Pangeran Senja

Pangeran Senja
Tanpa Libur


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sen, kamu belum bangun?" tanya Pangeran yang aneh melihat Senja masih meringkuk diatas ranjang.


Mungkin kah karna saking nyamannya di kamar sendiri ia jadi enggan untuk bangun? entahlah, yang jelas ini sudah sangat siang dan sudah waktunya Pangeran untuk bangun dan bersiap Ke kantor.


Pangeran buru buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri, entah sempat atau tidak ia bisa sarapan di rumah mengingat jadwalnya hari ini cukup padat merayap bagai jalanan ibu kota saat pagi siang dan sore hari, dan itu rasanya sudah menjadi makanan sehari hari bagi seluruh warga penghuni Jantungnya negara ini.


"Ya ampun, Sen. Kamu mimpi apa sih, Sayang?" tanya Pangeran aneh dan heran tapi Kali ini ia mencoba untuk memegang kening Senja sebab takut wanita itu kurang enak badan.


"Gak demam, masa iya masih nyenyak banget jam segini?" gumam Pangeran.


Ia ingat ingat lagi apa saja yang di lakukan semalam, hanya satu kali permainan dan itupun tak sampai menguras tenaga hingga habis karna ia pun sedikit merasa lelah usai pulang bekerja terlambat, tapi karna Si Jambrong terus meronta, jadilah ia tetap bersilaturahmi dengan Si kribo.


"Ya sudah, aku berangkat ya, Sayang," ucap Pangeran sambil mencium kening Senja yang terpenjam dan tak terganggu dengan sentuhannya tersebut.


Pangeran keluar kamar bersamaan dengan Samudera, keduanya saling sapa dan mengobrol sambil berjalan ke arah ruang makan di lantai bawah.


"Loh, Senja mana, Ran?" tanya Mimih saat menantunya hanya datang seorang diri.


"Masih tidur, Mih. Aku juga heran, gak biasanya Senja belum bangun," sahut Pangeran yang melihat dulu jam di pergelangan tangannya di rasa masih ada waktu, ia pun menarik kursi meja makan untuknya.


"Sakit?" tanya Pipih Langit mulai khawatir.


"Engga, Pih, aku sudah pegang keningnya," jawab Pangeran.


"Iyalah, masa pegang yang lain," timpal Appa sambil terkekeh.


"Kebanyakan kayanya tuh, jadi kenyang!" sambuAir yang kali ini tak bisa menahan tawanya.


"Kalau begini, Gajah sama Buaya cepet banget nyamber nya ya, ampun!" balas Pipih Langit sambil menggelengkan kepalanya saking ajaibnya dua pria di depannya siapa lagi jika bukan papa mertuanya dan kakak iparnya itu.


"Ssst, anak kesayangan Buna marah tuh," kata Mama Melisa sambil mengusap kepala anak angkat sekaligus menantunya tersebut.


Sarapan pagi tanpa Senja di rasa aneh bagi Pangeran, karna selama menjadi suami semua urusan perut selalu di layani oleh wanita itu, jadi saat disampingnya tak ada Senja, ia pun merasa sangat kehilangan sekali, bahkan untuk sarapannya saja hanuw separuh yang ia habis kan.


"Aku berangkat duluan ya," pamit Pangeran pada semua keluarga istrinya yang ada di meja makan.


"Hati hati di jalan ya," pesan Mimih Cahaya layaknya Mommy.


"Iya, Mih. Kabari aku jika terjadi sesuatu pada Senja," pinta Pangeran yang sebenarnya sangat khawatir tapi ia percaya jika Senja tentu aman di keluarganya sendiri.


.


.


.


Oooekkk.. Ooooeekk


Senja yang merasa kepalanya mau pecah karna bangun mendadak kini sedang ada di kamar mandi untuk memuntahkan segala yang ada di dalam perut wanita itu. Sejak semalam usai bercinta dengan sang suami ia merasa perutnya tak enak, tak sakit hanya saja ia merasa tak nyaman. Saat Pangeran sudah terbuai mimpi, Senja justru bangun untuk meminum satu pil obat tidur yang sudah lama tak ia konsumsi lagi.


