah rasain 27 tahun yang lalu. Dan aku gak mau itu terjadi di pernikahan anakku terutama Putri yang merasakannya," kata Mommy Viana yang punya sedikit pengalaman.


"Lalu maunya gimana? aku gak berani banyak ikut campur sebab Aku bukan Pangeran," jawab Daddy Andra.


Jika dulu bedanya ia memang harus cepat melupakan Haura karna benteng pemisah tak bisa ia lewati bersama sebab tak ada yang mau mengalah. Berbeda dengan Sang Putra yang memang awalnya berpisah karna keadaan.


Cinta datang terlambat, itulah yang di alami Senja saat ini untuk Pangeran yang dulu selalu ia tolak, sikap tak acuhnya 7 tahun lalu ternyata membawa luka bagi mereka yang kini tengah mengalami cinta segitiga.


Kisah cinta yang di anggap angin lalu justru bersemi indah saat pertemuan pertama kali usai perpisahan. Tanpa kabar, tanpa mencari namun Pangeran tetap menyebut nama cinta pertamanya dalam setiap doa yang ia lantunkan.


"Biarkan mereka yang selesaikan. Keduanya sudah dewasa. Percuma menasehati Putri yang keras kepala sedangkan Pangeran selalu merasa tak enak hati. Apapun yang mereka pilih sekarang mereka juga yang akan mendapat resikonya."


.


.

__ADS_1


.


Hari yang paling di hindari Senja pun tiba dimana pria yang namanya kini bertahta dalam hati akan melangsungkan pernikahan. Janji suci akan di ucapkan Pangeran untuk Putri yang selama ini tak pernah beranjak dari sisi pria itu.


ceklek


"Gak usah cantik cantik, disana juga paling nangis," ledek Awan yang masuk tanpa permisi ke kamar adik kembarnya.


"Kakak!"


"Ups, maaf, Mih," kekeh Awan yang ikut duduk bersama Senja dan Mamih Cahaya.


Ia paham perasaan Si Bungsu tapi Awan tak bisa melakukan apa-apa karna tak pernah ada hubungan yang antara Senja dan Pangeran. Niat awalnya yang hanya ingin memanfatkan kesempatan justru kini malah menjadi petaka saat semua terbongkar dengan cara tak sengaja.


"Jangan dengarkan yang di ucapkan kakakmu, biar saja ia di cium oleh Phyton piara'an Papih," ocehan Mamih Cahaya.


Wanita itu sudah tak bisa tidur sejak semalam saat anak kesayangannya itu bersikeras akan datang di acara pernikahan Pangeran, padahal ia dan Mamih Diana sudah memohon untuk tetap tinggal saja di rumah.


"Aku hanya tak ingin Senja pingsan, Mih."


"Baguslah, jangan malu maluin ya, kalau mau pingsan nanti kalau udah di rumah," ledek Awan lagi yang kini sambil berlari keluar dari kamar sebelum ia di marahi mimihnya lagi.


Senja yang sedih semakin di buat kesal tapi ia hanya bisa berhambur kedalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.


"Mih, kenapa aku sangat menyedihkan?" tanya Senja dengan nada lirih.


"Sabar, Sayang."


"Kenapa kisah cinta Mimih dan Pipih yang manis itu tak menurun padaku?


" Tak semua selalu indah, Nak. Meski terkesan indah dan manis ujian itu tetap ada, buktinya Mimih dan Pipih harus sabar menunggu kalian hadir di dalam pernikahan kami, dan itu sempat membuat Mimih Frustasi karena takut di tinggalkan. Semua hubungan yang terjalin akan punya masalahnya sendiri sendiri. Mimih harap, setelah ini siapapun yang akan menjadi pendamping mu tak akan pernah memberi luka lagi ya."


"Aamiin, Mih. Doamu yang paling berharga untukku," jawab Senja.

__ADS_1


Keduanya pun keluar kamar saat pelayanan mengatakan jika keduanya sudah di tunggu di ruang tamu. Kali ini hanya mereka berempat yang datang sebab Papih Adam dan Mamih Diana akan hadir saat resepsi malam nanti.


"Sudah rapih?" tanya Pipih Langit.


"Sudah, gak liat aku dan anakmu sudah secantik ini," jawab Mimih Cahaya yang langsung mendapat ciuman gemas di pipinya.


Mereka pergi dengan satu mobil, Awan yang mengemudikan kendaraan mewah itu di minta untuk hati-hati karna tak masalah juga jika harus terlambat asalkan selamat.


Tangan Senja yang dingin tetap di genggam oleh Mimihnya, ia paham betul dengan apa yang di rasakan anak perempuannya.


Jangan lihat Senja dari luarnya karna sebenernya ia tak pernah baik baik saja sejak merasa tak bisa lagi menggapai cintanya. Perjalanan yang ramai lancar membuat mereka sampai di sebuah Masjid megah tepat di pusat kota kurang lebih 45 menit. Masih ada waktu 20 menit untuk mereka basa basi saat di dalam sana dengan sesama tamu atau juga orangtua calon pengantin.


"Kalau gak mau, gak apa-apa, disini saja," kata Mimih yang di jawab gelengan kepala oleh Senja.


Tak mungkin memaksa, akhirnya Senja di biarkan untuk ikut masuk kedalam. Disana sudah banyak orang yang mungkin hanya kerabat dekat dan sahabat. Pak penghulu yang sudah duduk dengan Ayah Putri dan Daddy Andra tentu membuat hati Senja semakin mencelos sakit.


"Ternyata ini bukan mimpi," gumam pelan Senja sambil terus mengatur napasnya agar selalu tenang.


"Cukup Senja, ini adalah detik-detik terakhir kamu mencintai Pangeran. Jangan sampai rasa itu berlanjut karna suka tak suka ia adalah suami orang. Jangan rendahkan harga dirimu!" bathin Senja terus meyakinkan, ia yang berbicara dalam hati sambil menutup mata langsung mengerjap saat mulai terdengar salam pembuka yang di lanjutkan dengan beberapa doa.


Salah satu manusia ciptaan Tuhan yang ia hindari justru tertangkap oleh kedua matanya meski ia hanya melihat punggungnya saja.


Pangeran RaViandra Bramasta kini tengah bersiap melakukan ijab Qabul di hadapan penghulu, orangtua, saksi dan pastikan Tuhan.


"Sudah siap?" tanya seorang pria paruh baya yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Pangeran, itulah yang Senja lihat dengan kedua matanya sendiri.


Satu kalimat di baca cukup lancar oleh Pak penghulu sambil menjabat tangan calon mempelai pria yang terlihat gugup karena sedang bersiap mengikuti apa yang seluruh penghuni Masjid dengar sebagai saksi.


.


.


.

__ADS_1


Saya ---,


__ADS_2