
🍂🍂 Part 43 🍂🍂
"Temani saya ke luar kota ya," pinta Darren yang entah dari mana ia punya niat hati untuk mengajak pembantu jadi jadiannya tersebut.
"Lu--luar kota?" tanya balik ShaQuenna untuk memastikan dan di jawab dengan anggukan pasti tanpa keraguan dari Darren.
"Iya, saya ada pekerjaan lain di luar kota, saya minta kamu ikut karena--- , karena saya khawatir meninggalkanmu sendiri di sini, Nul." Darren bicara sambil mengusap tengkuknya sendiri karna rasanya sangat malu jika harus jujur seperti ini.
"Emang kenapa?, aku bisa kok di sini sendiri," jawab ShaQuenna.
Ia memang menolak ajakan sang majikan meski itu adalah kesempatan untuknya jauh lebih dekat dengan Darren. Tapi, jika ia boleh memilih tentu ia ingin jauh lebih leluasa saja menghubungi keluarganya kapan pun itu selagi tak ada mama majikannya juga. Lagi pula, rasanya tak ada kota yang balum di datangi oleh tuan putri Bramasta selama ini.
"Kamu serius gak mau ikut saya?" tanya ulang Darren.
Dan, anggukan kepala si pembantu tentu saja membuat Darren kecewa kali ini. Ia juga kembali mengulang pertanyaannya tentang ajakannya barusan tapi jawaban si Minul masih sama saja, padahal pria tersebut berharap pembantunya hanya sekedar basa basi dalam penolakannya tersebut.
"Kalau nanti ada apa-apa, gimana? saya gak ada loh," tanya Darren yang mulai kesal.
"Kan ada ini, Tuan." ShaQuenna langsung memperlihatkan ponsel yang di belikan oleh Darren, benda pipih itu tak pernah jauh darinya sesuai pesan dari sang majikan.
"Aku tahu, tapi itu rasanya berbeda tak seperti langsung," jawabnya yang kali ini berhasil membuat ShaQuenna bingung tak paham.
__ADS_1
"Langsung apa?"
"Au ah!" Darren bangun dari duduknya lalu pergi begitu saja ke kamar meninggalkan si Minul yang memanggilnya hanya karena si rujak buah belum mereka habis kan.
.
.
.
Darren yang sudah pulang, nyatanya tak keluar lagi dari dalam kamarnya hingga malam, makanan catering yang datang saja belum tersentuh sama sekali padahal si Minul sudah menyiapkan nya dengan sangat rapih di atas meja makan.
"Lihat saja, ia bahkan tak memanggil ku untuk makan malam," gerutu Darren sambil memegangi perutnya yang terasa sangat lapar sekali.
"Nul--, Minuuuuuul--," panggil Darren seperti biasa. Ia tak merubah panggilannya dan juga nadanya hingga sekarang.
"Mana sih dia?! Nul--- Minuuuuuuuuuuul--," teriak Darren sedikit lebih kencang, bahkan ia masih berdiri sambil berdecak pinggang.
Si pembantu jadi jadian yang mendengar suara majikan nya memanggil pun bergegas turun dari ranjang kecilnya, ia rapih kan lagi Laptop dan ponselnya, dua benda mewah yang wajib di sembunyikan di dalam tempat rahasia, sebab tak ada yang bisa menjamin Darren maupun mama nya tak masuk ke kamar saat ia tak ada.
"Iya, Tuaaaaaan--," jawab si pembantu tak kalah berteriak juga dan hanya Minul yang bisa begitu pada majikan nya.
__ADS_1
"Lagi apa sih?" tanya Darren yang masih saja kesal dengan penolakan dari gadis aneh bin ajaib di depannya sekarang.
"Lagi-- , beresin baju, Tuan," jawabnya yang pasti harus berbohong, jangan sampai majikannya yang kini sedang merengut itu tahu jika ia sedang menonton Film kesukaannya, Ucul dan Ucil..
"Duduk! saya mau bicara denganmu," titah Darren sambil menarik kursinya, setelah ia duduk ia lanjut mengambil piring lalu menyiapkan sendiri makanannya, sedangkan si pembantu setelah duduk di depan sang majikan hanya diam saja memperhatikan pria tampan di hadapannya yang kini sedang makan dengan cukup lahap.
Kurang lebih 20 menit di satu meja yang sama tanpa kata padahal katanya Darren ingin bicara pun mau tau mau membuat Si Minul protes, jam istirahat yang seharusnya ia gunakan untuk berghibah ria dengan para sepupu seolah tersita tak jelas seperti ini.
"Tuan, ada apa? ada yang mau di bicarakan?" tanya si Minul saat Dareen sudah selesai makan dan menggeser piring kotornya.
.
.
.
Besok saja, saya mau tidur....
Alaaaah.. kang kardus!!
__ADS_1
Makanya, kawin! Biar gak mamam ndilian 🤣🤣