Maka dari itu, meski matahari sudah tinggi ia belum juga terbangun dari tidur nya karna memang itu efek dari apa yang suda ia minum.


"Ya ampun, aku kenapa sih? masa iya efek kipas angin sampai sekarang? kan itu udah lama," gumamnya yang masih menyalahkan Si kipas sebagai tersangka utama.


Senja menarik napas lalu di buangnya perlahan hingga di detik yang sama rasa mual itu pun kembali datang dan langsung di muntah kan nya kembali, tapi berhubung ia belum makan apapun tentu tak ada yang keluar kecuali hanya cairan biasa.


Setelah mencuci wajahnya, Senja kembali ke ranjang, baru saja ia naik malah terdengar suara ketukan pintu kamar yang cukup keras sampai ia langsung mempersilahkan siapapun yang ada di balik benda bercat putih itu masuk dengan segera, malas rasanya mendengar kegaduhan seperti barusan yang seakan mengganggu telinganya.


Ceklek


"Sen, Kamu udah bangun, Sayang?" tanya Mimih Cahaya yang terlihat sangat panik.


"Iya, Mih." Benar dugaan Senja, jika yang datang adalah Mimih dan Amma yang juga ternyata ikut melihat keadaan Senja.


"Kamu sakit?" tanya Amma yang di jawab gelengan kepala.


Senja lalu mengajak dua wanita itu untuk duduk di sofa, malu rasanya jika harus di atas ranjang yang masih berantakan karna bekas bercintanya ia dan Pangeran semalam.


"Katakan jika tak enak badan, Sen."


"Perut ku sedikit tak enak, Mih. Aku semalam minum obat malah keenakan tidurnya. Ini baru bangun, tapi--," ucap Senja yang terpotong sebab ia bingung harus menceritakannya atau tidak mengingat Mimih dan Amma nya pasti akan sangat panik.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Mimih penasaran.


"Perutku mual, aku habis muntah muntah barusan."


Mimih dan Amma langsung saling pandang tapi pikiran mereka belum sampai sejauh yang reader pikirkan sejak dari bab bab sebelumnya.


"Mama ada obat gak buat Senja? kalau gak ada aku Panggil dokter," tanya Mimih Cahaya.


"Obat itu urusan kakak iparmu, Dek. Coba Mama tanya Hujan lebih dulu," sahut wanita paruh baya tersebut yang langsung bangun dari duduk, ia melenggang pergi keluar dari kamar untuk menemui menantunya yang seorang dokter yaitu Hujan.


Senja yang tahu Mimihnya panik mulai menenangkan dan meyakinkan jika ia baik baik saja. Satu sifat Senja yang kadang membuat keluarganya kesal adalah ia selalu meremehkan tubuhnya sendiri, yakin untuk kuat padahal sudah jelas ia sedang tak baik baik saja.


"Ayo, katakan pada Mimih, apalagi yang sakit?" desak wanita itu.


"Gak ada, cuma mual saja, ini pasti karna aku tidur pakai kipas angin, Mih."


Mimih Cahaya tentu langsung mengernyit kan dahinya, sejak kapan anak bungsu perempuan satu-satunya itu kenal dengan kipas angin, matikah pendingin ruangan di rumah mertuanya?


Satu hal yang tak di ceritakan oleh Senja adalah ketika ia sedikit demam saat menginap di Pondok Bunda. Ia sengaja melewatkan kejadian itu agar suasana senang saat ia bercerita kemarin jadi selalu seru tanpa ada rasa kasihan padanya. Ia harus pintar memilah dan memilih cerita apa yang terjadi di keluarga suaminya di hadapan keluarganya sendiri.


"Kipas angin gimana?" tanya Mimih semakin tak paham.

__ADS_1


"Hem, gak ada AC, Mih. Adanya kipas, mungkin aku gak biasa makanya kurang enak badan jadinya," jelas Senja.


"Sudah ke dokter?"


