Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

       🍂🍂 Part 07 🍂🍂


"Mampus gue!" bathin Shaquenna yang semakin kaget dengan perintah yang ia dengar dari Daren barusan.


" Goreng telor aja gue gak bisa! apa lagi nasi goreng? nasi di pake kecap kan?"


Panik?


Tentu saja, sebab ia tak tahu cara masaknya, hanya tahu tinggal kunyah dan habis itu kenyang. Itupun jika Mhiu Biru atau sepupunya Embun yang masak, karna hanya hanya buatan dua orang itu yang menurutnya paling enak.


"Minul--, Nul?" panggil Daren untuk pertama kalinya pada si pembantu jadi jadiannya itu.


"Minuuul---," teriak Daren yang kali ini panjang dan lama. Eh!!


"Hah? Tuan panggil siapa?" tanya Shaquenna yang malah celinguk kan tak jelas ke kiri dan kanan.


"Kamu, MINUL!" dengkus Daren yang mulai emosi.


 "Oh, iya, gue kan disini bukan Mbul, tapi Minul, Lupa weh!!"


Shaquenna yang malu, takut dan khawatir penyamarannya terungkap hanya bisa mengusap tengkuknya sendiri.


"Bisa bikinin saya nasi goreng gak?" tanya Daren.

__ADS_1


"Bisa, tapi Tuan jangan disini," jawabnya yang mulai bernegosiasi pada majikannya, padahal bekerja saja baru hitungan menit.


"Terus saya kemana?"


"Terserah Tuan, masuk kamar juga gak apa apa. Saya gak bisa kalau masak di liatin takut salah masukin bumbu," jawab Shaquenna mencari alasan yang ia harap bisa di Terima oleh Daren sang majikan tampan yang jadi incarannya.


"Hem, baiklah. Terserah padamu." Daren yang terlihat pasrah akhirnya bangun. Ia yang lapar dan belum membaik kesehatan badannya pun enggan berdebat. Lagi lagi pria itu memberi pengertian pada pembantu barunya tersebut.


Daren yang melangkah ke luar dapur di harapkan masuk dalam kamar, tapi semua sirna karna Daren ternyata berjalan ke ruang tengah.


"Huft, gimana ini?" Shaquenna yang pasrah hanya berdiri lesu memijit pelipisnya sendiri.


Ingat dengan nasi yang ia masak, Shaquenna pun mendekat ke arah mesin penanak nasi, entah apa isinya, jujur Shaquenna tak kuat untuk membukanya. Tapi, rasa penasaran membung rasa takut tersebut, ia pun ingin tahu beras yang ia masak jadi apa kali ini.


Tombol yang di tekan oleh Shaquenna langsung mengeluarkan uap saat terbuka, wangi harum cukup kuat menusuk indra penciumannya.


"Mateng gak ya?" gumamnya takut sambil mengambil sendok makan.


Tak ada yang aneh saat ia melihat bentuk si nasi yang ia ambil dari wadah. Namun, kedua matanya membulat besar saat sudah menyiapkannya ke mulut.


"Gila! ini nasi apa batu?"


Merasa tak cocok di lidahnya, tentu ia langsung memuntahkan apa yang sudah ia masak pertama kali dalam hidupnya tersebut.

__ADS_1


"Keras banget sih!" keluhnya lagi yang kesal dan bingung harus berbuat apa.


Dan, di tengah rasa putus asa nya itu, Daren kembali tanpa di sadari Shaquenna karna posisinya menghadap wastafel yang pasti itu membelakangi meja makan.


"Ambil piring, Nul," titan Daren yang suaranya itu membuat Shaquenna kaget.


Ia langsung membalikkan tubuhnya yang mendadak tegang luar biasa di tambah ekspresi wajah yang tak bisa ia sembunyikan.


"Ambil piring, Minuuuuuuul," ulang Daren saat pembantunya justru seperti patung.


"I--iya, Tuan," jawab Shaquenna yang langsung mencari tempat penyimpanan piring yang ada di rak bawah.


Shaquenna memberinya pada Daren dengan perasaan bingung karna pria tampan yang katanya sedang sakit itu mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik.


"Tuan, beli makanan? katanya mau saya buatkan nasi goreng?" tanya Shaquenna.


.


.


.


Lupakan, saya tak mau mati muda karna makan masakanmu!

__ADS_1


__ADS_2