Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

      🍂🍂🍂 part 14 🍂🍂🍂


Shaquenna yang ada di dalam kamarnya bukan tak mendengar saat ada yang teriak, hanya saja ia tak acuh selagi bukan ia di panggil. Gadis cantik itu selalu saja lupa dengan nama samaran nya jika sedang berada di Unit Apartemen Darren.


Tapi, jangankan Minul, ada yang memanggil dengan sebutan Shaquenna saja ia jarang menoleh. Yang ia tahu namanya adalah ShaSha dan Mbul.


"Menul!" panggil Mama Darren yang saking kesalnya sampai datang ke kamar pembantu.


Shaquenna yang mengernyit kan dahi tak lama langsung bangun, untuk saja posisinya hanya duduk bersandar di ranjang sambil memijit kakinya yang pegal, bukan sedang memainkan ponsel mahalnya yang pasti nanti akan membuat Mama Darren curiga.


"Minul, Nyonya! jangan ganti ganti, nanti saya pusing, " protes Shaquenna kesal.


"Sama saja! bereskan kamar untuk saya menginap, dan siapkan air hangat. Saya mau mandi," titah wanita itu.


"Iya, Nyonya," jawab Shaquenna yang akhirnya berjalan di belakang Mama Darren menuju salah satu kamar yang akan ia tempati malam ini.


Masuk kedalam ruang istirahat tersebut, tak banyak yang di lakukan oleh Shaquenna kecuali memasang Sprei baru di kasur dan bantal, mengelap meja dan juga cermin dengan lap kain juga cairan khusus.


"Ish, padahal aku sama Mama juga Mommy gak pernah galak sama ART tapi kok aku di galakin ya," protesnya dan mulai membhatin dalam hati.


Namun, Shaquenna tetap melanjutkan semua pekerjaannya itu hingga selesai karna tak mau di pecat oleh Darren.

__ADS_1


Dan setelah semua di bersihkan, Shaquenna menuju dapur lagi mencuci dua gelas kotor bekas majikan dan mamanya.


"Untung bisa kalau ini, asal jangan suruh Mbul masak aja, bisa pingsan di depan kompor," kekehnya yang selama ini taunya tinggal makan dan kenyang.


.


.


.


Esoknya paginya, Shaquenna yang belum juga keluar dari kamar tentu di datangi oleh mama Darren, meski dapur terlihat bersih tapi belum tersedia apa pun di atas meja makan untuk sarapan.


"Menuuuuuuul," panggil Mama sambil menggedor pintu kamar pembantu.


"Kamu baru bangun? ini jam berapa hah?" omel Mama sambil berdecak pinggang siap meluapkan emosinya.


"Jam 7.15 , Nonya," jawab Shaquenna sambil melirik ke arah jam kecil berbentuk kotak yang menempel di dinding.


"Sesiang ini, kamu masih tidur sedangkan majikan mu sudah siap ke kantor!"


Darren yang untungnya datang langsung menarik mamanya masuk ke dalam, ia yang tak suka ribut ribut apalagi di pagi hari makanya memilih hidup mandiri.

__ADS_1


"Apa apaan sih, kamu?" tanya Mama tak Terima.


"Udahlah, Mah. Mama tahu kan Darren tuh pusing kalau Mama ngoceh terus. Nanti Darren bisa sarapan di kantor, Darren juga akan pesan makanan untuk Mama," ucapnya saat ibu dan anak itu sudah duduk bersama di meja makan.


Terbiasa sendiri juga kadang membuat Darren lupa dengan adanya pembantu.


Tapi, ia yang memang sejak awal tak butuh itu tentu tak mempermasalahkan nya.


"Kalian kemarin sudah beli bahan makanan kan? harusnya dia bangun untuk siapkan sarapan untukmu," oceh Mama lagi.


"Darren cuma suruh Minul bersih bersih, Mah. Kalau pun mau masak, biar saja untuk nya sendiri," jelas Darren yang tak ingin semua ini di besar besarkan.


"Gak bisa! Mama harus kasih pelajaran untuk pembantu mu itu, enak saja mau numpang hidup disini!"


Mama yang sudah bangun dari duduk dan berjalan dua langkah berhenti saat ada Shaquenna yang sudah keluar dari kamarnya dan sudah sama-sama ada di dapur.


"Bagus kamu ada disini," ucap Mama dengan tangan melipat di dada.


.


.

__ADS_1


.


Iya, saya bikin susu, Nyonya mau??


__ADS_2