"Belum, kan baru ini aku mualnya, Mih," sahut Senja yang memang baru merasa gimana tak nyamannya saat perut bergejolak.


"Ya sudah, tunggu Amma ambil obat tapi kalau sampai sore bahkan malam masih mual kamu harus periksa ke dokter ya," pinta Mimih yang tak ingin ambil resiko apapun pada putrinya.


"Iya, Mih."


Amma kembali dengan Hujan, dua wanita itu terlihat khawatir karna jelas dari sorot mata mereka.


"Kenapa, Sen?" tanya Hujan.


"Cuma mual kok Onty, gak apa apa," jawab Senja pada kakak ipar mimihnya yang seorang dokter bedah di rumah sakit miliknya sendiri yang jadi mahar pernikahan.


"Jangan di biarkan nanti bisa merembet kemana-mana, Sen. Onty ada obat bisa kamu makan sekarang meski belum sarapan," ucap Hujan sambil memberi pil yang di butuhkan keponakannya tersebut.


"Iya, Terima kasih, Onty. Nanti ku minum," balas Senja yang malas dengan rasa obat itu yang menurutnya semakin membuat ia mual.


Ketiga wanita itupun beranjak keluar dari kamar Senja untuk membiarkan ia mandi lebih dulu agar jauh lebih segar.


.


.


.


"Bawa saja ke dokter, De' kalau Senja masih mual, biar bisa di periksa. Takutnya dia Magh," titah Hujan yang merasa aneh saat melihat Senja sejak kemarin.


"Tunggu sampai siang, atau tunggu suaminya pulang, biar Pangeran yang bawa ke rumah sakit," jawab Mimih Cahaya yang serba salah karna Senja paling sulit di bawa ke sana.


Amma dan Hujan hanya bisa saling pandang, seolah mereka punya pikiran yang sama tapi masih mencoba untuk diam tak ingin salah tebak, karna takut ada hati yang kecewa jika hasilnya tak akurat, siapa lagi jika bukan Sang Tuan besar Rahardian.


"Dokter bisa bawa kemari jika Senja tak mau, De', biar Amma yang telepon nanti," timpal wanita baya itu.


Mimih cahaya hanya mengangguk dan akan. bicara sekali lagi dengan putrinya jika sudah selesai merapihkan diri. Tapi, belum juga wanita itu kembali ke kamar Senja, ia malah sudah lebih dulu menghampiri.


"Amma, pohon jeruk yang di belakang ada buahnya gak sih?" tanya Senja tiba-tiba.


"Pohon jeruk? jeruk yang mana?" tanya balik Amma karna dirumah itu banyak sekali tanaman.


"Jeruk beneran ih, Kayanya seger nih siang siang minum es jeruk peras," jawab Senja yang air liurnya hampir menetes saking tak kuasanya hanya sekedar membayangkan saja.


"Ada jeruk bali, jeruk nipis, jeruk kunci, jeruk limau, jeruk buah biasa, Sen," kata Hujan yang hafal dengan semua yang ada di rumah utama sebab mau tak mau gelar Nyonya besar Rahardian akan jatuh padanya kelak.


"Buah jeruk bisa aja, Onty. Aku mau dong."


"Di lihat dulu, kayanya masih ada deh, kemarin di bawa sama Ara kan??" tanya Hujan pada Ibu mertuanya yang di jawab anggukan kepala.


"Ini nih, aku mau ini," kata Senja bersorak senang di bawah pohon jeruk yang masih ada buahnya meski tak sebanyak kemarin.


"Nanti Amma suruh orang ambil dulu ya," ujarnya sambil mengedarkan pandangan lalu tak lama ia dua orang pria datang menghampiri.


"Tokonya ambil buah jeruk yang matang ya."


"Baik, Nyonya."


Senyum langsung mengembang di ujung bibir menantu Bramasta tersebut. Hanya karna jeruk ia bisa sesenang ini rupanya.


Bahkan saat mimihnya mengajak masuk saja di tolak nya mentah mentah karna ingin melihat sendiri jeruknya di petik.


"Segini, cukup belum, Nyonya?"


