Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

        🍂🍂 Part 19 🍂🍂


"Gimana? manis gak?" tanya Mama.


"Iya, Manis. Buka satu lagi ya, Nyah," jawab Shaquenna yang malah justru ia lah yang duduk di kursi meja makan sedang kan Mama Darren yang berdiri sambil membuka buah mangga.


Satu persatu irisan buah berwarna kuning di dalamnya itu kini sudah banyak di atas piring kosong, rasanya seperti madu saking manisnya.


"Ambil lagi sana, satu saja ya, sisakan untuk Darren," titah wanita itu, tapi...


Deg..


Shaquenna yang baru mau bangun di pukul pelan punggung tangannya saat Mama sadar dengan kelakuan tak sopan pembantu putranya tersebut.


"Kenapa saya yang ngupas terus kamu yang makan sih, Menul?" tanya Mama sembari mengoceh.


"Kan nyonya yang mau ajarin saya, trus saya suruh cobain," sahut Shaquenna yang memang benar begitu adanya.


"Ya tapi bukan begitu caranya, Nul!"


Mama yang sudah mengeluarkan asap di hidungnya untung ingat dengan pesan sang putra, jika yang waras harus mengalah demi menjaga tekanan darah tingginya.

__ADS_1


"Sekarang kamu berdiri di pojokan, angkat satu kaki dan jewer telinga sendiri!" titah Mama lagi yang ingin memberi hukuman pada si pembantu jadi jadian.


Shaquenna yang kaget dengan perintah itu mau tak mau menuruti juga, ia pasrah dan akhirnya bangun untuk berdiri sesuai apa yang di inginkan calon Mertuanya itu.


Di pojok, ia yang masih tampil dengan wujud penyamarannya mengangkat satu kaki sambil menarik telinganya sendiri.


Baru 15 menit ia melakukannya, ponsel yang selalu ia selipkan di perut itupun bergetar kecil namun tetap membuat Shaquenna geli sendiri, untung saja Mama Darren sudah pergi dan pindah ke ruang tengah sembari membawa satu piring buah mangga yang ia kupas sendiri barusan.


Dirasa aman untuk mengangkat telepon, ia pun segera menggeser icon hijau di layar benda pipih yang kini sedang di pegangnya itu.


"Ta Buy, ada apa ya?" gumam Shaquenna sambil berpikir keras dalam otaknya.


"Ya ampun, Buuuuul, lama banget sih gak di jawab jawab, kamu tuh lagi apa? cuci piring, cuci baju apa lagi ngepel, hah?" oceh Embun yang tak sabar ingin berghibah ria dengan nona muda Bramasta.


"Lagi jewer kuping sendiri sambil angkat satu kaki, hiks," jawabnya pura pura menangis sedih.


"Aku liat Darren lagi makan malam sama Bella, kamu inget gak?"


Shaquenna pun diam sesaat, otaknya kembali berpikir tentang Bella yang di maksud Embun, ia tahu dan sering mendengar nama itu di sebut Darren dan mamanya tapi Shaquenna tak punya pikiran jika Bella yang di temui pria itu malam ini justeru adalah kenalannya, karna jika untuk berteman sepertinya tidak sama sekali.


"Iya, aku inget," jawab Shaquenna yang hatinya bukan lagi patah tapi terpotek potek hancur

__ADS_1


"Kamu tahu pastinya?" tanya Embun yang ikut sedih, andai mereka bersama sudah di pastikan adik sepupunya itu sudah mengelap air mata di bajunya.


"Aku tahu, Darren jahat dan mamanya jauh lebih jahat."


"Mau pulang aja? risegn gak apa apa kok'," saran Embun yang tak tega karna selalu menjadi tempat curhat dari si Mbul.


"Gak ah," tolak Shaquenna sembari menghapus cairan bening yang menggenang di ujung matanya.


"Kenapa? apa karna belum bisa dapetin hati Darren? gak segampang itu, Mbul."


"Bukan! bukan itu," sahur Shaquenna lagi.


"Ya terus apa?"


.


.


.


Tanggung, belum GAJIAN...

__ADS_1


__ADS_2