
🍂🍂 Part 50 🍂🍂
"Huaaaaaaaa.... pokonya Mbul mau jadi ORANG MISKIN!"
Teriakan dan jerit tangis ShaQuenna tepat di telinga Papa Pangeran tentu membuat pria itu buru buru menjauhkan ponselnya, ia yang saling tatap dengan sang Daddy mengangkat bahu saat merasa mendapat pertanyaan meski lewat sorot mata.
"Gak tahu," kata Pangeran sambil memberikan ponselnya yang di minta Daddy Andra.
"Mbul, kenapa, Sayang?" tanya sang Tuan besar pada cucu semata wayangnya itu.
"Pokonya Mbul jadi anak orang kayanya sampai detik ini aja," jawabanya masih merengek dan itu itu malah selalu menjadi hiburan tersendiri bagi keluarganya yang selalu memanjakan ShaQuenna sejak dalam kandungan sang Mama.
"Terus Mbulnya Daddy mau jadi anak siapa?"
"Anak papa sama mama lah," jawabnya yang terdengar sangat jengkel namun tetap menggemaskan bagi sang Tuan besar Bramasta yang mengurus si Mbul sejak bayi.
"Katanya gak mau jadi anak orang kaya? mama papamu itu udah kaya sebelum jadi embrio, Mbuuuuul," kekeh Daddy Andra.
"Ya udah, ikutan miskin juga, yook!"
__ADS_1
"Enak aja! lagian kamu kenapa sih? tiba-tiba pengen hal konyol begini, Sha?" tanya Papa Pangeran yang memang panggilan telepon dari anaknya itu loudspeaker hingga ia bisa mendengar juga secara langsung, jadi tak salah jika pria tampan dewasa itu kini sedang melayangkan Protesnya.
"Hem, Mbul-- katanya serem karna terlalu kaya!"
.
.
.
Usai mendengar pengakuan dari Darren saat di mobil, bukan rasa senang yang di rasakan oleh Tuan putri Bramasta, karna terlahir menjadi ahli waris dari dua keluarga nyatanya pria yang ia cintai justru menjauh darinya dengan alasan jika seorang ShaQuenna terlalu sempurna untuk di dekati.
Jadilah si pembantu tajir itu bisa menelepon papanya untuk melayangkan protes secara mendadak.
Ia yang telah menyudahi rajukannya pun keluar dari toilet sebuah Mall tempat yang di janjikan Darren untuk membeli baju salin mereka selama di luar kota.
"Kok lama?" tanya sang majikan yang dengan sangat kurang kerjaan menunggu di depan pintu masuk toilet wanita.
"Mules, Tuan," jawab ShaQuenna yang sengaja memegang perutnya sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah, kita ke toko baju perempuan lebih dulu," ajak Darren, jika majikan sungguhan tentu akan berjalan lebih dulu tapi yang di lakukan pria itu malah berjalan beriringan dengan pembantunya hingga di antara mereka tak lagi berjarak.
Di dalam toko baju khusus pakaian wanita yang tak jauh dari toilet, ShaQuenna di layani oleh satu orang pegawai yang menatapnya aneh. Perlakuan yang jauh berbeda jika ia menjadi ShaQuenna bukan si Minul seperti sekarang yang di pandang rendah karna tampilannya yang aneh.
"Cuma segitu?" tanya Dareen saat pembantu kembali membawa 4 stel baju dan celana.
"Iya, ini cukup, Tuan," jawabnya yang bukan pusing tentang baju melainkan alat make-up penunjang samarannya selama ini termasuk si tompel.
Darren langsung bangun dari duduknya di sebuah sofa yang memang di khususkan untuk menunggu. Ia menarik tangan Si minul menuju salah satu tempat yang tak di percaya oleh si pembantu jadi jadian, berbagai Dress cantik kini tengah ada di depan mereka.
"Tuan, untuk siapa lagi?" tanya ShaQuenna yang tak ingin terlalu percaya diri lebih dulu karna ia takut jika terhempas oleh angannya sendiri.
.
.
.
Untukmu, kita makan malam bersama nanti ya...
__ADS_1