Pangeran Senja

Pangeran Senja
Tangan dan mulut.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sembarangan!! siapa yang bilang? FITNAH tuh," seru Pangeran masih dengan tawa renyah yang membuat Senja semakin kesal.


"Jadi kamu sebenarnya masih perjaka atau tidak, Ran?!" tanya ulang Senja.


"Enggak, Sayang. Aku udah gak perjaka. Tapi bukan berarti perjaka nya aku di ambil oleh Putri atau perempuan lain sebelum kamu. Sumpah Demi Tuhan dan Orang tuaku, aku tak pernah tidur dengan siapa pun selain kamu," jelas Pangeran yang langsung menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya.


"Lalu?"


"Aku melakukannya sendiri, dengan tanganku di bantu sabun dan lotion," bisik Pangeran.


Senja yang tak paham hanya mengernyitkan dahi, dan Pangeran yang melihat itu langsung mencium sekilas bibir istrinya tersebut.


"Emang bisa sendiri?"


"Bisa dong, kaya yang kamu suka kamu lakuin, tapi bedanya ini dengan tanganku sendiri. Ingat ya, Tanganku Sendiri, bukan dengan mulutku, gak nyampe soalnya," jelasnya lagi yang baru di pahami oleh Senja.


"Jadi---,"


"Hem, omeli saja 5 jariku ini, mereka yang sudah memberimu bekas," jawab Pangeran sambil tertawa tak lupa juga memperlihatkan tangan kanannya.


"NDUUUUUUUUUUUT, kesel ah!"


Pangeran yang mendengar teriakan Senja tentu kaget, bisa bisanya ia meledek dengan panggilan keramat Daddynya.


"Hey, panggil apa tadi?"


"Ndut?? Ndut- Ndut- Ndut- Ndut!!!" balas Senja sambil menjulurkan lidahnya semakin jadi mengejek pria di depannya.


"Wah, cari gara gara, harus di kasih pelajaran ini sih!"


Deg..


Bukan Senja jika tak panik saat melihat suaminya sudah membuka baju lalu di lempar nya ke sembarang arah yang nyatanya jatuh ke lantai.


Tubuh putih mulus dan otot di bagian lengan dan perut kini jelas terpampang di depan mata Senja sampai ia menelan salivanya sendiri.

__ADS_1


"Mana yang Ndut, hah?" tanya Pangeran sambil meraih tangan Senja untuk ia tempelkan di dada bidangnya.


"Hehe, Ndutnya sekarang berubah jadi kuyus ya," kekeh Senja yang jantungnya berdebar hebat saat ini.


"Iyakah? atau ini yang Ndut?" tanya Pangeran lagi yang kini semakin menggoda dengan menurunkan tangan Senja ke bagian perutnya yang Sixpack.


Meski sudah sering melihat dan merasakan Senja tetap saja gemetaran karna tak ada cumbuan diantara mereka seperti biasa.


"Enggak, Sayang. Kalau Ndut itu satu dan besar alias buncit, kan itu ada banyak, satu dua tiga empat lima enam, ada enam kotak, Hahaha," jawab Senja semakin salah tingkah. Jantungnya sudah benar-benar seakan ingin melompat dari dalam tubuhnya


"Oh, kalau begitu, mungkin yang ini." Lagi dan lagi Pangeran menurun tangan Senja tepat ke Si Jambrong yang ternyata sudah mengeras di balik celana abu abu yang dikenakannya itu.


Dan Senja hanya bisa membuang pandangan karna ia sungguh sangat malu apalagi saat Pangeran mengeluarkannya.


"Ini hukumanmu, Sayang," ujar Pangeran dengan senyum penuh arti.


"Hukuman? aku mau di hukum apa dengan ini?" tanya Senja panik.


"Mudah kok, karna kamu mempermasalahkan dan meragukan tentang KEPERJAKAANKU, jadi aku akan menghukummu untuk melakukan bagaimana Perjaku bisa hilang dulu."