"Cukup, yang penting ada untuk Senja," jawab Amma Melisa.


Saat jeruk sudah di tangan, barulah mereka masuk dan langsung ke arah dapur bersih. Disana tentu tangan terampil Amma yang akan meracik buah jeruk menjadi minuman yang di inginkan oleh cucu perempuannya tersebut.


"Gak usah pakai gula, Amma," kata Senja yang langsung membuat Mimihnya menoleh.


"Asem loh, Sen."


"Enggak, cukup air perasan jeruk dan es batu aja, Mih."


"Kamu kan lagi gak enak perut, Sen," timpal Hujan yang curiganya kian menjadi.


"Enak."


"Atau mau tambah madu?" tawar Amma lagi.


Namun, Senja tetapi menggeleng kan kepalanya, ia hanya ingin yang asam dan dingin tak mau campuran apapun lagi di minuman yang sedang di buat oleh Amma untuknya tersebut.


"Coba dulu, manis tidak?" kata Amma saat satu gelas berukuran besar sudah di depannya.


Dengan senang hati Senja mencobanya, ekspresi yang ia berikan adalah ekspresi biasa dan itu membuat tiga orang di dekat Senja tak percaya.


"Asam loh ini," kata Hujan dan tebakannya itu di iyakan oleh Amma tapi tidak kata Senja.


"Ini enak, enak banget!"


.


.


.

__ADS_1


Pangeran yang sulit menghubungi istrinya menjadi tak tenang saat bekerja, ia kembali ke rumah utama saat jam makan siang. Padahal, jadwal meeting nya kini sedang padat dan banyak tapi semua itu di cancel hanya untuk tahu kondisi Senjanya.


"Sayang--," panggil Pangeran saat ia pelayanan memberi tahu jika Nona muda mereka ada di dapur bersih.


"Loh, kamu, kok?" tanya Senja yang heran saat melihat suaminya pulang di bukan waktu biasa.


"Aku tak bisa menghubungi mu dan itu membuat ku panik da khawatir, Sayang." tak perduli ada siapa di dekat mereka, Pangeran hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan sekarang.


Amma, Mimih dan Onty hanya senyum senyum saat mendengar apa yang di ucapkan Pangeran pada Senja. Cinta pria itu begitu nyata hingga terlihat dari sorot mata dan sikap yang sedang di berikan sekarang.


"Aku baik baik saja, aku disini sejak tadi dan ponselku di kemar, "jawabnnya merasa bersalah.


"Senja habis muntah muntah, ia mual katanya," timpal Hujan yang gemas.


"Benarkah?" tanya Pangeran sambil mengernyit kan dahi.


Dirasa tak bisa mengelak, Senja akhirnya mengangguk untuk membenarkan apa yang di katakan Onty nya barusan yang kelewat jujur.


"Sudah ku bilang, ayo kerumah sakit, Sen."


"Tapi ini sudah jauh lebih baik kok, kamu jangan khawatir.


" Kali ini tak ada penolakan, kamu harus segera ikut aku ke rumah sakit," tegas Pangeran yang sudah cukup mengalah di balik kata baik baik saja.


Senja yang di paksa lalu memicingkan mata kearah Onty Hujan dan Amma, kedua wanita itu sedang terkekeh karna senang melihat Senja kini tak bisa berkutik jika sedang bersama suaminya.


"Sayang aku---,"


"Jangan membantah, dan jangan bilang kamu takut dengan suntikan," potong Pangeran dengan tatapan curiga.


"Enak aja, mana mungkin aku takut dengan jarum sekecil itu, punya mu saja aku berani!"


.


.


.


Keduanya benar benar pergi ke rumah sakit untuk memeriksan keadaan Senja yang kata Onty Hujan habis muntah muntah pagi ini, dan yang lebih membuat Pangeran khawatir adalah istrinya sudah minum air perasan jeruk padahal jelas belum makan sama sekali.


"Kamu itu cari penyakit sendiri, Sayang."


"Iyakah? tapi aku gak lapar malah haus loh," jawab Senja yang tentunya membela diri.


