Pangeran Senja

Pangeran Senja
Katakan pada Mommy


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sayang, kamu mau kemana?" panggil Pangeran saat Senja yang seperti tanpa dosa meninggalkannya begitu saja.


Pangeran yang sedikit lagi sampai di puncak kenikmatan tentu frustasi karna gagal saat Senja mengeluh capek dan beranjak dari Si Jambrong yang berkedut hebat ingin memuntahkan lahar panasnya.


Semua itu kian terasa menyiksa ketika kedua mata Pangeran melihat BoKoNg sintal istrinya yang berjalan ke arah kamar mandi, itu benar-benar menggoda karna seolah melambai kearahnya ingin di nikmati.


"Ini gimana ceritanya sih?!" oceh pria itu kesal sendiri.


Pangeran mendesah pusing karna kepala atas bawahnya mulai berdenyut pening saat ini, dan ia terlonjak kaget saat Senja keluar dengan pakaian lengkap.


"Aku gimana ini?" tanya Pangeran yang panik sendiri.


"Emang kamu kenapa?" tanya balik Senja sambil terus mendekat dan naik ke atas ranjang.


"Aku belum selesai hukum kamu, Yang! Wah, gak bertanggung jawab banget," tuduh Pangeran yang masih telanjANG polos tanpa apapun.


"Kan aku bilang capek, terusin sendiri sama tangan kamu. Oh ya, cepet pakai baju, nanti kamu masuk angin."


Pangeran yang kesal dan memang tak pernah memaksa dalam urusan ranjang pun akhirnya mengalah. Bak seorang TuyuL ia bergegas ke arah kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang di abaikan oleh Senja.


"Enak aja mau hukum aku, padahal jelas dia yang salah udah kasih aku BEKAS!" gerutu Senja yang tak mau kalah, ia bersembunyi di balik selimutnya lalu mencoba untuk tidur.


Sedangkan Pangeran masih berusaha dengan tangannya menuju surga dunia yang sempat tersendat karna ulah Sang istri.


"Huft, akhirnya." dengan perasaan lega akhirnya Pangeran bisa menuntaskan hasratnya. Ia tatap cairan yang tercecer dengan rasa tak tega karna harus di buang begitu saja..


"Bye, calon anak."


Rasa sedih terbalut kepuasan itu pun di akhiri dengan membersihkan diri. Ia kembali memakai bajunya lalu ikut berbaring bersama Senja di atas ranjang mereka yang tenang.


"Sayang, kamu tidur beneran?" tanya pangeran yang belum mengantuk. Rasanya kini jauh berbeda pelepasan sendiri dan berdua.


"Hem, udah tidur sih, mau apa?"


"Udah tidur tapi bisa jawab! aku laper, makan yuk," ajak Pangeran yang merasa perutnya mendadak keroncongan.


"Aku temenin sambil mimpi ya," jawab Senja bergumam, sepertimya wanita itu benar-benar mengantuk hingga tak kuasa membuka matanya.


Tak ingin menganggu, Pangeran akhirnya keluar kamar menuju ruang makan di lantai bawah berharap masih ada yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya yang minta di isi.


Tapi, Pangeran yang terbiasa jarang makan dua kali di menu yang sama tentu tak bernapsu saat melihat masakan sisa makan malam tadi di atas meja makan.


Pilihan pun jatuh pada mie instan dan teman temannya yang ia ambil dari lemari pendingin, memasaknya sendiri seperti yang biasa ia lakukan selama ini khususnya saat tinggal di luar negeri.


"Dan, ngapain?" suara pria yang tiba-tiba tentu membuat Pangeran lekas menoleh.


"Bikin mie, laper. Daddy mau?" tawar putranya.


"Boleh, yang mateng buat Daddy, kamu bikin lagi ya," jawab Pria tersebut yang langsung mendapat cibiran dari Pangeran.


"Bisa ya begitu?" ocehnya tapi tetap memberikan apa yang di inginkan Daddynya kemudian ia membuatnya lagi.

__ADS_1


"Pedes banget sih, Ndut. Kebiasaan nih," gerutu Daddy saat baru menikmati apa yang di buatkan anak semata wayangnya.


"Lagian pengen punya aku, ya gitu rasanya."


