
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sampai di rumah, Pangeran langsung masuk kedalam kamarnya di lantai dua. Ia benar-benar mengabaikan Putri sejak masih di perjalanan pulang hingga tak ada obrolan sama sekali di antara mereka. Hatinya sakit dan pikirannya kacau hingga tak ingin ada kata yang keluar dari bibirnya untuk sekarang ini.
Sedangkan Putri yang di tinggalkan begitu saja masuk sendiri lalu menghampiri calon ibu mertuanya yang berada di dapur.
"Mom--," panggil Putri pelan.
"Loh, kalian sudah pulang? mana Pangeran?" tanpa Mommy Viana saat ia tak melihat anaknya.
"Udah duluan masuk, mungkin langsung ke kamar," jawab Putri sambil menarik salah satu kursi meja makan.
Entah apa yang terjadi, dari raut wajah calon mantunya jelas terlihat rasa kecewa tapi dari sikap Pangeran yang langsung masuk ke kamar tanpa menyapa itulah yang membuat bingung dan aneh.
"Kalian bertengkar?" tanya Mommy yang ikut duduk di samping Putri yang menunduk.
"Tidak, Mom."
"Lantas kenapa? bukankah kata Pangeran kalian tadi keluar untuk membeli Buket bunga?"
Putri hanya mengganguk, memang benar yang di katakan Mommy Viana jika mereka keluar hari ini untuk ke toko bunga, tapi sebelum kesana Pangeran minta untuk ke pusat jajan lebih dulu untuk menyegarkan tenggorokannya.
"Pangeran jarang sekali marah padamu, Put. Katakan, ada apa?" selidik Mommy Viana lagi.
"Entah, tapi yang ku tebak saat tadi adalah--," Putri menarik napas berat lalu di buangnya perlahan.
"Apa? ada dengan Pangeran?"
"Dia melihat Senja dengan pria lain, Mom," jawab Putri.
__ADS_1
Harusnya Putri senang bahkan merasa menang sekarang karna sudah berhasil membuat hati calon suaminya patah. Tapi itu semua tak ia rasakan sebab yang ada Putri seolah ikut terluka.
Mommy yang ikut diam seakan sedang sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Keduanya tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun dalam hitungan waktu beberapa menit.
"Biar Mommy yang bicara padanya," ucap wanita itu sembari bangun dari duduk, tak perduli di jawab atau tidak oleh menantunya.
Langkau Nyonya Bramasta itu cukup tergesa menaiki tangga menuju kamar Sang putra yang sepertinya sedang patah hati.
Cek lek
Pintu di buka oleh Mommy tanpa mengetuknya lebih dulu, dengan tangan kanan yang masih memegang kenop hati seorang ibu itupun mencelos sakit ketika melihat anak tunggalnya terisak sambil memeluk kakinya sendiri duduk di bawah samping ranjang.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Mommy sembari mengusap kepala putranya. Meski wajah Pangeran tenggelam di atas lutut tapi ia bisa menebak sebasah apa pipi anak kesayangannya.
"Sakit, Mom."
"Siapa yang menyakitimu sampai begini, hem?" tanya Mommy lagi yang pura-pura tak tahu padahal Putri sudah menceritakannya.
"Cemburu pada siapa? Putri ?"
Pangeran langsung menggeleng pelan dan satu nama wanita pun terucap dari bibirnya. Mommy hanya bisa tersenyum sambil menghapus kebasahan di wajah putranya.
"Senja tak pantas kamu cemburui, dia bukan milikmu, biarkan ia melakukan apapun yang ia suka dan itu bukan urusanmu termasuk ia pergi dengan pria lain. Ingat, kalian tak punya hubungan apapun," tegas Mommy yang malah membuat cairan bening di mata Pangeran semakin deras.
"Tapi aku mencintainya, Mom."
"Kalau ini baru urusanmu, cinta saja tak cukup untuk membuat seseorang tetap ada disisimu," jawab Ibu satu anak itu lagi.
Pangeran yang masih terisak terus di biarkan mengeluarkan apa yang ingin ia ucapkan, berharap sesak itu sedikit demi sedikit menghilang dari dadanya.
__ADS_1
"10 tahun aku kenal Senja, baru kali ini aku lihat dia dengan pria lain saling merangkul, Mom. Aku tahu dia tak pernah melakukan hal itu," ujarnya lagi.
"Jangan terlalu percaya diri, apa kamu pikir ia akan mengemis cinta mu? harusnya kamu bangga padanya sebab ia tak egois, ia Terima semua keputusan sepihakmu itu."
"Tapi, Mom--."
"Sudahlah, pernikahanmu sudah di depan mata. Untuk mundur pun sudah terlambat," kata Mommy yang langsung meninggalkan Pangeran, ia keluar dengan perasaan sama hancurnya sampai tak sadar jika ada Putri yang bersembunyi di dekat pintu.
Meski dengan langkah berat, wanita itu masuk untuk menggantikan posisi calon ibu mertuanya, ia raih bahu Pangeran agar kepalanya bisa bersandar di bahu yang nyatanya tak pernah sekuat yang orang lain kira.
"Menangislah, biar ku temani," ucap Putri.
10 tahun bersama, baru hari ini ia melihat Pangeran sungguh sangat menyedihkan seperti ini ia, apakah lukanya sangat hebat, hingga harus se berantakan seperti sekarang?
"Maaf, maafkan aku, Put," ucap lirih Pangeran yang tak punya tenaga untuk berdebat. Ia pasrah jika semua isi kamarnya akan jadi bahan pelampiasan Putri karna ia tak ia tak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya.
"Aku tak apa tolak dan di abaikan, asal tak pernah melihatnya dengan pria lain."
"Egois!" sahut Putri dengan nada ketus.
"Kita akan menikah dan bahagia, Senjapun harus merasakan hal yang sama. Jangan siksa diri kalian," tambahnya lagi sambil menahan geram.
"Dan juga kamu, kamu pun tersiksa selama ini?"
"Jangan pikirkan perasaanku, aku sudah terbiasa menahan cemburu, yang terpenting aku mencintaimu" jawab Putri.
.
.
__ADS_1
.
Tapi cinta itu harus timbal balik, tak harus selalu memberi tapi juga menerima...