Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

         🍂🍂 Part 08 🍂🍂


Di kediaman Bramasta, sang Tuan besar kini sedang melamun di teras samping rumah mewahnya tersebut. Semenjak sang kakak meninggal 10 tahun lalu, jadilah ia menempati bangunan tersebut saat ini meski harus berdebat hebat lebih dulu dengan Mommy Viana yang bersikeras tak ingin meninggal kan rumah peninggalan sang Ayah.


Tapi istri tetap lah istri, sudah kodratnya menurut pada sang suami selagi itu masih di jalur yang benar, lagi pula Daddy Andra masih menjanjikan untuk pulang ke sana sesekali jika Mommy Viana rindu dengan sosok orangtua, di karna kan Bunda pun telah tiada membawa cinta sejatinya untuk Ayah yang benar-benar hanya maut yang memisahkan.


"Dadd, kenapa? kok ngelamun? Ayam piaraan pak satpam mati loh kemarin karna kebanyakan ngelamun," ledek Pangeran sambil terkekeh.


Daddy yang mendengar hal tersebut pun hanya bisa menoleh dengan raut wajah tak sedap di pandang.


"Burung kepunyaan kang kebon juga kejang-kejang noh pas subuh gara gara kelakuanya gak jelas," balas Daddy Andra tak mau kalah.


Tak perduli putranya kini sudah sebesar apa, baginya pangeran tetap si Ndut kesayangan.


"Daddy mikirinnya apa? apa kangen sama Mbul?"

__ADS_1


Pria baya tersebut hanya bisa membuang napas kasar, andai Pangeran tahu jika anak perempuannya itu tak ada di rumah utama melainkan sedang ada di Apartemen seorang laki-laki pastilah ia akan kejang kejang.


Pangeran termasuk yang sangat posesif pada sang putri tunggal, tapi kali ini justru sedang lengah menjaga buah hatinya tersebut.


"Biasanya denger Mbul ngerengek, tapi ini dari pagi sepi. Dia lagi apa ya?" tanya Daddy Andra.


Ia sedang membayangkan cucu perempuannya itu kini mungkin sedang menyapu, dan tawa Daddy pun tak bisa di tahan mana kala khayalan nya justru semua akan masuk ke tong sampah.


"Si Daddy serem ih, ketawa sendiri," ujar Pangeran yang bergidik ngeri.


Daddy yang tak mau putranya itu curiga langsung menutup mulutnya.


"Masih mending ketawa, kalau kamu justru kayanya langsung pingsan di tempat tanpa nunggu kasur dulu, Ndut."


Sedangkan di Apartemen Daren, si pembantu jadi jadian itu kini sedang menyajikan makan untuk majikannya.

__ADS_1


Sepiring nasi goreng seafood kini sudah tersaji di atas piring untuk Daren siap di santap.


"Satu lagi itu ada punya mu," kata si Tuan Muda sambil melirik ke arah bungkusan.


"Iya, Tuan." Shaquenna mengambil bungkusan itu kemudian bingung sendiri harus berbuat apa, meski dalam hati ia terus berdoa agar Daren memintanya untuk duduk bersama di meja makan.


"Oh ya, kamarmu ada di dekat tempat jemur baju. Dari sana, bisa lurus saja," ucap Daren yang lupa satu hal tentang letak kamar pembantu tersebut.


"Iya, Tuan. saya pamit kesana dulu," jawab Shaquenna yang hanya di balas anggukan kepala, sepertinya Daren benar benar lapar kali ini, untungnya saja ia masih pinter di tengah rasa para penghuni perut yang sedang demo yaitu memesan makanan dari luar.


Shaquenna berjalan ke arah yang di tunjuk Daren dengan membawa bungkusan makanan dan juga plastik berisi baju gantinya selama di berubah wujud menjadi pembantu.


Ia yang langsung membuka pintu berwarna coklat langsung menelan salivanya kuat kuat saat melihat apa yang kini ada di depan matanya, apa lagi jika bukan kamar yang akan ia gunakan untuk istrahat.


Ya Tuhan, moga besok naik jabatan langsung jadi istri ya...

__ADS_1


__ADS_2