
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
HILAL menuju HALAL, jangan di pikir dua insan yang saling mencinta itu tak paham dengan yang di ucapkan Nyonya Bramasta untuk Pangeran dan gadis kesayangan pria itu.
Senja yang mendengar hanya bisa menunduk tak tahu harus bersikap seperti apa karna jangan sampai ia salah tingkah di hadapan Pangeran yang duduk di sebelahnya.
"Wah, Halalin apa nih?" timpal Langit pura-pura tak paham.
Keluarga besar Biantara bukan tak tahu tentang masalah putri mereka dengan Pangeran tapi semua hanya bisa di serahkan pada Senja yang menjalani. Begitupun pada Pangeran yang hanya membuat pusing Daddy, Mommy dan Emak-emak online lainnya.
"Apa aja deh, Pih. Senja sama Pangeran di Halalin juga boleh," sahut sang istri yang langsung membuat putrinya kaget.
"Mih, calon suami orang nih, gak lucu ah bercandanya." Senja yang malu dan tak enak hati langsung bangun dan pergi.
Sikapnya yang di luar dugaan membuat Pangeran ikut bangun kemudian mengejar Senja. Padahal, orang tuanya memang sengaja melakukan hal tersebut agar keduanya bisa bicara berdua meski harus melalui drama kejar kejaran.
"Sen, tunggu!" panggil Pangeran yang langsung menarik tangan pemilik hatinya.
"Apa? aku mau pulang!"
"Maafin Mommy ku ya, dia cuma bercanda kok'" ujar Pangeran yang sama tak enak hatinya.
__ADS_1
Senja yang diam lalu mengangguk sedangkan kedua tangan mereka masih berpegangan tanpa sadar atau mungkin sengaja tak ingin melepaskan. Keduanya yang saling berdiri berhadapan akhirnya berjalan ke samping Resto yang ada sebuah gazebo kayu disana dekat air. mancur yang di bawahnya terdapat banyak ikan hias. Lampu taman yang menghiasi tempat itu memberi kesan romantis bagi siapapun yang duduk berdua berdampingan.
"Apa kabar?" tanya Pangeran memulai basa basi.
"Seperti yang kamu lihat, aku selalu baik baik saja," jawab Senja dengan pandangan lurus ke depan berbeda dengan Pangeran yang menunduk karna begitu banyak rasa berkecamuk dalam hatinya saat ini.
"Syukur lah, memang itu yang selalu ku harapkan darimu."
Keduanya kembali diam seolah tenggelam pada pikiran masing-masing, sebab bingung harus merangkai kata yang seperti apa lagi meski kenyataannya begitu banyak ingin di sampaikan termasuk rasa kecewa Senja.
"Oh, ya. Aku tunggu surat undangan pernikahanmu di rumah. Putri akan mengirimnya padaku," ucap Senja tiba-tiba dan itu berhasil membuat Pangeran menoleh karna kaget.
"Iya, kami tak sengaja bertemu dan makan bersama sambil mengobrol. Hem, mungkin lebih tepatnya dia yang banyak bercerita dan aku hanya sebagai pendengar saja," jawab Senja masih santai padahal dadanya sedang bergemuruh hebat.
Pangeran langsung menarik napas berat dan di buangnya kasar sembari mengusap wajahnya seskan pertanda betapa frustasinya ia saat ini.
Senja, rasa ini sungguh Ambigu sekali karna sampai sekarang aku masih ingin memilikimu. Namun nyatanya tak bisa, dan sampai sekarang kita masih di bawah tanda tanya akankah sebuah takdir jodoh berpihak pada kita?
Sebab ku merasa kamu sudah menunjukkan rasa tertarik mu padaku. Tapi aku justru malah bertahan di bawah hantaman rasa bersalah. Dan ku pikir aku bahagia saat memilih meninggalkanmu, nyatanya bahagia ku hanya padamu, meski sekedar duduk berdua denganmu.
"Boleh kah aku menyesali pertemuan kita setelah 7 tahun ini, Ran? pertemuan singkat namun nyatanya sangat melekat. Aku jatuh cinta dan terluka di waktu yang sama," ucap lirih Senja yang kini sudah menoleh kearah Pangeran yang terlihat begitu tertekan.
__ADS_1
"Dan bolehkah juga aku menyesali keputusanku yang memilih pergi 7 tahun lalu hanya karna alasan ingin melupakanmu, hem?" tanya balik Pangeran dengan suara berat dan parau.
Di sakiti seperti apapun oleh Putri ia tak perduli, asal bukan Senja yang melakukannya sebab ia selalu lemah di depan wanita itu.
"Baiklah, sesal itu tak ada gunanya sekarang. Berbahagialah dengan pasanganmu. Akan ku samakan doaku seperti doamu. Aku hanya ingin hidupmu bahagia dengan orang yang menjadi pilihanmu," ujar Senja.
"Aku tak memilih siapa pun. Aku hanya melanjutkan apa yang sudah terlanjur ku jalani," jawab Pangeran dengan sedikit penekanan.
Senja hanya tersenyum kecil. Ia paham posisi Pangeran saat ini karna mengakhiri sebuah hubungan tak semudah membalikkan telapak tangan, karna yang benar-benar berakhir itu adalah yang sama sama sepakat ingin selesai bukan hanya di salah satu pihak saja.
"Sen, maukah berjanji satu hal padaku?" pinta Pangeran.
"Apa yang bisa ku lakukan?"
.
.
.
Terimalah pria yang datang melamarmu, karna setelah ini tak akan ada sapa lagi di antara kita...
__ADS_1