Meskipun ia seorang pria, tapi seleranya mirip dengan perempuan yang suka dengan makanan pedas dan manis. Dan jika sedang menikmati MeTimenya sendiri, ia cukup memasak mie yang di limpahi irisan Si setan.


"Botak nanti anakmu, makanin pedes terus."


"Iyakah? Daddy gak suka pedes tapi pas kecil aku gak ada rambutnya?" tanya Pangeran.


"Mommy mu itu sih kerjaannya, tapi lucu jan Ndut," sahut Daddynya sambil terkekeh.


Kedua pria itu terus mengobrol sambil menikmati semangkuk mie instan, banyak yang mereka perbincangkan termasuk akhirnya masing-masing jujur jika sedang habis melakukan hal yang menyenangkan. Tapi, tentu Pangeran tak Bercerita jika ia habis melakukan konser solo di kamar mandi, bisa habis tujuh hari tujuh malam ia akan jadi bahan ledekan Daddynya jika tahu hal itu.


"Berarti kita lomba dong," ujar Daddy Andra sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa? emang Daddy tujuannya bikin anak juga?" tanya Pangeran.


"Iyalah, masa bikin donat, Ndut."


"Dadd, tolong ya inget umur Daddy, Mommy dan aku. Kalian ini udah tua dan aku udan gede, udah nikah dah punya istri, masa iya mau di kasih adek?" protes Pangeran, jika dulu ia tak masalah tapi berbeda dengan sekarang.


"Memang kenapa? kan bukan kamu yang ngurusin," balas Daddy Andra tak mau kalah.


Jauh di dalam lubuk hati pria itu, ia memang sangat ingin punya anak lagi selain Pangeran dan itu masih di usahakan olehnya dan Sang istri selama 20 tahun ini. Tapi sayang, semua tak di kabulkan oleh Sang pembuat cerita.


"Dari pada Daddy ribut pengen punya anak lagi, mending sekarang giliran aku yang punya anak ya, Daddy sama Mommy urusin cucu aja, Ok."


"Beda dong, Ndut."


Menikah muda dan tak punya pikiran kolot nyatanya membuat Andra dan Pangeran sedekat ini layaknya sahabat, tapi itu tak aneh mengingat saat ada di dalam rahim mommynya saja, anak itu tak mau jauh dari Daddy nya.


"Ok lah, Daddy doakan semoga Senja cepat hamil dan kamu cepat berikan Daddy cucu yang Ndut juga ya," ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.


Rumah sederhana dua lantai itu memang sepi tanpa gelak tawa dan tangisan anak kecil tak seperti dua dekade yang lalu saat Pangeran Balita. Begitu banyak kenangan yang tercipta sampai rasanya Mommy Viana semakin enggan meningggalkan rumah orang tuanya tersebut meski Sang suami bisa membelikannya istana mewah.


.


.


.


Kembali ke aktivitas biasa, Pangeran yang harus balik bekerja di perusahaan Bramasta kini tengah bersiap di layani istrinya. Pakaian lengkap sudah Senja letakkan di atas ranjang tinggal menunggu suaminya selesai membersihkan diri, sedangkan ia yang sudah mandi lebih dulu tinggal merapihkan dirinya saja yang sedang mengeringkan rambut basahnya yang panjang terurai sampai sepinggang.


Tak ada satupun keturunan Phyton dan Gajah yang memiliki surai pendek, semuanya sama yaitu sepinggang atau setengah punggung karna para lelaki begitu suka dengan rambut yang terurai begitu saja, apalagi saat sedang melakukan hal yang menyenangkan, itu seolah menambah gairah mereka dalam berhubungan inTIM.


"Sayang, kamu kalau bosan nanti bisa ke kantor ya, gak apa-apa mommy di tinggal, udah biasa kok paling ikut pergi juga nanti," pesan Pangeran yang kini tinggal memakai dasi dan itu di lakukan oleh senja yang membantunya.


"Hem, gimana nanti aja," sahutnya yang tak bisa menjanjikan apapun.


"Mau keluar juga boleh, asal bilang dan jelas mau kemana ya biar aku gak khawatir saat kerja nanti, kamu sudah simpan nomer sekertarisku kan? kalau aku belum jawab teleponmu hubungi saja dia, mungkin aku ada meeting mendadak," ucapnya lagi yang hanya di iyakan oleh Senja.


