Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

🍂🍂 Part 29 🍂🍂


"Nul---, Minul--," Dareen memanggil pelan pembantunya itu dari dalam kamar, bukan karna benar benar butuh bantuan tapi ia hanya iseng karna tak tahu harus berbuat apa di dalam Apartemennya.


Satu jam lalu, Mama yang ikut pergi juga tentu membuatnya jadi seorang diri, tak ada yang ia lakukan kecuali berguling tak jelas di atas kasur.


Padahal, ada beberapa pesan dan panggilan telepon dari Bella dan gadis lainnya juga tapi otaknya justru malah terus berpusat pada si pembantu jadi jadian yang hari ini kekeuh ingin libur dan keluar dengan alasan bosan.


"Kemana ya si Minul? sama siapa dia di luar sana?" gumam Darren sambil mendesah kesal.


Kedua matanya yang kini kearah langit langit kamar malah terbayang wajah si Minul dengan tompel di pipi---?


#SebelahManaYa


#Lupa


Prilaku aneh, jawaban polos dan tatapan teduh membuat hidupnya justru kian berwarna saat ini , niat hati ingin mandiri dan damai tinggal di Apartemen namun Tuhan malah mengirimnya seorang pembantu jadi jadian yang tak di pungkiri sering membuat isi kepalanya ingin meledak, apalagi jika sudah berdebat dengan Mama. Ada saja yang di ributkan dua wanita itu dan anehnya Darren justru terus membela si Minul.

__ADS_1


"Sampe besok pagi tuh lama banget loh, Nul. Ini tuh sepi nya udah kaya kuburan!" desah Darren lagi, jika sudah begini ia bingung harus mencari pembantunya itu kemana.


"Tau begini, mending saya yang ajak kamu jalan jalan. Nul. Padahal, di sini juga kamu gak ngapa ngapain kecuali ngabisin isi kulkas saya kan?," kekehnya lagi yang sempat membuka isi lemari pendinginnya dan ternyata kini tinggal sebagian karna sebagian lainnya habis oleh Si Minul alias Shaquenna yang katanya tak doyan nasi itu.


"Hem, kaya nya saya harus belikan kamu sesuatu, Nul." Darren pun langsung bangun lalu bersiap untuk pergi setelah ia selasai merapihkan diri, ada senyum yang tak kunjung hilang dari wajah tampannya saat membayangkan reaksi si Nul Minul nanti saat kembali.


.


.


.


Semua mata tertuju pada benda bercat putih yang terbuka dengan pelan dan akhirnya melebar hingga sosok di balik pintu itupun muncul.


"PapAaay--," seru semua para keturunan Singa secara bersamaan, sedangkan yang disapa malah terkekeh di ambang pintu.


"Lagi ngapain?" tanya sang Tuan besar Rahardian sambil masuk kedalam kamar cucu laki lakinya itu.

__ADS_1


Shaquenna yang takut kena marah tentu kembali bersembunyi di balik punggung Embun.


"Lagi wawancara si Minul," kekeh si Buaya betina, selama ini hanya ia dan SyahRaa yang tahu nama itu.


Dan, PapAy yang kini sudah semakin dekat pun di buat penasaran sebab saat melihat dari foto saja ia sampai terbahak bahak, lalu bagaimana reaksinya ketika justru melihat bentuk baru dari cucu kesayangan Bungsu Rahardian tersebut?


Huahaaaahaaahaaahaaaaahaaaaaa....


"Aduh---aduh, itu dapet e'o Ayam dari mana Mbul? kenapa cuma di pipi, gak sekalian di Jidat?" Tawa Air Rameza Rahardian Wijaya tak kuasa lagi di tahan, ia sampai terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya sendiri.


Yang lain tentu ikut tertawa bukan karna Shaquenna lagi, tapi karna melihat PapAy yang heboh sendiri dengan sesekali menyeka ujung matanya, dan saat ia berhenti tertawa para cucunya pun ikut diam seketika.


"Kenapa, pAy? kok udahan?" tanya Rain, si bapak Madu dan Ireng.


.


.

__ADS_1


.


Kok, celana PapAy basah ya???


__ADS_2