Jika sudah menyangkut kesehatan dan keamanan Senja, Pangeran tentu bisa marah karna wanita itu adalah prioritasnya selama ini setelah orang tua, karna bagaimanapun Pangeran tetap milik Mommy nya.


"Jangan ngebantah terus, pokonya kalau dokter bilang gak apa apa, baru aku percaya," timpal Pangeran lagi.


Senja yang menurut dan tak mau berdebat tentu hanya menganggukkan kepala, ia bagai bocah yang sedang di marahi karna sudah berbuat kesalahan. Diam dan menunduk adalah hal yang sedang di lakukan oleh Senja saat ini selama perjalanan.


Hingga mereka sampai di rumah sakit, Pangeran yang belum membuat janji langsung ke bagian resepsionis. Disana ia di arahkan ke bagian umum lebih dulu sebab Pangeran hanya mrmbuat keluhan di bagian perut saja.


Tak menunggu terlalu lama, akhirnya pasangan suami istri itupun di panggil. Di dalam ruangan dokter mereka di sambut dengan sangat ramah dan sopan.


Tanya jawab pun terjadi antara dokter dan Senja, sedang kan Pangeran hanya menjadi pendengar yang baik, ini adalah pengalaman pertama-nya ke rumah sakit bersama Senja jika dengan Putri jangan ditanya, karna wanita sering mencari gara-gara dengan cara menyakiti dirinya sendiri.


"Kita periksa lebih dulu ya," kata Dokter sambil mempersilahkan Senja naik keatas brankar Pasien.


Dari yang di ceritakan Senja, ada satu kesimpulan yang buat dokter tapi ia tak ingin asal tebak jika belum melakukan pemeriksaan.


Tahap demi tahap sudah di lakukan tapi untuk hasil yang lebh jelas Pasangan tersebut di minta untuk ke ruang Dokter Obgyn di antar oleh salah satu perawat.


"Obgyn itu bukannya kandungan ya, Sayang?" tanya Pangeran sambil berbisik, meski ragu namun Senja akhirnya mengangguk juga.


"Mau ngapain?" tanya Pangeran lagi semakin penasaran.


"Mana ku tahu, coba aja nanti tanya sama dokternya, Ran. Aku mau di apain disana," jawab Senja yang sebenarnya takut.


Ceklek


"Selamat siang, Nona, Tuan."


"Siang, Dokter," jawab Senja dan Pangeran berbarengan.


Keduanya pun di persilahkan untuk duduk dan menunggu Dokter memeriksa laporan yang diberikan oleh dokter umum sebelumnya.


"Keluhannya hanya mual saja?" tanya dokter.


"Hem, iya, kadang begah pokonya tak nyaman, Dok." Senja tentu memberikan jawaban yang sama agar Dokter tak pusing saat menyimpulkan tentang sakitnya nanti.


"Baikkanlah, tensi darah bagus, semuanya Ok tapi menstruasiny gimana? apa bulan ini sudah datang?" tanya Dokter yang seperti menghentikan aliran darah Senja.


"Sayang, kenap?" tanya Pangeran.


.


.


.


Ya ampun, kenapa aku baru sadar kalau kamu gada liburnya sih, Ran!!!


\#\#\#\#\#\#\#\#


Alhamdulillah, tiga bab sebelumnya lolos setelah drama pengen banting HP terlewat 😝.. akhir bulan, banyak eror sistem sudah biasa ya, emang tiap nya juga begitu 🙄.. Like sama komennya yuk jangan kelewat.. Haturnuhun buat hari ini, sengaja di banyakin di panjangin soalnya besok mau libur ya 😇.. teteh rek mudik heula, takut di kutuk jadi anak durhakim ncan lebaran ka si Mamah 🤣..

__ADS_1


Jangan di tungguin, balik lagi hari selasa mulai Up Lintang, Shaka dan Sagara ya.. Senja sama XyRa udah lewat masa lubernya 😗.. mohon maaf kalau typo atau ada kesalahan apapun itu bentuknya karna yang sempurna cuma Gajah kesayangan ala ala dunia nupel 😋


__ADS_2