
🍂🍂 Part 27 🍂🍂
Shaquenna RanJa BiantaRahardian Bramasta mau tak mau meminta izin libur hari ini, ia tak kuat lagi menahan rindu pada keluarganya di rumah apalagi pada Daddy Andra yang semalam sampai menangis sesegukan ketika meneleponnya.
"Hanya satu hari kan? berarti sore nanti pulang," kata Darren yang kaget dengan permintaan pembantu jadi jadiannya tersebut.
"Kok sore? itu bukan satu hari dong? aku pulang besok pagi," protes Shaquenna.
"Jawaaaaab terus kalau di bilangin, kamu itu cuma pembantu, Nuuuul. sekali kali nurut sama Tuan mu ini, susah apa?" omel Mama yang memang kebetulan ada di ruang makan.
"Mah--, Minul memang belum libur loh," ucap Darren yang menenangkan wanita paruh baya tersebut.
"Ya sudah, turuti saja. Sukur sukur gak usah pulang lagi sekalian!" cetus Mama sambil bangun dari duduknya.
Shaquenna yang berdiri dengan pandangan menunduk sudah tak kuasa lagi menahan geram, andai tak ada pria tampan incarannya mungkin Mama Darren sudah di anaknya gulat di dapur.
"Ya sudah, kamu bisa keluar hari ini, tapi boleh saya tahu kamu mau kemana?" tanya Darren yang malah khawatir sebab gadis itu mengatakan jika sebatang kara di kota besar ini.
"Hem, mau jalan jalan aja, bosen di sini, cari angin lah keluar," jawab Shaquenna yang tak mungkin bilang jika ia akan pulang ke kediaman mewah Bramasta.
"Memang kipas di kamarmu rusak?" kekeh Darren.
__ADS_1
"Tuaaaaaaaan!"
.
.
.
Shaquenna yang tak membawa apapun kecuali ponsel yang di sembunyikan di perut langsung keluar dari Unit Apartemen Darren dengan sangat tergesa. Ia yang sudah janjian dengan Embun meminta sepupunya itu menunggu di depan mini market sebab mobil mewahnya sudah di bawa pulang oleh Daddy Andra.
"Ta Buy mana sih?" gumam Shaquenna yang kesal karena kepanasan di pinggir jalan, belum lagi ia juga menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang berpapasan atau ada di dekatnya, semua itu pasti karna tompel di wajahnya.
"Mbul, cepet naik," teriak Embun dari dalam kereta besinya.
Shaquenna yang tahu jika itu adalah sang Ratu Rahardian buru buru membuka pintu bagian kiri.
Braaak.
"Mobil baru?" tanya Nona muda Bramasta.
"Iya, dong," kekeh Embun yang entah sudah berapa mobil yang gadis cantik itu miliki.
__ADS_1
"Mau main atau pulang?"
"Pulang dulu ih, aku mau mandi habis itu baru jalan jalan, di rumah utama ada siapa?" tanya Shaquenna.
"Gak ada, ntar kita lewat belakang aja," jawab Embun sambil terus fokus pada jalan di depannya.
Dua gadis pemegang tahta tertinggi di keluarga masing masing itu terus mengobrol dan bertukar cerita, ada gelak tawa yang tak bisa di tahan saat Shaquenna menceritakan bentuk dari Mama Darren yang seakan jadi musuh bubuyutannya.
"Waktumu tak lebih dari dua bulan loh, Mbul. Jangan tinggalkan kuliahmu demi Darren," pesan Embun, ia izinkan sepupunya itu untuk melakukan hal konyol seperti ini karna memang sedang libur semester kuliah.
"Iya, aku juga tahu, lagi pula Darren sudah sedikit jinak. Dia selalu membelaku di depan mamanya. Dan senyumnya itu loh, Ta Buuuuuy," kata Shaquenna dengan antusias.
"Kenapa senyumnya?" tanya Embun biasa saja, karna sebagai buaya betina pria adalah hal biasa untuknya.
.
.
.
Senyumnya manis banget, bikin aku gak sabar di ajak main kawin kawinan...
__ADS_1