Tak ada rencana apapun hari ini membuat wanita itu tak bisa menjawab apa-apa sekarang, Senja yang memang anak rumahan sudah menjadi rahasia umum akan pergi saat ada yang menurutnya penting saja.

__ADS_1


Keduanya keluar dari kamar menuju lantai bawah tepat ruang makan berada. Sudah ada Daddy dan Mommynya yang juga baru datang disana.


Sapaan pasangan pengantin baru itu pun langsung di sambut senyum dan pelukan hangat sekilas.


Bramasta Group memang tak seperti Rahardian maupun Biantara yang memiliki banyak cabang perusahaan, jadi tak salah jika Daddy dan Pangeran akan bekerja di satu gedung yang sama. Tapi bukan berarti mereka tak punya usaha lainnya, mulai dari Resto hingga beberapa minimarket tengah mereka kuasai sampai sekarang, tapi tentunya itu semua hanya usaha di dalam negeri saja, beda cerita dengan yang di luar negeri termasuk perusahaan yang kemarin di urus oleh Pangeran dalam beberapa tahun belakangan ini.


Sarapan pagi yang cukup menyenangkan di rasakan oleh Senja yang tak jauh berbeda dengan keluarganya. Ada obrolan tentang rencana hari ini yang dan mungkin akan di bahas lagi nanti saat makan malam.


"Mommy mau ke toko bunga?" tanya Pangeran.


"Kalau gak hujan tapi," jawab Mommy Viana ragu-ragu.


"Memang kalau hujan kenapa? kan berangkatnya pakai mobil," sahut Pangeran lagi yang sedikit aneh.


"Males aja, enakan dirumah."


Kedua pria terbaik wanita itu hanya bisa menhembuskan napas berat, semakin berumur Mommy Viana semakin malas memang, dan itu sudah lama terjadi hingga ia membuat kesibukan yaitu merangkai bunga atau sesekali membuat kue untuk cemilan mereka.


Dan Senja hanya tersenyum simpul mendengarnya. Sang ibu mertua jauh berbeda dengan Mimihnya yang jarang sekali di rumah, ada saja yang wanita itu lakukan di luar sana selain menghabiskan uang Pipih dan Appanya.


.


.


.


Sepeninggal Daddy dan Pangeran, para istri itu tak melakukan apa pun di teras depan, hanya duduk berdua sambil memperhatikan salah satu Mbak di rumah bersih bersih halaman dan kolam ikan.


"Mom, kita jadi ke tempat Bunda?" tanya Senja yang langsung membuat ibu mertuanya itu menoleh.


"Jadi, kenapa? apa kamu ada urusan lain?" tanya balik Mommy Viana.


"Gak ada, cuma mau mastiin aja. Biar aku bisa siap-siap," sahut Senja.


"Tak perlu banyak bersiap, disana juga gak lama kok karna Mommy akan bujuk Bunda kesini. Jadi anggap saja kita jemput Beliau kesana," jelas Mommy dengan senyum kecilnya di ujung bibir


Senja hanya mengangguk paham, dari yang ia lihat di foto, rasa-rasanya wanita bercadar itu memiliki paras yang cantik dan mata yang teduh di tambah beberapa cerita Pangeran yang membuat Senja kian penasaran.


"Baiklah, Mom. Nanti aku bilang Pangeran juga."


"Oh ya, kalian sudah baikan?" tanya Mommy yang baru ingat kemarin anak dan mantunya kemarin sempat berselisih paham.


"Sudah, Mom. Semuanya beres."


"Syukurlah, jika masih bisa di selesaikan, selesaikan dengan cepat. Jangan menunggu nanti dan nanti. Kadang, setan masuk saat ada celah diantara hubungan suami istri yang sedang merenggang," pesan Mommy. Setidaknya ia dan suaminya kini sudah jauh lebih bisa mengontrol emosi jika sedang ada masalah walau kenyataannya menasehati jauh lebih mudah di banding saat berusaha menyelesaikannya.


"Iya, Mom. Akan ku ingat semuanya."


.


.


.

__ADS_1


Jika ada masalah, katakan lebih dulu pada Mommy. Biar Mommy yang tegur anak Mommy ya.


__ADS_2