"Lakukan dengan TANGAN DAN MULUTMU!"


"Omegot!" pekik Senja yang tak percaya dengan hukuman yang di terimanya sekarang hanya karna satu pertanyaan yang di layangkan nya barusan.


"Kenapa? bukannya kamu pernah melakukannya, hem?" Pangeran melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya, dan bagai terhipnotis wanita itu diam saja tanpa melakukan perlawanan sedikit pun.


Dalam keadaan polos bak bayi baru lahir, kini Pangeran berbaring di tengah ranjang dengan dua tumpuk bantal sebagai penyangga kepalanya.


Ia begitu menikmati raut wajah Senja yang pastinya campur aduk saat ini.


"Ran--, aku."


"Ayo, dengan tanganmu dulu atau langsung dengan mulutmu, terserah," jawab Pangeran dengan santainya, ia tak sabar karna akan mendapat pelayanan luar biasa dari istrinya.


"Gak mau ah, mau kaya biasa aja," tolak Senja dengan nada protes bahkan ia sambil menarik satu bantal untuk menutupi tubuh telaNjangNya itu tapi kalah cepat dengan Pangeran yang justru malah melemparnya jauh jauh.


"Raaaan!"

__ADS_1


"Iya, Sayang. Ayo cepat di mulai, tunggu apa lagi?" godanya sembari melihat kearah Si Jambrong yang tegak lurus bagai tugu monas, hanya bedanya ia tak runcing melainkan tumpul.


"Harus ya? apa tak ada hukuman yang lain?" tanya Senja mulai ingin bernegosiasi.


"Tak ada, Sayang. Ini adalah hukuman dari ku untukmu karna sudah menyinggung dan meragukanku," jawab Pangeran yang bersikeras ingin di manjakan dengan tangan dan mulut.


Senja memang pernah melakukannya beberapa kali meski tidak dengan durasi yang lama karna itu adalah pemanis di menu pembuka agar lebih menggairahkan dan terangSaAang. Tapi itu ia lakukan tentu saat birahinya sudah terpancing bahkan tak sadar saat di sodorkan Si Jambrong.


Bukan seperti sekarang yang langsung di minta melakukannya tanpa sebuah pemanasan lebih dulu.


"Langsung nih? akunya gak di apa apain dulu?" tanya Senja dengan polosnya.


"Cieee yang ngarep di apa-apain sama aku, dan basah ya?" ledek Pangeran. Kedua mata Senja langsung membulat dengan wajah mirip kepiting rebus. Pastinya itu bukan jawaban yang ingin ia dengar sekarang.


"Eeh, gak gitu."


Merasa sudah sangat terpojok dan terus di paksa, Senja mau tak mau memengang Si daging tak bertulang yang tegak dan menjulang tinggi. Ia mainkan dengan ritme pelan hingga tak lama dari itu keluar lah deSahaAn nikmat dari Pangeran, apalagi di tambah dengan kedua matanya yang terpejam.


"Ganti dengan mulutmu, Sayang, Cepat!" mohon Pangeran yang tak kuat lagi menahan hantaman demi hantaman yang di lakukan Senja meski hanya dengan tangan lembutnya saja.


Dengan di bantu oleh Pangeran, ia naikkan rambut panjang terurai Senja agar memudahkan wanita itu menyesap habis Si Jambrong hingga ujung tenggorokannya.


Shitt..


ErAangAan dan ******* terus di lakukan oleh Pangeran, ia yang memberi hukuman nyatanya ia sendiri yang kalang kabut tak kuat menahannya karna tanpa di duga Senja mulai terpancing dengan hukuman yang sedang di jalani. Tangan dan mulutnya benar-benar bekerja sama dengan baik di bagian inti suaminya.


"Aduh, udah ah. Capek. Pegel," keluh Senja yang langsung melepaskan Si Jambrong dari mulutnya.


"Ish, dikit lagi, Sayang."


.


.


.


Males, terusin aja sama kamu sendiri...

__ADS_1


__ADS_2